Artikel

Angkot Listrik Jadi Harapan Baru Transportasi Indonesia, ITDP Dorong Modernisasi Angkutan Kota yang Lebih Bersih dan Efisien

Keberadaan angkutan kota atau angkot yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting mobilitas masyarakat Indonesia kini menghadapi tantangan besar akibat persaingan transportasi modern, usia kendaraan yang semakin tua, dan menurunnya jumlah penumpang. ITDP Indonesia menilai percepatan penggunaan angkot listrik dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali angkutan umum perkotaan melalui pelayanan yang lebih modern, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Angkutan kota atau angkot telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama puluhan tahun, terutama sebagai transportasi yang menghubungkan kawasan permukiman dengan pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik. Namun, perkembangan kendaraan pribadi, meningkatnya penggunaan transportasi berbasis aplikasi, serta hadirnya layanan angkutan massal yang lebih modern membuat keberadaan angkot semakin terdesak, sehingga diperlukan perubahan menyeluruh agar moda transportasi tersebut tetap mampu memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia melalui artikel bertajuk Get on the Angkot (Listrik)! yang diterbitkan pada 1 Oktober 2026. Dalam publikasi yang ditulis oleh Budi Utomo dan Ayi Safira tersebut, ITDP menekankan bahwa percepatan elektrifikasi transportasi publik dapat menjadi kesempatan untuk mereformasi layanan angkot, bukan sekadar mengganti kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik.

Jumlah Angkot Terus Menurun di Berbagai Kota

Penurunan jumlah angkot menjadi salah satu persoalan yang menunjukkan semakin beratnya tantangan angkutan umum konvensional di Indonesia. Menurut ITDP, sekitar 85 persen armada transportasi publik Indonesia merupakan angkutan yang dikelola operator dengan pengaturan terbatas atau semi-regulated, termasuk angkot yang selama ini melayani berbagai rute perkotaan.

Di Makassar, jumlah angkot yang dikenal sebagai pete-pete mengalami penurunan sangat signifikan, dari 4.113 unit pada 2005 menjadi 2.912 unit pada 2015, kemudian terus menyusut hingga hanya tersisa 643 unit pada 2025. Kondisi tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam sistem mobilitas masyarakat, sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk mempertahankan keberadaan angkutan umum yang dapat menjangkau kawasan permukiman secara luas.

Persoalan serupa juga terjadi di Kota Bogor, ketika banyak angkot yang masih beroperasi telah melampaui batas usia kendaraan sesuai ketentuan pemerintah. Hingga September 2026, sebanyak 1.025 angkot telah ditertibkan karena berusia 20 tahun atau lebih, yang berarti hampir separuh armada angkot di kota tersebut menghadapi persoalan kelayakan usia operasional.

Penertiban kendaraan tua menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah membenahi sistem transportasi, tetapi langkah tersebut juga perlu disertai penyediaan alternatif armada dan model pelayanan yang lebih baik agar masyarakat tidak kehilangan akses terhadap angkutan umum.

Angkot Listrik Berpotensi Menghemat Biaya Operasional hingga 28 Persen

ITDP Indonesia menilai elektrifikasi angkot menawarkan peluang untuk mengurangi emisi sekaligus memperbaiki efisiensi penyelenggaraan transportasi publik. Berdasarkan kajian yang dilakukan lembaga tersebut, biaya operasional kendaraan listrik kategori mobil penumpang umum, termasuk angkot, dapat lebih rendah sekitar 28 persen per kilometer dibandingkan bus kecil konvensional.

Efisiensi tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting karena harga pembelian angkot listrik saat ini masih hampir dua kali lipat dibandingkan kendaraan konvensional. Meskipun kebutuhan investasi awal lebih besar, penghematan biaya operasional dalam jangka panjang berpotensi membantu mengimbangi pengeluaran pengadaan kendaraan, terutama apabila sistem operasional dikelola secara efisien.

Selain menawarkan peluang penghematan, penggunaan angkot listrik dapat membantu mengurangi pencemaran udara dari emisi gas buang kendaraan, sehingga menjadi bagian dari strategi memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan. Namun, manfaat tersebut perlu didukung oleh peningkatan kualitas pelayanan dan jumlah pengguna transportasi publik agar pengurangan emisi tidak hanya berasal dari perubahan teknologi kendaraan.

Dalam kajiannya, ITDP menjelaskan bahwa sektor transportasi menyumbang sekitar 25 persen emisi gas rumah kaca nasional, sementara pangsa penggunaan transportasi publik di sejumlah kota besar Indonesia masih berada pada kisaran 2 hingga 15 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa elektrifikasi perlu berjalan bersama upaya menarik masyarakat beralih dari kendaraan pribadi menuju angkutan umum yang lebih nyaman dan dapat diandalkan.

Bogor, Pekanbaru, dan Jambi Mulai Mengembangkan Angkot Listrik

Sejumlah pemerintah daerah telah mengambil langkah awal untuk menguji dan mengoperasikan angkot listrik sebagai bagian dari pengembangan transportasi publik rendah emisi. Kota Bogor, misalnya, melaksanakan uji coba lima unit angkot listrik bernama Alibo pada April hingga Juli 2024, dengan pelayanan yang menjangkau 30 titik pemberhentian.

Pekanbaru juga mulai mengembangkan kendaraan listrik melalui program Oplet AMAN, yang diawali dengan uji coba empat unit pada Desember 2024. Program tersebut kemudian berkembang hingga delapan unit Oplet AMAN resmi beroperasi pada Juni 2025 sebagai layanan angkutan pengumpan atau feeder bagi Bus Trans Metro Pekanbaru.

Sementara itu, Pemerintah Kota Jambi meluncurkan tiga unit angkot listrik melalui layanan TRANS Bahagia pada 2025, yang disebut sebagai angkot pertama di Indonesia dengan skema pembelian layanan atau Buy The Service (BTS). Jakarta dan Bandung juga mulai menguji penggunaan angkot listrik sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kendaraan rendah emisi pada layanan angkutan perkotaan.

Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa pengembangan angkot listrik telah mulai diterapkan di sejumlah daerah, meskipun skalanya masih terbatas dan membutuhkan evaluasi lebih lanjut mengenai kebutuhan penumpang, biaya operasional, kesiapan infrastruktur, serta model pembiayaan yang paling sesuai.

Elektrifikasi Harus Menjadi Momentum Reformasi Angkutan Umum

ITDP menekankan bahwa keberhasilan elektrifikasi angkot tidak dapat hanya diukur dari banyaknya kendaraan listrik yang menggantikan armada konvensional, karena perubahan teknologi harus disertai pembenahan mendasar terhadap sistem pelayanan transportasi publik. Pemerintah daerah perlu mempersiapkan pola operasional, penataan rute, mekanisme pembiayaan, kelembagaan pengelola, dan infrastruktur pengisian daya agar penggunaan angkot listrik dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan strategi Avoid, Shift, and Improve yang dikembangkan ITDP untuk mengurangi emisi transportasi melalui perencanaan kota yang lebih efisien, peningkatan penggunaan angkutan umum, serta penerapan teknologi kendaraan rendah emisi. Ketiga strategi tersebut perlu dijalankan secara bersamaan karena elektrifikasi kendaraan saja belum cukup untuk mengatasi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.

Dalam konteks Indonesia, pembaruan armada angkot yang telah berusia tua dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan sistem transportasi yang lebih tertib, memiliki kepastian pelayanan, dan terintegrasi dengan moda angkutan massal. Perubahan tersebut juga memerlukan keterlibatan pemerintah, operator, lembaga pembiayaan, serta penyedia infrastruktur agar proses transisi tidak menimbulkan beban yang sulit ditanggung oleh pelaku usaha angkutan.

Pada akhirnya, pengembangan angkot listrik memberikan peluang bagi Indonesia untuk mempertahankan peran angkutan kota sebagai penghubung penting dalam sistem transportasi perkotaan, sekaligus menjawab tantangan pencemaran udara dan kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang. Dengan reformasi pelayanan yang terencana, dukungan pembiayaan yang memadai, serta kebijakan pemerintah yang konsisten, angkot berpeluang bertransformasi dari kendaraan konvensional yang semakin tertinggal menjadi layanan transportasi publik modern yang lebih bersih, efisien, dan mampu mendukung pembangunan kota berkelanjutan.

Sumber: ITDP Indonesia, Get on the Angkot (Listrik)!, ditulis oleh Budi Utomo dan Ayi Safira, 1 Oktober 2026.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO