Berita

Pemprov Sumut Optimistis Geopark Kaldera Toba Dapat Kartu Hijau dari UNESCO

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) menyatakan optimisme tinggi bahwa kawasan Geopark Kaldera Toba akan mendapatkan “kartu hijau” dalam proses revalidasi status UNESCO Global Geopark (UGGp) yang dijadwalkan berlangsung pada 21–25 Juli 2025.

Optimisme ini disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, Togap Simangunsong, yang menyebut bahwa hampir seluruh rekomendasi dari UNESCO telah dipenuhi, dan kini hanya tinggal melakukan penyempurnaan terhadap hal-hal kecil sebelum proses penilaian resmi dimulai.

Rekomendasi sudah tuntas, tinggal persiapan hal-hal kecil yang perlu diperhatikan. Jangan sampai ada hal kecil yang tertinggal,” ujar Togap saat memberikan keterangan pers di Medan, Kamis (17/7/2025).

Revalidasi Status: Dari Kartu Kuning Menuju Kartu Hijau

Geopark Kaldera Toba, yang secara resmi diakui sebagai UNESCO Global Geopark pada Sidang ke-209 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris pada 2 Juli 2020, sebelumnya mendapatkan “kartu kuning” dalam rapat evaluasi geopark dunia yang digelar di Maroko pada 4–5 September 2023. Kartu kuning merupakan peringatan formal dari UNESCO, yang menandakan bahwa pengelolaan kawasan belum memenuhi sejumlah kriteria yang telah ditetapkan.

Geopark Kaldera Toba tidak sendirian. Dalam rapat tersebut, taman bumi lainnya juga mendapatkan status serupa, termasuk Gua Zhijindong di Tiongkok, Taman Nasional Regional Luberon di Prancis, Madonie di Italia, dan Colca y Volcanes de Andagua di Peru.

Kartu kuning diberikan sebagai peringatan dua tahun kepada badan pengelola untuk melakukan perbaikan sebelum UNESCO melakukan revalidasi atau peninjauan ulang terhadap status kawasan sebagai geopark global.

Empat Rekomendasi Penting dari UNESCO Sudah Dipenuhi

Azizul Kholis, General Manager Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark (BP TCUGGp), mengungkapkan bahwa pihaknya telah bekerja keras memenuhi empat rekomendasi utama dari UNESCO, yaitu:

  1. Interpretasi Warisan Geologi
    Meningkatkan kualitas interpretasi geosite agar nilai ilmiah dan sejarah geologi dapat dipahami oleh masyarakat dan wisatawan.
  2. Pelestarian Warisan Alam dan Budaya (Tangibel & Intangibel)
    Termasuk penguatan data warisan budaya lokal, pengakuan warisan tak benda (seperti tradisi dan cerita rakyat), serta harmonisasi pelestarian alam dengan kearifan lokal.
  3. Visibilitas dan Kemitraan
    Penguatan citra kawasan melalui media, penyediaan fasilitas informasi di geosite, dan keterlibatan aktif mitra lokal seperti UMKM, akademisi, dan media.
  4. Pengembangan Jejaring dan Pelatihan
    Termasuk pengembangan SDM melalui pelatihan, penguatan relasi internasional antar geopark dunia, dan pertukaran pengetahuan antar komunitas pengelola geopark.

Hampir semua rekomendasi UNESCO telah kita penuhi. Ini semua berkat sinergi dan kerja keras seluruh stakeholder, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, hingga pelaku usaha pariwisata,” kata Azizul dengan penuh harap.

Pra-Revalidasi Sudah Dilakukan, Tinggal Finalisasi

Pada 11–13 Juli 2025, salah satu asesor UNESCO, Soo Jae Lee, telah melakukan pra-revalidasi dengan meninjau langsung sejumlah geosite unggulan di kawasan Kaldera Toba. Kunjungan ini merupakan bagian dari proses asesmen menjelang revalidasi resmi.

Kunjungan lapangan tersebut menilai kesiapan geosite secara fisik dan non-fisik, termasuk kebersihan, fasilitas informasi, keterlibatan masyarakat lokal, serta integrasi aspek budaya dan edukasi dalam penyajian geowisata.

Menurut Togap Simangunsong, pengakuan dari UNESCO bukan hanya sebuah prestasi simbolik, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Pengakuan dari UNESCO merupakan suatu kebanggaan besar. Tapi ini juga tanggung jawab besar. Setelah nanti mendapat kartu hijau, kita harus bersama-sama menjaga Danau Toba dan seluruh geosite-nya, agar tetap bersih dan lestari,” tutur Togap.

Ia juga mengimbau pemerintah kabupaten yang berada di kawasan Danau Toba untuk lebih aktif dalam menjaga dan mengelola kawasan warisan ini secara berkelanjutan.

Kaldera Toba: Warisan Geologi Supervolcano yang Mendunia

Kaldera Toba merupakan salah satu kaldera vulkanik terbesar di dunia yang terbentuk akibat letusan supervolcano sekitar 74.000 tahun yang lalu. Letusan ini diyakini merupakan salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah geologi bumi, dengan dampak global yang mempengaruhi iklim planet.

Kini, Kaldera Toba telah menjadi ikon pariwisata, penelitian, dan konservasi lingkungan. Dengan luas mencapai lebih dari 1.100 km², kawasan ini mencakup berbagai geosite menarik seperti Pulau Samosir, Bukit Holbung, Sibandang, Sipinsur, Pusuk Buhit, dan Bakkara.

Sejak ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark, kawasan ini telah menjadi bagian dari jejaring geopark dunia, membuka peluang untuk pertukaran pengetahuan, promosi pariwisata internasional, serta penguatan kapasitas masyarakat lokal dalam menjaga warisan geologi dan budaya.

Sinergi Lintas Sektor: Kunci Menuju Kartu Hijau

Pemprov Sumut, melalui Peraturan Gubernur Nomor 48 Tahun 2020, telah membentuk Badan Pengelola Toba Caldera UGGp sebagai lembaga resmi yang bertanggung jawab atas pengelolaan geopark. Lembaga ini bersinergi dengan berbagai stakeholder, mulai dari pemerintah kabupaten, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, KLHK, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan pelaku wisata.

Dengan kerja sama lintas sektor dan komitmen kolektif, pemerintah optimistis bahwa Geopark Kaldera Toba akan berhasil mendapatkan kartu hijau dari UNESCO, yang berarti statusnya sebagai geopark global dapat dipertahankan untuk empat tahun ke depan.


Sumber berita:
https://www.antaranews.com/berita/4974197/pemprov-sumut-optimis-geopark-kaldera-toba-dapat-kartu-hijau-unesco

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO