Menteri LH Kritik Ekspansi Sawit 17 Juta Hektar: Biodiversitas Terancam

Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyoroti dampak serius ekspansi perkebunan kelapa sawit yang mencapai 17 juta hektar di Indonesia terhadap hilangnya keanekaragaman hayati.
“Dari 17 juta hektar, kita belum mendapatkan manfaat apapun dari kehilangan biodiversity kita,” kata Hanif dalam konferensi pers di Jakarta.
Riau Jadi Sorotan
Provinsi Riau menjadi salah satu contoh nyata dampak ekspansi sawit. Dari total 8 juta hektar daratan di Riau, 4 juta hektar kini berubah menjadi kebun sawit. Akibatnya, habitat satwa liar seperti gajah, orangutan, dan harimau semakin tergerus.
“Ke mana akan lari gajah? Ke mana akan lari orang utan? Ke mana akan lari harimau di sana?” tutur Hanif.
Masalah yang Belum Tuntas
Hanif menilai permasalahan ini belum ditangani secara komprehensif. Padahal, perlindungan keanekaragaman hayati merupakan bagian penting dalam menjaga ekosistem. Ia menekankan urgensi penerapan Indonesian Biodiversity Strategic and Action Plan untuk memitigasi dampak negatif ekspansi sawit.
Solusi dan Harapan
Menurut Hanif, kebijakan strategis berbasis riset, inovasi, serta keterlibatan industri sangat diperlukan. Ia berharap upaya ini mampu:
- Menghentikan laju deforestasi dan degradasi habitat.
- Memastikan kelestarian satwa liar.
- Mewujudkan perkebunan sawit berkelanjutan.
📌 Baca selengkapnya di Kompas.com: Klik di sini
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




