Presentasi

PENENTUAN PARTIKULAT ISOKINETIK

Metode isokinetik merupakan fondasi penting dalam pengukuran kadar partikulat dari sumber emisi tidak bergerak seperti cerobong industri. Teknik pengambilan sampel ini memastikan kecepatan aliran gas dalam cerobong sama dengan kecepatan aliran gas yang masuk ke dalam nozzle alat sampling, sehingga menghasilkan pengukuran yang akurat dan representatif. Dasar hukum pelaksanaan metode ini di Indonesia sangat kuat, mencakup KEPKA BAPEDAL No. 205 Tahun 1996, berbagai Peraturan Menteri LHK, standar US EPA Method 1 s/d 5, dan serangkaian SNI 19-7117.13:2009 hingga SNI 19-7117.17:2009. Sasaran pengujian ini meliputi berbagai jenis cerobong, termasuk cerobong genset (> 570 KVA), boiler, insinerator, dust collector, furnace, krematorium, scrubber, fluid catalytic cracking unit, sulfur plan, dan turbin gas. Pemahaman mendalam tentang prinsip isokinetik, yaitu kesamaan kecepatan (vs = vn), krusial untuk menghindari kesalahan pengukuran akibat kondisi under atau over isokinetic.

Persiapan pengoperasian metode isokinetik melibatkan serangkaian langkah detail, termasuk penyiapan lembar data sesuai SNI, memastikan kompetensi personel melalui sertifikasi pelatihan, dan kalibrasi berbagai peralatan penting seperti dry gas meter, termometer, barometer, neraca analitik, jangka sorong, manometer, dan gas analyzer. Selain itu, persiapan peralatan pendukung dan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap juga merupakan keharusan. Peralatan utama dalam pengujian ini meliputi nozzle (stainless atau kuarsa), batang probe, tabung pitot tipe-s, filter holder, sistem pemanas filter, ice bath, dry gas meter, barometer, pompa vakum, botol penjerap (impinger) dan berbagai peralatan pendukung lainnya. Bahan-bahan seperti filter (micro fiberglass atau quartz), silika gel, air suling, es batu, dan aseton juga harus dipersiapkan.

Pelaksanaan pengujian isokinetik mengacu pada lima aplikasi metode sampling US EPA (Method 1 hingga 5), yang meliputi penentuan titik sampling, pengukuran laju alir, analisis gas, penentuan kadar air, dan penentuan cemaran partikulat. Keberhasilan pengujian ini sangat dipengaruhi oleh kondisi cerobong, di mana tinggi dan diameter yang memadai, kecepatan aliran gas yang optimal (> 20 m/s), serta keberadaan lubang pengambilan sampel yang sesuai standar (2D dari atas dan 8D dari belokan) sangat dianjurkan. Meskipun demikian, realitas di lapangan seringkali menunjukkan kondisi cerobong yang tidak ideal, sehingga dukungan dan kesadaran industri untuk memenuhi persyaratan standar sangat diperlukan.

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO