Artikel

Kisah pilu warga asli Papua, menatap hutan adatnya digusur menjadi lahan pertambangan

Jeritan Ibu Bumi: Ketika Hutan Adat Papua Terancam Ambisi Industri

Bagi masyarakat adat di Papua, hutan bukanlah sekadar hamparan pepohonan atau aset komersial. Hutan dipandang sebagai “Ibu”—sumber kehidupan, identitas, dan ruang spiritual yang telah mereka jaga secara turun-temurun selama ratusan tahun. Namun, ikatan mendalam ini kini berhadapan langsung dengan ekspansi industri pertambangan dan perkebunan skala besar.

Realita Krisis: Ancaman terhadap Ruang Hidup

Peralihan fungsi hutan adat menjadi lahan pertambangan (seperti emas dan nikel) serta perkebunan kelapa sawit kerap menyisakan konflik agraria yang berkepanjangan. Bagi masyarakat lokal, hilangnya hutan membawa dampak multidimensional yang sistematis:

  • Ancaman Ketahanan Pangan: Dusun sagu sumber karbohidrat utama dan pilar pangan lokal—banyak yang dibabat habis oleh alat berat.
  • Kerusakan Lingkungan & Kesehatan: Aktivitas pengerukan tanah dan penggunaan bahan kimia memicu pencemaran aliran sungai, memutus akses warga terhadap air bersih untuk minum dan kebutuhan harian.
  • Erosi Spiritual dan Budaya: Pembukaan lahan sering kali melintasi wilayah keramat dan situs leluhur, merusak tatanan adat serta sejarah lisan yang diwariskan lintas generasi.
  • Ketimpangan Ekonomi: Meskipun proyek-proyek ini menghasilkan devisa triliunan rupiah dan mendorong pendapatan daerah, masyarakat adat yang kehilangan ruang hidup sering kali justru terpinggirkan tanpa alternatif penghidupan yang berkelanjutan.

Suara dari Pedalaman: Pembangunan vs. Kelestarian

Masyarakat adat Papua menekankan bahwa mereka tidak menolak kemajuan atau pembangunan. Namun, mereka menuntut model pembangunan yang adil pembangunan yang menghormati hak atas tanah adat (Free, Prior, and Informed Consent / FPIC) dan tidak mengorbankan masa depan ekosistem tempat mereka menggantungkan hidup.

Tanpa jaminan hukum yang kuat terhadap hak-hak masyarakat adat, ambisi pertumbuhan ekonomi berisiko melestarikan krisis kemanusiaan dan ekologi di pulau dengan keragaman hayati terbesar di Indonesia ini.

sumber:
https://www.instagram.com/p/DcNBnAKEofV/

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO