Artikel

Saat manusia hancurkan penopang hidupnya sendirinya

Hari Keanekaragaman Hayati Internasional: Refleksi di Tengah Krisis Kepunahan Global

Setiap tanggal 22 Mei, dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (International Day for Biological Diversity). Peringatan tahunan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah momen refleksi kritis terhadap kondisi bumi yang sedang menghadapi ancaman hilangnya ekosistem secara massal.

Laporan dari berbagai lembaga ilmiah global termasuk Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) dan World Wildlife Fund (WWF) menunjukkan alarm bahaya: aktivitas manusia terus mengikis fondasi kehidupan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia.

Data dan Fakta Krisis Keanekaragaman Hayati

Untuk memahami urgensi peringatan ini, berikut adalah beberapa poin kritis yang menjadi sorotan para ilmuwan dunia:

  • 1 Juta Spesies Terancam Punah: Laporan IPBES menyatakan bahwa sekitar 1 juta spesies hewan dan tumbuhan saat ini terancam punah dalam beberapa dekade ke depan akibat ulah manusia.
  • Penurunan Populasi Satwa Liar: Menurut Living Planet Report oleh WWF, populasi mamalia, burung, amfibi, reptil, dan ikan di alam liar telah mengalami penurunan rata-rata hingga 69% sejak tahun 1970.
  • Kerusakan Habitat Utama: Lebih dari 75% lingkungan daratan dan sekitar 66% lingkungan laut telah diubah secara signifikan oleh tindakan manusia, terutama untuk perluasan lahan pertanian dan urbanisasi.

Faktor Utama Pemicu Krisis

Para ahli mengidentifikasi lima penggerak utama (direct drivers) yang paling bertanggung jawab atas terkikisnya keanekaragaman hayati saat ini:

  1. Perubahan Penggunaan Lahan dan Laut: Deforestasi (penebangan hutan) untuk industri dan pertanian monokultur menghancurkan rumah bagi jutaan spesies.
  2. Eksploitasi Berlebihan: Perburuan liar dan penangkapan ikan berlebih (overfishing) yang melebihi kemampuan alam untuk memulihkan diri.
  3. Perubahan Iklim: Peningkatan suhu bumi mengubah siklus hidup satwa dan merusak ekosistem sensitif seperti terumbu karang.
  4. Polusi: Pencemaran limbah plastik, zat kimia, dan pupuk buatan yang meracuni tanah serta perairan.
  5. Spesies Invasif: Masuknya spesies asing yang merusak rantai makanan dan menggeser keberadaan spesies asli lokal.

Mengapa Ini Penting Bagi Manusia? Keanekaragaman hayati adalah fondasi dari seluruh jaringan kehidupan. Ketika suatu spesies punah atau ekosistem rusak, manusia kehilangan layanan alam (ecosystem services) yang vital, seperti penyediaan air bersih, penyerbukan tanaman pangan, bahan baku obat-obatan, hingga benteng alami terhadap penyakit menular dan bencana alam.

Peringatan setiap tanggal 22 Mei merupakan seruan mendesak bagi pemerintah, industri, dan masyarakat global untuk beralih dari eksploitasi menuju restorasi (pemulihan) alam demi kelangsungan hidup generasi mendatang.

sumber:
https://www.instagram.com/p/DYowXbyj1O6/?igsh=MnkwbDU0NXQwZGd1&img_index=1

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO