Berita

Pengelolaan sampah nasional baru 25 persen, jauh dari target RPJMN

Realita Pengelolaan Baru 25%, Jauh di Bawah Target RPJMN

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melaporkan adanya kesenjangan lebar antara realitas lapangan dengan target nasional dalam pengelolaan sampah. Meskipun terdapat tren kenaikan dibandingkan tahun lalu, sebagian besar sampah di Indonesia masih berakhir di lingkungan tanpa pengolahan yang memadai.

1. Kesenjangan Data: Realita vs Target RPJMN

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan bahwa capaian saat ini masih sangat menantang untuk mengejar target yang telah ditetapkan pemerintah pusat.

  • Capaian Saat Ini (Januari 2026): 24,9%
  • Target RPJMN 2025: 52%
  • Target RPJMN 2026: >63%

Meski terlihat kecil, angka 24,9% ini merupakan peningkatan signifikan dari awal 2025 yang hanya berada di bawah 14%.

2. Statistik Timbulan Sampah Harian

Kapasitas fasilitas pengelolaan sampah saat ini belum mampu mengimbangi volume sampah yang dihasilkan masyarakat setiap harinya.

  • Total Timbulan Sampah Nasional: ± 141.000 ton/hari.
  • Sampah Terkelola: ± 36.000 ton/hari (menggunakan fasilitas yang direkomendasikan).
  • Sampah Tak Terkelola: ± 105.000 ton/hari (75%) masih dibuang langsung ke lingkungan.

3. Kondisi Kritis Infrastruktur dan Penegakan Hukum

Pemerintah menyoroti dua masalah utama: metode pembuangan yang ilegal dan keterbatasan teknologi.

  • Pelanggaran TPA: Mayoritas dari 481 TPA di Indonesia masih menggunakan metode open dumping (pembuangan terbuka), yang sebenarnya telah dilarang oleh UU No. 18 Tahun 2008.
  • Status Darurat: Hampir seluruh Kabupaten/Kota kini berstatus Darurat Sampah, memungkinkan fleksibilitas penggunaan dana APBD/APBN untuk penanganan cepat.
  • Titik Panas (Hotspots): Denpasar, Badung, dan Tangerang Selatan menjadi fokus utama. Sebanyak 150 pengelola kawasan di Bali telah dijatuhi sanksi administratif karena gagal mengelola sampah secara mandiri.
  • Limitasi Teknologi: Fasilitas Waste to Energy yang sedang dikembangkan diproyeksikan hanya mampu menyerap sekitar 13% beban sampah nasional.

4. Proyeksi Kebutuhan Anggaran & Solusi Kedepan

Untuk menutup celah pengelolaan, diperlukan investasi besar dan transformasi tata kelola:

KebutuhanEstimasi Biaya
Pembangunan FasilitasRp 115 Triliun
Biaya Operasional TahunanRp 34 Triliun

Langkah Strategis KLH/BPLH:

  1. Transformasi Satuan Kerja: Mendorong pengelolaan TPA melalui BLUD atau UPT agar lebih akuntabel dan transparan.
  2. Prioritas Anggaran 2026: Fokus pada penguatan fasilitas persampahan dan penegakan hukum di lapangan.
  3. Hulu ke Hilir: Mempercepat transisi dari sekadar “membuang sampah” di hilir menjadi “pengurangan sampah” sejak dari sumbernya (hulu).

sumber:

https://esgnow.republika.co.id/berita/t9gosh423/pengelolaan-sampah-nasionalbaru-25-persen-jauh-dari-target-rpjmn

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO