Strategi reformasi dan peta jalan elektrifikasi transportasi publik kota Surabaya

Kementerian Perhubungan memiliki target untuk mengelektrifikasi 90% angkutan umum di 2030, di 42
wilayah perkotaan di Indonesia. ITDP Indonesia, dengan dukungan ViriyaENB, telah menyusun peta jalan
untuk mendukung target elektrifikasi tersebut. Salah satu keluaran peta jalan tersebut adalah
rekomendasi 11 kota prioritas, yang ditargetkan untuk mencapai 100% elektrifikasi di 2030, untuk
mencapai target yang telah ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan.
Elektrifikasi 100% armada transportasi publik di 100 kota prioritas hingga 2030 dapat menurunkan ~25%
emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari kondisi Business-as-Usual (Bau), setara dengan ~900.000 ton CO2eq.
Salah satu kota prioritas percepatan elektrifikasi transportasi publik yang direkomendasikan adalah Kota
Surabaya. Di Surabaya sendiri, potensi penurunan Gas Rumah Kaca (GRK) dari elektrifikasi transportasi
publik diestimasi mencapai 65.899 ton C02eq. Elektrifikasi 100% armada transportasi publik ini
berpotensi mengurangi 1.487 angka kematian akibat Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)1 di 11 kota,
dan 133 angka kematian di Surabaya.
Saat ini, Pemerintah Kota Surabaya telah mengoperasikan 4 rute trunk (Suroboyo Bus dan Trans
Semanggi Suroboyo) dan 11 rute feeder (Wira-Wiri Suroboyo) yang melayani perjalanan di dalam Kota
Surabaya. Namun, per Agustus 2024, layanan transportasi publik di Kota Surabaya baru mencakup 23,4%
penduduk kota. Hingga tahun 2029, untuk meningkatkan cakupan layanan transportasi publiknya,
Pemerintah Kota Surabaya menargetkan beroperasinya 11 rute trunk dan 29 rute feeder. Dengan skema/
model bisnis dan tingkat pengembalian biaya (cost recovery rate) yang ada saat ini, total kebutuhan
subsidi untuk mengoperasikan seluruh rute yang direncanakan pada tahun 2029 diperkirakan mencapai
~Rp408 miliar/tahun. Besar subsidi ini ~3,1 kali lipat estimasi besar subsidi yang dialokasikan
Pemerintah Kota Surabaya pada tahun 2024, atau ekivalen dengan 3,2% dari APBD Kota Surabaya di
tahun 2024. Di sisi lain, Pemerintah Kota Surabaya juga memiliki rencana untuk beralih ke kendaraan
listrik dengan telah dioperasikannya bus listrik di Koridor 3LL Trans Semanggi Suroboyo (sejak November
2022), uji coba bus listrik dengan Kalista (November 2023), dan bus listrik di Koridor R6 Suroboyo Bus
yang baru saja diluncurkan November 2024 ini. Kebutuhan biaya investasi bus listrik yang masih 2-3 kali
lebih tinggi dari bus konvensional makin menambah kebutuhan biaya modal dan subsidi yang perlu
disiapkan.
Selain itu, berdasarkan hasil survei lapangan dan diskusi dengan pemangku kepentingan, untuk dapat
meningkatkan minat masyarakat Kota Surabaya untuk menggunakan transportasi publik, kualitas layanan
transportasi publik yang ada masih membutuhkan peningkatan. Peningkatan kualitas layanan yang
dibutuhkan utamanya terkait kualitas titik pemberhentian bus (bus stop dan halte), frekuensi layanan, dan
sistem informasi penumpang. Oleh karena itu, berdasarkan analisis awal (baselining) kondisi transportasi
publik dan analisis kesiapan elektrifikasi transportasi publik Kota Surabaya, reformasi transportasi publik
masih dibutuhkan di Kota Surabaya untuk dapat mengelektrifikasi 100% armada transportasi publik.
Reformasi dibutuhkan untuk mengoptimalkan penggunaan subsidi operasional transportasi publik saat
iniāagar potensi kebutuhan subsidi berlebih karena tingginya biaya modal untuk elektrifikasi dapat
dialokasikan untuk elektrifikasi dan merealisasikan rute operasional sesuai rencana. Selain itu,
peningkatan kualitas layanan juga perlu dilakukan untuk memastikan lebih banyak lagi masyarakat yang
menggunakan transportasi publik di Kota Surabaya, memaksimalkan dampak positif yang diperoleh dari
elektrifikasi. Optimasi kebutuhan subsidi dan peningkatan kualitas layanan juga dapat dilakukan dengan
melalui modifikasi model kontrak transportasi publik.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




