Urban Quality: Mengapa Kualitas Hidup Kota Menjadi Isu Mendesak?

Kualitas hidup perkotaan atau urban quality menjadi isu yang semakin penting dalam perencanaan kota modern. Perkembangan urbanisasi membuat semakin banyak penduduk dunia tinggal di wilayah perkotaan, sehingga kondisi kota sangat menentukan kesejahteraan masyarakat. Laporan World Urbanization Prospects menunjukkan bahwa sekitar 45% populasi dunia atau sekitar 3,6 miliar manusia tinggal di wilayah perkotaan, dan jumlah ini diperkirakan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang (UN DESA, 2025).
Selain menjadi pusat populasi, kota juga memiliki pengaruh besar terhadap sistem ekonomi dan lingkungan global. Wilayah perkotaan menghasilkan sekitar 80% Produk Domestik Bruto (GDP) global, mengonsumsi sekitar 75% energi dunia, serta menghasilkan lebih dari 70% emisi karbon global (Time Magazine, 2025). Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas hidup di kota bukan hanya persoalan lokal, tetapi juga berdampak pada keberlanjutan pembangunan global.
Di Indonesia, tekanan urbanisasi juga semakin terasa. Urbanisasi diproyeksikan akan terus meningkat sehingga sekitar 60% penduduk Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan pada tahun 2025, dan angka ini diperkirakan meningkat menjadi 63,4% pada tahun 2030 (Kementerian Keuangan RI / DJKN, 2024). Pertumbuhan kota yang cepat ini menimbulkan berbagai tantangan seperti kebutuhan perumahan, transportasi, serta penyediaan layanan dasar bagi masyarakat.
Kawasan metropolitan Jakarta merupakan salah satu wilayah urban terbesar di dunia dengan puluhan juta penduduk (Xinhua News, 2025). Kepadatan penduduk yang tinggi ini akan meningkatkan tekanan terhadap infrastruktur kota, kualitas lingkungan, serta akses masyarakat terhadap fasilitas perkotaan.
Permasalahan utama dalam urban quality tidak hanya terkait pembangunan fisik kota, tetapi juga bagaimana kesejahteraan masyarakat perkotaan diukur secara menyeluruh. Untuk menjawab hal tersebut, UN-Habitat mengembangkan Quality of Life Initiative, sebuah program global yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan kota melalui pengukuran kualitas hidup berbasis data dan pendekatan yang berpusat pada manusia (UN-Habitat, 2025).
Dalam program ini, kualitas hidup kota tidak hanya dinilai dari aspek ekonomi saja, tetapi juga dari berbagai dimensi kehidupan masyarakat. UN-Habitat menggunakan sembilan domain utama, yaitu layanan dasar dan mobilitas, budaya dan rekreasi, ekonomi, pendidikan, lingkungan, tata kelola, kesehatan, perumahan, serta kohesi sosial (UN-Habitat, 2025). Pendekatan multidimensi ini penting karena kualitas hidup kota dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Program tersebut pertama kali diuji melalui implementasi indeks kualitas hidup di sembilan kota pada lima benua dan kini telah berkembang hingga melibatkan lebih dari 100 pemerintah kota di dunia (UN-Habitat, 2025). Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk meningkatkan kualitas hidup perkotaan telah menjadi agenda global yang semakin mendapat perhatian.
Dengan demikian, urban quality dapat dipahami sebagai kerangka penting dalam perencanaan kota masa depan. Kota tidak lagi hanya dinilai dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik semata, tetapi dari kemampuannya menciptakan lingkungan hidup yang aman, sehat, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat. Seiring meningkatnya urbanisasi dan kompleksitas masalah perkotaan, peningkatan kualitas hidup kota menjadi salah satu kunci utama dalam pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. (NCa)



