Berita

Sungai Citarum: Tantangan Besar di Balik Gelar Sungai Terkotor Dunia

Sungai Citarum, salah satu sungai terpenting di Indonesia, kembali menjadi sorotan akibat masalah sampah yang tak kunjung usai. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti kondisi memprihatinkan ini dan memerintahkan Kepala PSDA Provinsi Jabar untuk menurunkan empat unit kapal ponton guna membersihkan tumpukan sampah di sungai tersebut. Perintah ini dikeluarkan setelah Oxbow Cicukang, Mekarrahayu, Margaasih, Kabupaten Bandung, kembali dipenuhi sampah pada Rabu (26/2/2025), meski sebelumnya sempat dibersihkan.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Mochammad Dian Al Ma’ruf, mengungkapkan bahwa masalah ini bukanlah hal baru. Awal tahun 2025, Sungai Citarum sempat dibersihkan secara intensif dari tanggal 25 Januari hingga 2 Februari. Namun, beberapa hari kemudian, tumpukan sampah kembali muncul, menutupi permukaan sungai. Bahkan, di beberapa lokasi, permukaan air hampir tidak terlihat karena tertutup rapat oleh sampah plastik, limbah rumah tangga, sisa makanan, hingga eceng gondok.

Sungai Citarum dalam Sorotan Global Masalah pencemaran Sungai Citarum telah mencapai tingkat global. Menurut Badan Pembangunan PBB (UNDP) Indonesia, Sungai Citarum termasuk dalam daftar 10 sungai paling tercemar di dunia. Ironisnya, sungai ini merupakan sumber utama air minum bagi kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan Tangerang. Selain itu, cemaran di sungai ini juga berdampak langsung pada masyarakat sekitar, yang kesulitan mendapatkan air bersih dan hidup di lingkungan yang tidak sehat.

Upaya Penanganan yang Masih Berlanjut Penanganan Sungai Citarum sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), pemerintah meluncurkan program Citarum Harum pada tahun 2018. Program ini diluncurkan setelah Jokowi meneken Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Tujuan utamanya adalah menjadikan Sungai Citarum sebagai sungai bersih dalam waktu tujuh tahun melalui rehabilitasi dan revitalisasi DAS secara sinergis antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan pemerintah daerah kabupaten/kota yang dilewati sungai tersebut.

Namun, meski upaya penanganan terus dilakukan, tantangan masih sangat besar. Sampah yang berasal dari limbah rumah tangga, industri, serta kurangnya kesadaran masyarakat menjadi faktor utama yang memperparah kondisi sungai ini. Program-program kolaboratif seperti kerja sama antara Indonesia dan Australia dalam pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular pun terus digalakkan untuk mengatasi masalah ini.

Harapan untuk Masa Depan Keberhasilan program Citarum Harum sangat bergantung pada partisipasi aktif semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat. Kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan sungai harus terus ditingkatkan agar generasi mendatang dapat menikmati manfaat Sungai Citarum sebagai sumber kehidupan, bukan sebagai simbol pencemaran lingkungan.

Sumber: Citarum: Salah Satu Sungai Terkotor Dunia dan Upaya Penanganannya

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO