Berita

Skandal Karbon Terbongkar: Negara Besar Diduga Manipulasi Laporan Serapan Hutan untuk Tutupi Emisi

Sebuah laporan dari lembaga penelitian Climate Analytics mengungkap dugaan manipulasi data serapan karbon oleh sejumlah negara besar untuk memenuhi komitmen iklim global. Laporan yang dirilis menuduh bahwa celah regulasi internasional dimanfaatkan untuk memperbesar-besarkan kemampuan hutan menyerap karbon dioksida (CO₂) , sehingga mengaburkan kenyataan bahwa emisi fosil masih terus melonjak.

Bagaimana Manipulasi Terjadi?

Hutan, lahan basah, dan tanah berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang menyerap sebagian emisi GRK dari aktivitas manusia. Namun, metode penghitungan serapan karbon ini rentan dimanipulasi. Laporan menyebut, banyak negara menggunakan asumsi optimistis —misalnya, mengabaikan dampak kebakaran hutan atau degradasi lahan—sehingga angka penyerapan yang dilaporkan jauh lebih tinggi daripada realitasnya.

Akibatnya, beberapa negara berhasil “menambal” neraca karbon nasional mereka tanpa perlu mengurangi emisi bahan bakar fosil secara signifikan. Praktik ini memungkinkan mereka tampil sebagai “pahlawan iklim” di panggung global, sementara transisi energi bersih terus ditunda.


Celakanya Regulasi Lemah di Perjanjian Paris

Perjanjian Paris 2015 memberi fleksibilitas bagi setiap negara untuk menyusun estimasi serapan karbon sendiri. Sayangnya, tidak ada standar ketat untuk memvalidasi asumsi-asumsi teknis, seperti laju pertumbuhan pohon atau risiko bencana iklim terhadap hutan.

Claudio Forner, salah satu penulis laporan, mengkritik keras: “Ketiadaan aturan jelas ini menciptakan celah yang dieksploitasi negara-negara untuk menggelembungkan pencapaian iklim mereka. Ini bukan sekadar kurang akurat—ini adalah penghalang nyata bagi aksi iklim ambisius.”

Dampaknya, pengurangan emisi fosil yang seharusnya prioritas justru terpinggirkan . Padahal, menurut laporan, ketidakpastian dalam data serapan karbon bisa mencapai 3 miliar ton CO₂ per tahun —setara dengan total emisi tahunan Uni Eropa .


Bahaya: Mengaburkan Krisis yang Semakin Parah

Para ilmuwan memperingatkan, hutan semakin kehilangan kemampuan menyerap karbon akibat perubahan iklim itu sendiri. Kebakaran hutan yang lebih sering, kekeringan, dan penyakit tanaman membuat banyak ekosistem karbon menjadi sumber emisi daripada penyerap .

Namun, beberapa negara tetap mempertahankan proyeksi optimis dalam dokumen iklim mereka, seperti Nationally Determined Contributions (NDC). Hal ini menciptakan ilusi progres yang mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendesak mengurangi batu bara, minyak, dan gas.

“Ini seperti mencuci uang iklim. Mereka mengandalkan hutan sebagai ‘jalan pintas’ untuk menghindari reformasi sistemik,” tegas Forner.


Dampak Global: Ancaman bagi Target 1,5°C

Manipulasi data ini mengancam tujuan Perjanjian Paris untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 1,5–2°C . Jika negara terus mengandalkan serapan karbon semu, dunia akan gagal mengurangi emisi fosil secepat yang dibutuhkan.

Sementara itu, negara-negara berkembang yang paling rentan terhadap dampak iklim—seperti pulau-pulau kecil dan daerah pesisir—terpaksa membayar harga atas kebijakan iklim yang tidak jujur.


Solusi: Transparansi dan Regulasi Ketat

Climate Analytics menyerukan reformasi mendesak dalam aturan internasional. Standar penghitungan serapan karbon harus lebih transparan, diverifikasi independen, dan mencakup risiko iklim jangka panjang . Tanpa itu, ambisi iklim global akan terus tertunda.

“Kita tidak punya waktu untuk ilusi. Aksi iklim harus didasarkan pada fakta, bukan angka yang dimanipulasi,” kata Forner.

Sumber: Kompas.com .

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO