Praktik Baik

Membaca ‘Nenengisme’ dan kegagalan komunikasi iklim menjangkau akar rumput

Fenomena ‘Nenengisme’: Mengurai Kegagalan Komunikasi Krisis Iklim dalam Menjangkau Masyarakat Akar Rumput

Kampanye lingkungan di Indonesia sering kali mengalami hambatan besar dalam menggerakkan masyarakat di tingkat tapak (grassroots). Krisis ini bukan disebabkan oleh kurangnya data ilmiah, melainkan akibat jurang komunikasi elitis.

Kritik tajam terhadap pola komunikasi ini mewujud dalam fenomena viral “Nenengisme”—sebuah gerakan literasi lingkungan membumi yang digerakkan oleh Neneng Rosdiyana, seorang ibu rumah tangga sekaligus anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mentari di Pesawaran, Lampung.

Anatomi Fenomena “Nenengisme”

Neneng Rosdiyana mulai menarik perhatian publik pada akhir tahun 2023. Respons publik yang masif terhadap sosoknya menunjukkan adanya kerinduan akan narasi lingkungan yang jujur dan relevan:

  • Asal-usul Akun: Fenomena ini bermula ketika sebuah halaman (fanpage) Facebook bertema politik (“Marxisme Indonesia”) berubah nama menjadi “Neneng Rosdiyana” pada 23 Desember 2023 setelah akunnya dibeli secara acak oleh Neneng.
  • Skala Pengaruh: Melalui unggahan keseharian seputar bercocok tanam, strategi panen, dan pemberdayaan ekonomi perempuan tani, akunnya kini diikuti oleh lebih dari 47 ribu pengguna Facebook dan meluas menjadi perbincangan hangat di platform X (Twitter).
  • Karakteristik Narasi: Pesan yang disampaikan menggunakan bahasa sehari-hari yang lugas, mengandung satire (sindiran), humor sinis, namun memiliki muatan kritik struktural yang tajam.

Kritik Terhadap ‘Bahasa Langit’ Komunikasi Lingkungan

Dari perspektif komunikasi lingkungan (environmental communication), “Nenengisme” merupakan antitesis dari kampanye lingkungan konvensional di Indonesia yang kerap terjebak dalam jargon akademis dan retorika elitis.

Perbandingan Karakteristik Narasi Komunikasi

Aspek KomunikasiPendekatan Elitis (Akademisi/LSM)Pendekatan Akar Rumput (Nenengisme)
TerminologiMenggunakan istilah teknis-global seperti Net-Zero Emission, Carbon Offsetting, atau Community Resilience.Menggunakan bahasa domestik: gagal panen, tanah tidak subur, harga tengkulak, dan tabungan harian.
Metode AdaptasiDirumuskan dalam dokumen “Strategi Adaptasi Perubahan Iklim”.Diterapkan langsung melalui sistem tumpang sari dan rotasi tanaman mandiri saat musim tidak menentu.
Gaya PenyampaianBernuansa kaku, teoritis, informatif satu arah, dan cenderung muram (apokaliptik).Menggunakan pendekatan humor satiris yang menghibur namun lugas dan tidak menggurui.

Kesenjangan struktural ini membuat masyarakat desa yang sebenarnya berada di garda terdepan terdampak krisis iklim merasa asing dengan isu perubahan iklim, meskipun mereka mempraktikkan mitigasinya setiap hari.

Dekonstruksi Satire: Kritik Terhadap Kebijakan Monokultur

Efektivitas narasi Neneng terletak pada kemampuannya membenturkan realitas petani kecil dengan kebijakan makro pemerintah.

Salah satu contohnya adalah narasi mengenai “Lahan terbatas bukan halangan, kami menerapkan metode tumpang sari…”. Unggahan ini bukan sekadar tips pertanian, melainkan sebuah satire atau sindiran tajam yang mengkritik kegagalan proyek monokultur skala besar seperti food estate (lumbung pangan) milik pemerintah.

Melalui humor semacam ini, isu lingkungan yang berat bertransformasi menjadi informasi yang cair, mudah dipahami, dan memicu keterlibatan aktif pembaca.

Reorientasi Strategi Komunikasi Iklim ke Depan

Fenomena Neneng Rosdiyana membuktikan bahwa komunikasi iklim yang efektif tidak boleh sekadar menerjemahkan jurnal ilmiah ke bahasa lokal secara harfiah. Keberhasilan mitigasi krisis iklim di tingkat akar rumput memerlukan perombakan paradigma komunikasi melalui 3 langkah strategis:

  1. Menjadikan Komunitas sebagai Subjek Aktif:Mengubah arah komunikasi dari yang semula bersifat satu arah (top-down dari pihak “yang lebih tahu”) menjadi dialog partisipatif. Masyarakat adat dan petani lokal harus diposisikan sebagai subjek yang memiliki kearifan ekologis, bukan sekadar objek kampanye.
  2. Mengintegrasikan Realitas Sosial-Ekonomi:Penyampaian risiko iklim harus dikaitkan langsung dengan konteks perut dan kesejahteraan warga. Masyarakat akar rumput bukannya tidak peduli pada lingkungan, namun pilihan mereka sering kali tersandera oleh keterbatasan ekonomi dan kemiskinan struktural.
  3. Mengangkat Isu Keadilan Struktural:Narasi lingkungan harus berani menyuarakan bahwa tanggung jawab terbesar kerusakan iklim berada di tangan industri ekstraktif dan pembuat kebijakan, bukan dibebankan seluruhnya kepada masyarakat kecil.

sumber:

https://theconversation.com/membaca-nenengisme-dan-kegagalan-komunikasi-iklim-menjangkau-akar-rumput-256259

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO