Ambisi RI Bangun Perkotaan Berdaya Saing Global dan Berkelanjutan di Tengah Krisis Iklim

Indonesia dan negara-negara di dunia tengah menghadapi beragam tantangan kompleks menuju perkotaan yang berkelanjutan. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa tantangan ini kian berat di tengah peningkatan populasi dan keterbatasan sumber daya alam.
Tantangan: Bencana, Iklim, dan Urbanisasi
“Bumi yang memanas dan krisis iklim terjadi dengan berbagai dampak, termasuk bencana yang mengintai setiap saat. Apalagi, Indonesia berada di ring of fire. Artinya, kita berhadapan dengan bencana alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, dan tsunami yang harus kita persiapkan setiap saat,” ujar AHY, dikutip Selasa (7/10/2025).
Dia menambahkan, kawasan perkotaan menjadi titik pertemuan berbagai risiko, seperti krisis perubahan iklim, bencana alam, kesenjangan, dan kelangkaan sumber daya. Banjir, kekeringan, dan panas ekstrem semakin memengaruhi kesehatan, keselamatan, dan produktivitas masyarakat.
Di sisi lain, kota-kota di Indonesia terus tumbuh pesat seiring dengan arus urbanisasi. Dengan mayoritas penduduk tinggal di wilayah perkotaan, konvergensi antara urbanisasi yang cepat, tekanan iklim, dan risiko bencana telah membawa Indonesia pada babak baru transformasi.
Solusi: Integrasi Ketahanan, TOD, dan Pendekatan Terpadu
Menghadapi hal ini, AHY menekankan pentingnya membangun kota yang tangguh dan inovatif. Ketahanan harus diintegrasikan ke dalam desain pembangunan, perencanaan lahan, dan arsitektur.
“Pendekatan terpadu ini memastikan bahwa kota bukan sekadar pusat pertumbuhan, melainkan mesin stabilitas yang menghubungkan perumahan dengan pertanian, transportasi dengan logistik, dan energi bersih dengan kesejahteraan inklusif,” jelasnya.
Salah satu strategi kunci adalah pengembangan Transit Oriented Development (TOD). Konsep ini menciptakan kawasan kompak dan terhubung dimana rumah, tempat kerja, dan layanan dapat diakses dalam jarak 15 menit.
“Kami terus mengembangkan kawasan TOD bersama pemerintah daerah, salah satunya Taman Mini yang akan menjadi hub TOD. Contohnya integrasi LRT dan MRT di Jakarta, Bogor, dan Bekasi. TOD bukan hanya membangun fisik, tetapi juga ekosistemnya,” terang AHY.
Alam juga harus menjadi bagian sentral dalam visi perkotaan. Infrastruktur hijau dan biru, seperti hutan bakau, taman kota, dan sungai, adalah aset publik esensial yang dapat menyejukkan kota dan menyaring udara.
“Kota masa depan harus hijau, tangguh, dan cerdas. Trinitas infrastruktur hijau, tangguh, dan cerdas ini harus menjadi tulang punggung kota-kota di Indonesia dan dunia,” pungkasnya.
Kesenjangan dan Kontribusi Ekonomi Perkotaan yang Masih Rendah
Pembangunan kota juga harus mengatasi kesenjangan. AHY mengingatkan agar kemajuan kota tidak justru memperlebar jurang ketimpangan.
“Kita masih melihat wajah kemiskinan kota. Di samping gedung-gedung tinggi, ada slum area tanpa sanitasi yang layak. Pendekatannya adalah dengan mengurangi kemiskinan dan ketimpangan,” ucapnya.
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudi, menambahkan bahwa Indonesia belum mampu memanfaatkan urbanisasi sebagai mesin kesejahteraan. Padahal, pada 2045, proporsi penduduk kota diproyeksikan mencapai 72,9%.
“Kontribusi kota terhadap ekonomi masih rendah. Setiap 1% pertumbuhan perkotaan hanya meningkatkan PDB per kapita sebesar 1,4%,” ujarnya.
Dia mencontohkan pembangunan perkotaan terencana yang dianggap terbaik pernah dilakukan Indonesia adalah pada era Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin (1966–1977), yang berorientasi pada manusia.
Target Jakarta: Naik Peringkat Menjadi Kota Global
Sementara itu, Jakarta memiliki ambisi untuk meningkatkan daya saing global. President EAROPH Indonesia, Andira Reoputra, menilai kondisi Jakarta saat ini belum cukup bersaing di level ASEAN dan harus naik kelas.
“Jakarta harus naik kelas ke level kota global seperti New York dan Sydney. Ini dilakukan dengan meningkatkan sumber daya manusia. Tidak ada kota maju yang tumbuh sendirian,” ujarnya.
Strateginya termasuk menangani kawasan kumuh melalui konsolidasi lahan dan menyediakan 19.380 unit hunian layak dan terjangkau. Pengembangan TOD dan regenerasi perkotaan, seperti penataan kawasan Tanah Abang, juga akan diperbanyak.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan target Jakarta adalah menaikkan peringkatnya dari posisi 74 menjadi 50 besar kota global pada 2030, dan 20 besar pada 2045.
“Hal ini tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari aspek keberlanjutan, ketahanan, dan inklusivitas,” ujarnya.
Langkah Nyata Jakarta
Untuk mencapai target tersebut, Pemprov DKI melakukan berbagai langkah strategis:
- Transportasi Berkelanjutan: Elektrifikasi seluruh armada Transjakarta pada 2030, redesain jalan untuk pejalan kaki dan pesepeda, serta memperluas jaringan hingga Jabodetabek.
- Energi dan Lingkungan: Pengembangan fasilitas waste-to-energy, efisiensi energi di bangunan publik, dan perluasan ruang terbuka hijau. Lima taman kota kini beroperasi 24 jam.
- Kolaborasi Internasional: Bekerja sama dengan C40 Cities, USAID, dan World Resources Institute (WRI) untuk program bus listrik, efisiensi energi di rumah sakit, dan pemantauan kualitas udara.
“Kolaborasi, inovasi, dan komitmen bersama penting untuk menuju kota yang berkelanjutan dan layak huni,” tutup Pramono.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




