Archipelago of Wonders: 12 Geopark UNESCO Indonesia, Menjaga Warisan Bumi untuk Masa Depan

Indonesia menyimpan kekayaan geologi yang terbentuk melalui proses alam selama jutaan tahun, mulai dari gunung api, kaldera purba, bentang alam karst, hingga gugusan pulau dengan ekosistem laut yang kaya. Melalui pengembangan geopark, warisan alam tersebut tidak hanya dilindungi, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan, identitas budaya, dan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan keragaman bentang alam yang luar biasa. Letaknya di kawasan pertemuan lempeng tektonik dan jalur Cincin Api Pasifik membentuk lanskap geologi yang beragam, sekaligus menghadirkan kekayaan ekosistem dan budaya yang berkembang di dalamnya.
Keunikan tersebut terangkum dalam publikasi Archipelago of Wonders: The 12 UNESCO Global Geoparks of Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian PPN/Bappenas. Buku ini memperkenalkan 12 kawasan geopark Indonesia yang telah memperoleh pengakuan UNESCO Global Geoparks (UGGp), sekaligus memperlihatkan potensi warisan geologi Nusantara sebagai bagian dari kekayaan dunia.
Namun, geopark bukan sekadar kumpulan destinasi wisata alam. Di balik pengakuan internasional tersebut terdapat gagasan yang lebih luas: menjaga warisan geologi, melindungi keanekaragaman hayati, memperkuat identitas budaya, serta mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan kawasan yang berkelanjutan.
Geopark: Lebih dari sekadar destinasi wisata
Geopark merupakan kawasan geografis yang memiliki warisan geologi bernilai penting dan dikelola secara terpadu dengan memperhatikan aspek konservasi, edukasi, serta pembangunan ekonomi masyarakat.
Konsep ini menghubungkan tiga unsur utama, yaitu geodiversitas, biodiversitas, dan keragaman budaya. Geodiversitas mencakup bentang alam, batuan, mineral, fosil, serta proses geologi yang membentuk suatu kawasan. Biodiversitas menggambarkan kekayaan tumbuhan dan satwa yang hidup di dalamnya, sedangkan keragaman budaya menunjukkan hubungan panjang antara manusia, alam, dan sejarah wilayah tersebut.
Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Bentang alam tertentu dapat membentuk pola kehidupan masyarakat, memengaruhi sumber penghidupan, bahkan menjadi bagian dari tradisi dan identitas lokal.
Karena itu, pengembangan geopark tidak semestinya hanya berorientasi pada peningkatan jumlah wisatawan. Pengelolaannya perlu memastikan bahwa aktivitas ekonomi tidak merusak nilai geologi, ekologi, dan budaya yang justru menjadi alasan kawasan tersebut dilindungi dan diperkenalkan kepada dunia.
Dua belas geopark Indonesia yang diakui UNESCO
Daftar berikut merujuk pada daftar resmi UNESCO Global Geoparks untuk Indonesia.
Seminyak in June | Weather, Temperature, Places & Travel Guide
1. Batur UNESCO Global Geopark – Bali
Kawasan vulkanik dengan Gunung Batur dan Danau Batur yang memperlihatkan jejak aktivitas gunung api serta pembentukan kaldera.
Distribution Of UGGp In Indonesia
2. Belitong UNESCO Global Geopark – Kepulauan Bangka Belitung
Dikenal dengan formasi batuan granit raksasa, lanskap pesisir, dan sejarah geologi yang berkaitan dengan pembentukan pulau.
3. Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark – Jawa Barat
Memiliki bentang alam amfiteater alami, pantai, air terjun, dan formasi batuan yang merekam proses tektonik.
4. Gunung Sewu UNESCO Global Geopark – DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur
Lanskap karst yang terdiri atas ribuan bukit kapur, gua, sungai bawah tanah, serta situs arkeologi.
Sunrise at Ijen Crater, panoramic view, Indonesia
5. Ijen UNESCO Global Geopark – Jawa Timur
Memiliki kompleks gunung api, kawah dengan danau asam, dan fenomena api biru yang menjadi salah satu ciri khas kawasan.
Tidak Hanya Ada di Irlandia, Kebumen Juga Punya Pantai Seperti Giants Causeway | kumparan.com
6. Kebumen UNESCO Global Geopark – Jawa Tengah
Menyimpan kekayaan batuan purba, bentang alam pesisir, serta situs geologi yang merekam sejarah pembentukan Pulau Jawa.
10 Tempat Wisata Instagramable di Makassar dan Sekitarnya
7. Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark – Sulawesi Selatan
Kawasan karst yang memiliki gugusan menara batu kapur, gua, ekosistem unik, dan warisan seni cadas prasejarah.
8. Merangin Jambi UNESCO Global Geopark – Jambi
Memiliki fosil flora purba, batuan, dan bentang alam yang menjadi rekaman penting sejarah geologi kawasan Sumatra.
Platform Event Daerah- CeritaKEN
9. Meratus UNESCO Global Geopark – Kalimantan Selatan
Memperlihatkan sejarah tumbukan lempeng dan keberadaan batuan ofiolit yang menjadi bagian penting dari rekaman geologi kawasan.
Salah Satunya Raja Ampat, Inilah 5 Geopark di Indonesia yang Diakui UNESCO – Radar Semarang
10. Raja Ampat UNESCO Global Geopark – Papua Barat Daya
Memiliki gugusan pulau karst, ekosistem laut yang kaya, serta keanekaragaman hayati pesisir dan bawah laut.
11. Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark – Nusa Tenggara Barat
Berpusat pada lanskap vulkanik Gunung Rinjani, termasuk Danau Segara Anak dan ekosistem pegunungan.
12. Toba Caldera UNESCO Global Geopark – Sumatera Utara
Kawasan kaldera hasil letusan gunung api purba yang membentuk Danau Toba dan lanskap sekitarnya.UNESCO+3
Konservasi warisan geologi dan keanekaragaman hayati
Nilai penting geopark terletak pada upayanya menjaga warisan alam yang tidak dapat digantikan. Formasi batuan, fosil, bentang karst, kaldera, dan lanskap vulkanik merupakan rekaman proses bumi yang berlangsung dalam rentang waktu sangat panjang.
Kerusakan terhadap situs geologi dapat menghilangkan informasi ilmiah yang tidak mungkin dipulihkan melalui kegiatan rehabilitasi biasa. Hal yang sama berlaku pada ekosistem yang tumbuh di sekitarnya. Hutan, kawasan pesisir, gua, dan perairan merupakan habitat bagi berbagai spesies yang keberadaannya bergantung pada kondisi lingkungan setempat.
Pengelolaan geopark karena itu perlu mengintegrasikan perlindungan situs geologi dengan konservasi ekosistem. Pengembangan fasilitas wisata, pembangunan infrastruktur, dan pemanfaatan sumber daya harus mempertimbangkan daya dukung serta daya tampung lingkungan.
Masyarakat lokal sebagai bagian dari pengelolaan
Geopark tidak akan berkelanjutan apabila masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hanya ditempatkan sebagai penonton perkembangan pariwisata.
Masyarakat lokal memiliki pengetahuan mengenai sejarah wilayah, karakter alam, tradisi, dan cara pemanfaatan sumber daya yang berkembang secara turun-temurun. Pengetahuan tersebut dapat menjadi bagian penting dalam pendidikan lingkungan dan interpretasi warisan geologi.
Pada saat yang sama, pengembangan geopark membuka peluang ekonomi melalui usaha pariwisata berbasis masyarakat, produk lokal, kuliner, kerajinan, pemandu wisata, dan jasa pendukung lainnya.
Namun, manfaat ekonomi tersebut perlu didistribusikan secara adil. Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengelolaan kawasan menjadi faktor penting agar pengembangan geopark tidak justru meminggirkan komunitas lokal atau mengubah ruang hidup mereka tanpa partisipasi yang memadai.
Tantangan tata kelola: pengakuan internasional harus diikuti pengelolaan berkelanjutan
Memiliki 12 geopark berstatus UNESCO Global Geopark merupakan pencapaian penting bagi Indonesia. Pada 2025, Indonesia berada di peringkat ketiga dunia berdasarkan jumlah geopark global, bersama Italia. Pemerintah juga menargetkan peningkatan jumlahnya menjadi 17 kawasan pada 2029. Kementerian PPN/Bappenas
Akan tetapi, peningkatan jumlah kawasan yang diakui dunia bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh geopark memiliki tata kelola yang kuat, sumber daya manusia yang memadai, pendanaan berkelanjutan, serta koordinasi yang efektif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan pengelola, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.
Policy brief Kementerian Luar Negeri mengenai penguatan tata kelola UNESCO Global Geopark di Indonesia juga menyoroti tantangan regulasi, kapasitas sumber daya manusia, dan kerja sama internasional. Hal ini menunjukkan bahwa pengakuan UNESCO perlu disertai upaya peningkatan kualitas pengelolaan secara berkelanjutan. Kemlu
Setiap kawasan memiliki karakter dan tekanan lingkungan yang berbeda. Geopark karst, misalnya, perlu memperhatikan perlindungan gua dan sistem air bawah tanah. Kawasan vulkanik membutuhkan pengelolaan risiko geologi dan keselamatan pengunjung, sementara geopark pesisir dan kepulauan harus memperhatikan tekanan terhadap ekosistem laut, terumbu karang, dan habitat satwa.
Karena itu, pengelolaan geopark perlu didukung sistem pemantauan yang terukur, termasuk kondisi situs geologi, perubahan tutupan lahan, kualitas ekosistem, tekanan aktivitas wisata, serta manfaat ekonomi yang diterima masyarakat.
Geopark sebagai investasi untuk generasi mendatang
Pengembangan geopark pada akhirnya merupakan investasi jangka panjang dalam menjaga hubungan antara manusia dan alam. Kawasan ini dapat menjadi ruang belajar terbuka untuk memahami sejarah bumi, perubahan lingkungan, keanekaragaman hayati, dan hubungan budaya dengan bentang alam.
Di tengah meningkatnya tekanan pembangunan, eksploitasi sumber daya, dan perubahan iklim, geopark menawarkan pendekatan yang menghubungkan konservasi dengan pembangunan ekonomi lokal. Namun, pendekatan tersebut hanya akan berhasil apabila perlindungan lingkungan benar-benar menjadi dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar pelengkap promosi pariwisata.
Dua belas geopark Indonesia yang telah memperoleh pengakuan UNESCO merupakan representasi kekayaan alam dan sejarah bumi Nusantara. Tugas berikutnya bukan hanya memperbanyak pengakuan internasional, melainkan memastikan bahwa warisan tersebut tetap terjaga, masyarakat memperoleh manfaat yang adil, dan generasi mendatang masih dapat mengenali kekayaan alam yang sama.
Sebab, keajaiban Nusantara bukan hanya terletak pada keindahan lanskapnya, tetapi juga pada kemampuan kita untuk menjaga dan mewariskannya.
Referensi:
- Archipelago of Wonders: The 12 UNESCO Global Geoparks of Indonesia, Kementerian PPN/Bappenas. Baca e-book.
- UNESCO – List of UNESCO Global Geoparks.
- Bappenas – Pengembangan Geopark Berkelanjutan.
- Kementerian Luar Negeri – Penguatan Tata Kelola UNESCO Global Geopark di Indonesia.




