World Mangrove Center: Langkah Indonesia Menjadi Pusat Rujukan Konservasi Mangrove Dunia

Indonesia dikenal sebagai negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia. Dengan luas sekitar 3,44 juta hektare, Indonesia memiliki hampir seperempat dari total hutan mangrove dunia, menjadikannya sebagai benteng utama pelestarian ekosistem pesisir global.
Namun, besarnya sumber daya tersebut belum sepenuhnya menempatkan Indonesia sebagai pusat rujukan internasional dalam ilmu pengetahuan, inovasi, maupun tata kelola mangrove. Kondisi inilah yang mendorong lahirnya World Mangrove Center (WMC), sebuah inisiatif Kementerian Kehutanan untuk memperkuat kolaborasi global dalam pengelolaan mangrove yang berkelanjutan.
Dari Pemilik Terbesar Menjadi Pemimpin Pengetahuan
Selama ini Indonesia telah memiliki pengalaman panjang dalam konservasi, rehabilitasi, hingga pemanfaatan mangrove untuk mendukung kehidupan masyarakat pesisir. Namun, tantangan ke depan bukan lagi sekadar mempertahankan luas kawasan mangrove, melainkan bagaimana pengalaman tersebut dapat diubah menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi dunia.
Melalui World Mangrove Center, Indonesia ingin bertransformasi dari sekadar negara dengan kawasan mangrove terluas menjadi pusat inovasi, penelitian, dan kolaborasi internasional dalam pengelolaan ekosistem mangrove.
Inisiatif ini diharapkan mampu mempertemukan para peneliti, pemerintah, akademisi, organisasi internasional, dunia usaha, dan komunitas dalam satu wadah untuk berbagi pengalaman, teknologi, serta kebijakan terbaik dalam menjaga mangrove.
Mulai Diperkenalkan di Berbagai Forum Dunia
Komitmen Indonesia membangun World Mangrove Center mulai diperkenalkan dalam sejumlah forum internasional selama beberapa pekan terakhir.
Inisiatif tersebut telah dipresentasikan dalam ASEAN Working Group on Forest Management (AWG-FM) di Kamboja, 30th APEC Experts Group on Illegal Logging and Associated Trade (EGILAT) di Shenzhen, Tiongkok, serta menjadi bagian dari pembahasan kerja sama kehutanan antara Indonesia dan Australia.
Ke depan, pemerintah juga akan terus memperluas pengenalan World Mangrove Center melalui berbagai forum strategis dunia, termasuk Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP30), United Nations Forum on Forests (UNFF21), serta forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemimpin global dalam konservasi ekosistem pesisir.
Mangrove Kini Menjadi Solusi Perubahan Iklim
Perhatian dunia terhadap mangrove terus meningkat seiring berkembangnya konsep nature-based solutions atau solusi berbasis alam dalam menghadapi perubahan iklim.
Jika dahulu mangrove lebih dikenal sebagai pelindung pantai dari abrasi dan gelombang, kini ekosistem tersebut diakui memiliki fungsi yang jauh lebih luas.
Mangrove mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar (blue carbon), melindungi keanekaragaman hayati, menjaga kualitas perairan, mengurangi risiko bencana pesisir, sekaligus menjadi sumber mata pencaharian bagi jutaan masyarakat yang tinggal di wilayah pantai.
Perubahan perspektif tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengambil peran yang lebih strategis dalam diplomasi lingkungan global.
WMC sebagai Pusat Kolaborasi Dunia
World Mangrove Center dirancang bukan hanya sebagai lembaga penelitian, tetapi juga sebagai pusat kolaborasi internasional yang menghubungkan riset ilmiah, kebijakan publik, pembiayaan hijau, inovasi teknologi, hingga praktik terbaik dalam pengelolaan mangrove.
Dalam forum EGILAT di Shenzhen, Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan Kementerian Kehutanan, Krisdianto, memperkenalkan konsep World Mangrove Center kepada Australia sekaligus menawarkan kerja sama dalam bidang penelitian, inovasi, dan penguatan kapasitas pengelolaan ekosistem pesisir.
Melalui pendekatan tersebut, Indonesia berharap dapat membangun jejaring internasional yang mampu mempercepat pertukaran pengetahuan dan memperkuat konservasi mangrove lintas negara.
Tantangan Menjadi Pusat Rujukan Global
Meski memiliki potensi besar, perjalanan World Mangrove Center masih menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Saat ini dunia telah memiliki berbagai organisasi dan forum internasional yang membahas isu perubahan iklim, kehutanan, konservasi, dan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, World Mangrove Center harus mampu menghadirkan nilai tambah yang benar-benar berbeda agar tidak sekadar menjadi lembaga baru, tetapi menjadi pusat rujukan yang memberikan solusi nyata bagi pengelolaan mangrove dunia.
Keberhasilan WMC akan sangat ditentukan oleh kemampuannya membangun kolaborasi lintas negara, menghasilkan inovasi berbasis riset, memperkuat kebijakan konservasi, serta menghadirkan manfaat yang dapat diterapkan di berbagai kawasan pesisir dunia.
Momentum Indonesia Memimpin Konservasi Mangrove Dunia
Dengan kepemilikan hampir seperempat kawasan mangrove dunia, Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk memimpin upaya konservasi ekosistem pesisir secara global. Kehadiran World Mangrove Center menjadi langkah strategis untuk mengubah kekayaan sumber daya alam menjadi pusat pengetahuan, inovasi, dan kerja sama internasional.
Apabila mampu berkembang sesuai visi yang diusung, World Mangrove Center tidak hanya akan memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi lingkungan internasional, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dunia dalam menjaga salah satu ekosistem paling penting bagi keberlanjutan bumi dan generasi mendatang.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




