Artikel

Ketika Kejayaan Rumput Laut Tinanggea Tenggelam di Tengah Ekspansi Tambang Nikel

Dahulu, desa-desa terapung di Tinanggea, Konawe Selatan, dikenal sebagai “Desa Dolar” karena budidaya rumput laut mampu menghidupi sebagian besar masyarakatnya. Kini, kejayaan itu perlahan memudar. Air laut yang semakin keruh, hasil panen yang menyusut, dan harga jual yang anjlok membuat para pembudidaya kehilangan sumber penghidupan. Di tengah situasi tersebut, aktivitas pertambangan nikel menjadi sorotan karena diduga berkaitan dengan pencemaran perairan.

Dari Desa Dolar Menjadi Kampung yang Kehilangan Penghidupan

Desa Torokeku dan Bungin Permai di Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, pernah menjadi salah satu kawasan penting penghasil rumput laut. Sebagian besar masyarakat menggantungkan kehidupan pada budidaya komoditas laut tersebut, bahkan sekitar 70 persen warga Bungin Permai pernah bekerja sebagai petani rumput laut.

Hasilnya bukan sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada masa kejayaannya, seorang pembudidaya seperti Hasra mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp10 juta hingga Rp50 juta per bulan. Dalam satu kali panen, produksi rumput laut bahkan dapat mencapai puluhan ton.

Namun, kondisi itu berubah drastis. Banyak warga tidak lagi membudidayakan rumput laut karena pertumbuhannya semakin buruk dan hasil panen tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Sebagian beralih membuka warung kecil, menangkap kepiting, atau mencari pekerjaan di luar daerah.

Ramlah, misalnya, kini hanya sesekali memperoleh pekerjaan mengikat bibit rumput laut milik tetangganya. Upahnya Rp10 ribu untuk setiap bentangan tali sepanjang sekitar 45–50 meter. Pekerjaan itu pun tidak selalu tersedia karena semakin sedikit warga yang melakukan budidaya.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa kerusakan lingkungan pesisir bukan hanya persoalan ekosistem. Ketika laut kehilangan kualitasnya, masyarakat yang hidup dari sumber daya laut juga kehilangan kemampuan untuk mempertahankan penghidupan.

Air Laut Keruh, Hasil Panen Menyusut

Salah satu perubahan yang paling dirasakan masyarakat adalah kondisi air laut yang semakin keruh dan berwarna kekuningan hingga kemerahan, terutama ketika hujan turun. Lumpur dan material sedimen yang terbawa aliran sungai diduga menjadi salah satu penyebab perubahan tersebut.

Para pembudidaya mengeluhkan rumput laut yang tidak lagi tumbuh subur, ukurannya mengecil, bahkan gagal berkembang. Ikan yang dahulu mudah terlihat di perairan sekitar desa juga semakin sulit ditemukan.

Baharuddin, petani rumput laut di Desa Akuni, pernah memperoleh pendapatan hingga Rp50 juta per bulan dari hasil budidaya. Kini, bibit yang telah ditanam selama lima bulan tidak menunjukkan pertumbuhan sebagaimana mestinya. Modal jutaan rupiah yang dikeluarkan justru berisiko tidak kembali.

Penurunan kualitas juga berdampak pada harga jual. Rumput laut yang sebelumnya dapat dihargai Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram, kini hanya sekitar Rp15 ribu hingga Rp16.500 per kilogram. Sebagian hasil panen bahkan harus dibersihkan terlebih dahulu karena dipenuhi kotoran dan material yang menempel.

Akibatnya, rantai ekonomi yang sebelumnya menghidupi petani, pekerja pengikat bibit, hingga pengepul ikut melemah. Bagi masyarakat Tinanggea, hilangnya kejayaan rumput laut berarti hilangnya salah satu sumber ekonomi utama yang telah menopang kehidupan mereka selama bertahun-tahun.

Jejak Logam Berat di Sedimen Laut

Perubahan kondisi perairan Tinanggea tidak hanya disampaikan melalui kesaksian masyarakat. Pengujian sampel sedimen laut di Desa Torokeku oleh Laboratorium Terpadu Universitas Halu Oleo pada 21 Juli 2026 menemukan sejumlah kandungan logam berat.

Hasil pengujian dengan nomor 418/DST/UN29.27/DT.05.01/2026 mencatat kandungan:

  • Nikel (Ni): 51,79 mg/kg.
  • Kadmium (Cd): 31,87 mg/kg.
  • Timbal (Pb): 17,93 mg/kg.
  • Seng (Zn): 23,11 mg/kg.
  • Arsenik (As): 2,39 mg/kg.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena sedimen laut merupakan bagian penting dari ekosistem pesisir. Keberadaan logam berat perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui sumber, tingkat kontaminasi, penyebaran, serta dampaknya terhadap organisme laut.

Akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo, Prof. Ma’ruf Kasim, menjelaskan bahwa pertumbuhan rumput laut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kekeruhan air, kualitas bibit, dan kondisi lingkungan. Air yang terlalu keruh mengurangi penetrasi cahaya matahari, sementara keberadaan logam berat berpotensi mengganggu proses pertumbuhan karena rumput laut menyerap unsur hara langsung dari perairan.

Meski demikian, ia menekankan perlunya penelitian lanjutan pada rumput laut untuk mengetahui sejauh mana kontaminasi logam berat memengaruhi organisme tersebut. Kondisi topografi, pola arus, dan kualitas bibit di setiap wilayah juga dapat menghasilkan dampak yang berbeda.

Aktivitas Tambang Nikel Menjadi Sorotan

Dua perusahaan tambang nikel, PT Baula Petra Buana (BPB) dan PT Ifishdeco, menjadi sorotan dalam laporan mengenai penurunan kualitas perairan dan budidaya rumput laut di Tinanggea.

Aktivitas pertambangan, pengangkutan bijih nikel, lalu lintas tongkang, serta kegiatan bongkar muat di kawasan pesisir diduga berkontribusi terhadap masuknya material tambang ke lingkungan perairan. Limpasan material dari wilayah pertambangan juga diduga mengalir melalui daerah aliran Sungai Roraya menuju muara dan kawasan laut.

Direktur WALHI Sulawesi Tenggara, Andi Rahman, menyampaikan bahwa temuan pencemaran perlu ditindaklanjuti melalui penelusuran terhadap aktivitas perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut. Ia juga menyoroti pentingnya pemeriksaan dokumen lingkungan, termasuk AMDAL, serta pengawasan rutin oleh instansi lingkungan hidup.

Salah satu persoalan yang disorot adalah pengelolaan area penumpukan bijih nikel atau stockpile. Area tersebut semestinya dilengkapi fasilitas pengendalian pencemaran, termasuk kolam pengendap, agar material tidak terbawa air hujan menuju sungai dan laut.

Namun, temuan kandungan logam berat dalam sedimen tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa satu perusahaan tertentu menjadi sumber pencemaran. Hubungan sebab-akibat memerlukan penelusuran sumber material, pengujian pada berbagai titik, kajian pola aliran air, serta pemeriksaan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan.

Dalam laporan tersebut, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan, Wayan Darma, mengakui adanya penurunan produksi dan nilai jual rumput laut. Ia juga menyebut aktivitas tambang dan gelombang kapal memengaruhi kondisi perairan. Sementara itu, Humas PT Ifishdeco, Syawal Silondae, menyatakan belum menerima laporan mengenai dugaan pencemaran yang dikaitkan dengan aktivitas perusahaan.

Ketika Nelayan Kehilangan Laut dan Suara

Dampak kerusakan lingkungan di Tinanggea tidak berhenti pada penurunan produksi. Ketika sumber penghidupan semakin sulit dipertahankan, sebagian warga berulang kali menyampaikan protes terhadap aktivitas pertambangan yang mereka anggap merugikan kehidupan pesisir.

Laporan Ekuatorial mencatat sejumlah aksi demonstrasi yang berujung pada persoalan hukum. Tiga nelayan bahkan dijatuhi hukuman percobaan enam bulan setelah aksi protes di kawasan jetty perusahaan. Dalam peristiwa lain pada 2019, aparat kepolisian menangkap sejumlah petugas keamanan perusahaan setelah ditemukan dugaan ancaman menggunakan bahan peledak terhadap kelompok petani rumput laut.

Warga juga mengeluhkan kompensasi yang dinilai tidak sampai kepada nelayan terdampak. Situasi tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih luas: masyarakat menghadapi kesulitan mempertahankan mata pencaharian, sementara upaya menyampaikan keberatan terhadap aktivitas yang mereka persoalkan juga tidak selalu berjalan tanpa konflik.

Persoalan lingkungan seharusnya menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan, memperoleh informasi, dan meminta pertanggungjawaban. Perlindungan terhadap hak masyarakat pesisir menjadi bagian penting dari tata kelola sumber daya alam yang berkeadilan.

Pemulihan Tidak Cukup dengan Membagikan Bibit

Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan sebelumnya telah melakukan intervensi dengan memberikan bantuan bibit dan tali budidaya senilai sekitar Rp200 juta kepada sejumlah kelompok pembudidaya pada 2023–2024. Pemerintah daerah juga mengusulkan program Laut untuk Kesejahteraan atau Lautra yang bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Bank Dunia.

Namun, upaya menghidupkan kembali budidaya rumput laut akan sulit berhasil apabila persoalan kualitas lingkungan perairan belum diselesaikan. Bantuan bibit tidak akan memberikan hasil optimal jika air laut masih keruh, sedimen terus menumpuk, atau kondisi perairan tidak mendukung pertumbuhan rumput laut.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan menyebut pembangunan kantong-kantong lumpur sebagai salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk mengendalikan material yang terbawa ke sungai dan muara. Akan tetapi, rencana tersebut saat laporan diterbitkan masih sebatas wacana dan belum terealisasi.

Pemulihan Tinanggea membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari pemeriksaan kualitas air dan sedimen, penelusuran sumber pencemaran, pengendalian limpasan tambang, pengawasan lingkungan, hingga pemulihan ekosistem pesisir. Hasil pengujian juga perlu dipantau secara berkala agar perubahan kualitas lingkungan dapat diketahui secara terbuka.

Jangan Biarkan Desa Dolar Tinggal Menjadi Kenangan

Kisah Tinanggea memperlihatkan bagaimana perubahan kualitas lingkungan dapat mengubah kehidupan sebuah komunitas. Desa yang dahulu dikenal karena kemakmuran dari rumput laut kini menghadapi kenyataan bahwa sumber penghidupan mereka semakin sulit dipertahankan.

Di tengah meningkatnya kebutuhan nikel untuk berbagai industri, termasuk teknologi dan transisi energi, ada pertanyaan mendasar yang tidak boleh diabaikan: apakah manfaat ekonomi dari pertambangan sebanding dengan risiko kerusakan lingkungan dan hilangnya mata pencaharian masyarakat lokal?

Transisi energi seharusnya tidak melahirkan bentuk ketidakadilan baru. Kebutuhan terhadap mineral untuk mendukung teknologi rendah karbon tetap harus disertai tanggung jawab lingkungan, perlindungan masyarakat, transparansi, dan penegakan hukum.

Kejayaan rumput laut Tinanggea bukan sekadar cerita tentang komoditas yang kehilangan pasar. Di dalamnya ada kehidupan keluarga nelayan, pengetahuan masyarakat pesisir, dan hubungan panjang antara manusia dengan laut. Jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan, yang hilang bukan hanya hasil panen, melainkan juga masa depan sebuah komunitas.

Jangan sampai kemajuan industri dibangun dengan mengorbankan laut dan masyarakat yang selama ini menjaganya.

Sumber: Ekuatorial – Di Balik Hancurnya Kejayaan Rumput Laut Tinanggea Ekuatorial+1

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO