Berita

Luas Muka Air Danau Kerinci Menyusut 70 Hektare dalam Setahun

Hasil studi kasus yang dilakukan oleh Komunitas Konservasi Indonesia Warsi menunjukkan bahwa luas muka air Danau Kerinci mengalami penyusutan signifikan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 22 April 2025, luas permukaan air danau tercatat sekitar 4.516 hektare. Namun, hasil pendataan ulang pada 28 Februari 2026 menunjukkan luas tersebut menyusut menjadi 4.445 hektare. Artinya, terjadi pengurangan sekitar 70 hektare dalam periode kurang dari satu tahun.

Direktur Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Adi Junedi, menjelaskan bahwa penyusutan ini disebabkan oleh ketidakseimbangan tata air atau fluktuasi hidrologis yang ekstrem di kawasan tersebut.

Menurutnya, kondisi ini dipicu oleh terganggunya fungsi resapan dan penyimpanan air di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Danau Kerinci.

“Jika musim kemarau berlangsung lebih panjang, maka penyusutan luas muka air danau berpotensi semakin besar. Hal ini juga berkaitan dengan keberadaan pembangkit listrik tenaga air yang memanfaatkan debit air dari Batang Merangin, yang hulunya berada di Danau Kerinci,” ujar Adi di Jambi.

Menurunnya Daya Dukung Lingkungan

Adi menilai penyusutan luas muka air danau merupakan indikator menurunnya daya dukung lingkungan di kawasan tersebut. Selain faktor perubahan hidrologi, hilangnya tutupan hutan di wilayah hulu juga menjadi penyebab utama perubahan ekosistem.

Berdasarkan analisis Warsi, tutupan hutan di sepanjang sungai utama di Kerinci, yakni Sungai Batang Merao, mengalami degradasi cukup signifikan dalam satu tahun terakhir.

Data pada 2024 menunjukkan luas tutupan hutan di wilayah DAS Batang Merao dan sekitarnya mencapai sekitar 24,2 ribu hektare. Namun pada 2025, luas tersebut menyusut menjadi 22,4 ribu hektare.

Dengan demikian, terjadi penurunan tutupan hutan sekitar 1.800 hektare hanya dalam satu tahun.

Menurut Warsi, berkurangnya tutupan hutan tersebut tidak terlepas dari aktivitas manusia yang semakin masif di kawasan tersebut, sehingga kawasan hutan di sepanjang aliran sungai terus mengalami tekanan.

Tekanan dari Aktivitas Tambang

Secara lebih luas, kondisi lingkungan di Provinsi Jambi juga menghadapi tekanan yang cukup besar. Saat ini, tutupan hutan di provinsi tersebut tersisa sekitar 18 persen atau sekitar 929 ribu hektare dari total luas wilayah.

Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel-2, aktivitas tambang batu bara telah memanfaatkan lahan sekitar 16 ribu hektare.

Selain itu, kegiatan penambangan emas tanpa izin (PETI) diperkirakan telah merusak lahan hingga 61 ribu hektare.

Melihat kondisi tersebut, Adi mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam dan menjaga keseimbangan lingkungan.

“Kami mengajak masyarakat untuk menahan diri dan menjalankan peran sebagai penjaga bumi, agar keseimbangan alam tetap terjaga,” katanya.


Sumber berita:
https://www.antaranews.com/berita/5457599/kk-warsi-sebut-luas-muka-air-danau-kerinci-menyusut-70-hektare

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO