Berita

Mahasiswa FEB UI Ubah Limbah Ban Jadi Peluang Ekonomi Lewat Project ZINCARBON

Tiga mahasiswa Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Kayla Kwok, Nabil Sachio Refat, dan Abyana Zahida, berhasil meraih Juara 1 Bioenergy Talent 2026 melalui inovasi bernama Project ZINCARBON.

Proyek ini berangkat dari keresahan terhadap banyaknya limbah ban yang masih menumpuk dan belum dimanfaatkan secara optimal. Menariknya, ketiga mahasiswa tersebut tidak berasal dari bidang teknik atau lingkungan, melainkan ekonomi.

Namun justru dari perspektif bisnis itulah mereka melihat bahwa persoalan limbah tidak hanya membutuhkan solusi teknis, tetapi juga model ekonomi yang mampu membuat pengelolaan sampah bernilai dan berkelanjutan.

Limbah Ban Dilihat sebagai Sumber Daya

Ban bekas menjadi salah satu jenis limbah yang sulit dikelola karena materialnya kompleks dan sulit terurai secara alami.

Jika hanya ditimbun, ban bekas dapat membutuhkan ruang besar dan bertahan sangat lama di lingkungan.

Sementara jika dibakar secara terbuka, material ban berpotensi menghasilkan asap dan berbagai senyawa yang tidak diinginkan.

Tim ZINCARBON melihat persoalan tersebut dari sudut berbeda.

Alih-alih memperlakukan ban bekas sebagai sampah akhir, mereka mencoba melihat kandungan material di dalamnya sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi.

Memanfaatkan Teknologi Tyre Pyrolysis

Project ZINCARBON menggunakan metode tyre pyrolysis atau pirolisis ban.

Pirolisis merupakan proses pemanasan material dalam kondisi minim oksigen untuk memecah komponen penyusunnya menjadi produk baru.

Dalam pengolahan ban, proses tersebut dapat menghasilkan beberapa material bernilai, antara lain:

  • Recovered Carbon Black (rCB)
  • zinc
  • pyrolysis oil
  • steel

Produk-produk tersebut kemudian berpotensi dimanfaatkan kembali dalam berbagai sektor industri.

Pendekatan ini menjadi menarik karena satu jenis limbah dapat menghasilkan beberapa produk sekaligus.

Recovered Carbon Black Bisa Menggantikan Bahan Baku Baru

Salah satu produk penting dari pirolisis ban adalah Recovered Carbon Black.

Carbon black banyak digunakan dalam industri ban, karet, tinta, plastik, dan berbagai produk lainnya.

Secara konvensional, material tersebut diproduksi menggunakan bahan baku berbasis fosil.

Jika rCB dari ban bekas dapat memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan industri, sebagian kebutuhan carbon black baru berpotensi digantikan oleh material hasil pemulihan.

Inilah salah satu prinsip utama ekonomi sirkular: mempertahankan nilai material selama mungkin di dalam sistem ekonomi.

Pyrolysis Oil Menambah Nilai Ekonomi

Selain rCB, proses pirolisis juga menghasilkan pyrolysis oil.

Cairan ini memiliki kandungan energi dan dapat dimanfaatkan lebih lanjut tergantung kualitas, proses pemurnian, serta standar penggunaannya.

Produk lain seperti baja dari struktur ban juga dapat dipulihkan dan dikembalikan ke rantai industri.

Dengan demikian, ban bekas tidak hanya menghasilkan satu sumber pendapatan.

Multiple Revenue Streams Jadi Kunci Model Bisnis

Salah satu kekuatan Project ZINCARBON justru berada pada pendekatan ekonominya.

Tim melihat bahwa teknologi tyre pyrolysis dapat menghasilkan multiple revenue streams atau beberapa sumber pendapatan sekaligus.

Pendapatan tidak hanya bergantung pada satu produk.

Recovered carbon black dapat memiliki pasar tersendiri.

Pyrolysis oil memiliki potensi nilai ekonomi.

Baja dapat dijual kembali.

Material lain seperti zinc juga dapat dimanfaatkan.

Diversifikasi pendapatan seperti ini dapat meningkatkan peluang sebuah fasilitas pengolahan limbah menjadi bisnis yang layak secara ekonomi.

Ketika Ekonomi Bertemu Teknologi Lingkungan

Inovasi ZINCARBON menunjukkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus lahir dari laboratorium teknik.

Persoalan transisi menuju ekonomi hijau membutuhkan banyak disiplin ilmu.

Teknologi dapat menemukan cara mengolah limbah.

Namun ekonomi menentukan apakah teknologi tersebut dapat bertahan secara komersial.

Model bisnis menentukan siapa yang membayar.

Analisis pasar menentukan siapa pembelinya.

Perhitungan investasi menentukan apakah fasilitas dapat dibangun.

Karena itu, kombinasi antara teknologi dan pemikiran ekonomi menjadi semakin penting.

Ban Bekas dan Tantangan Ekonomi Sirkular

Dalam sistem ekonomi linear, pola yang terjadi biasanya sederhana:

ambil bahan baku → produksi → gunakan → buang.

Ekonomi sirkular mencoba memutus pola tersebut.

Material yang sudah selesai digunakan dikembalikan ke proses ekonomi agar dapat menjadi bahan baku baru.

Dalam konteks ban, pola tersebut dapat berubah menjadi:

ban digunakan → ban bekas dikumpulkan → diproses melalui pirolisis → material dipulihkan → kembali ke industri.

Semakin banyak material yang dapat dipertahankan dalam siklus tersebut, semakin kecil kebutuhan terhadap bahan baku baru.

Tetapi Pirolisis Tetap Membutuhkan Pengelolaan Lingkungan

Meski memiliki potensi besar, pirolisis bukan teknologi tanpa tantangan.

Proses termal memerlukan energi dan harus memiliki sistem pengendalian emisi yang baik.

Kualitas bahan baku juga perlu dikontrol.

Selain itu, produk seperti pyrolysis oil dan recovered carbon black harus memenuhi spesifikasi tertentu sebelum dapat digunakan kembali dalam industri.

Karena itu, keberhasilan proyek semacam ini tidak cukup dinilai dari kemampuan mengubah ban menjadi produk baru.

Aspek emisi, efisiensi energi, keamanan operasional, kualitas produk, dan dampak siklus hidup juga perlu diperhatikan.

Potensi Bisnis Hijau untuk Indonesia

Indonesia memiliki kebutuhan besar terhadap sistem pengelolaan limbah yang lebih baik.

Di saat yang sama, industri juga membutuhkan bahan baku dan energi.

Kondisi tersebut membuka peluang untuk bisnis berbasis ekonomi sirkular.

Alih-alih menganggap limbah sebagai biaya, perusahaan dapat melihatnya sebagai secondary resource atau sumber daya sekunder.

Model bisnis seperti ZINCARBON mencoba menangkap peluang tersebut.

Jika dapat dikembangkan menjadi usaha nyata, teknologi pengolahan limbah berpotensi menciptakan lapangan kerja, mengurangi beban lingkungan, dan menghasilkan produk bernilai ekonomi.

Dari Kompetisi Menuju Bisnis Nyata

Bagi tim ZINCARBON, kemenangan di Bioenergy Talent 2026 bukan menjadi tujuan akhir.

Kayla berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan menjadi bisnis nyata yang ikut memperkuat ekonomi sirkular hijau Indonesia.

Tantangan berikutnya tentu lebih besar.

Tim perlu menguji kelayakan teknologi dalam skala lebih luas, menghitung kebutuhan investasi, memastikan pasar produk, menguji kualitas hasil pirolisis, hingga memenuhi regulasi yang berlaku.

Namun langkah awal sudah menunjukkan satu hal penting:

masalah lingkungan dapat berubah menjadi peluang ekonomi ketika teknologi, bisnis, dan prinsip keberlanjutan dipadukan dengan tepat.

Bioenergy Talent 2026 yang diselenggarakan oleh ASPEBINDO bersama HIPMI PT dan Kementerian ESDM menjadi ruang bagi lahirnya gagasan seperti ini.

Project ZINCARBON sekaligus menjadi contoh bahwa generasi muda dari berbagai disiplin ilmu dapat mengambil bagian dalam transformasi ekonomi hijau.

Karena masa depan ekonomi sirkular tidak hanya membutuhkan insinyur.

Ia juga membutuhkan ekonom, pengusaha, pembuat kebijakan, investor, dan inovator yang mampu melihat nilai di balik sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah.

https://www.linkedin.com/posts/prestasi-mahasiswa-ui-juara-1-bioenergy-ugcPost-7504939336119816192-2o_h/?utm_source=share&utm_medium=member_desktop&rcm=ACoAAAtGGkQBsxwMBmX3lEJO8btihnfBCaHqTz4

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO