Asia Tenggara Rencanakan 49 GW Pembangkit Gas Baru, Tenaga Surya Dinilai Bisa Hemat US$45,4 Miliar

Lima negara utama Asia Tenggara—Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam—masih merencanakan pembangunan sekitar 49 gigawatt pembangkit listrik berbahan bakar gas yang berada dalam tahap konstruksi maupun prakonstruksi. Jika seluruh proyek tersebut terealisasi, kapasitas itu diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 263 terawatt-jam listrik per tahun. Namun analisis Zero Carbon Analytics menunjukkan bahwa menghasilkan listrik dalam jumlah yang sama menggunakan tenaga surya berpotensi menghemat sekitar US$45,4 miliar dibandingkan pembangkitan berbasis gas.
Temuan tersebut menempatkan Asia Tenggara pada persimpangan penting dalam menentukan arah sistem energinya. Negara-negara di kawasan membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, elektrifikasi, pembangunan pusat data, dan peningkatan konsumsi masyarakat. Pada saat yang sama, biaya teknologi energi terbarukan terus menurun, sementara pembangkit gas menghadapi risiko harga bahan bakar, ketergantungan terhadap LNG impor, serta volatilitas geopolitik.
Zero Carbon Analytics atau ZCA menggunakan data Global Energy Monitor untuk memetakan proyek pembangkit gas yang sedang direncanakan dan dibangun di lima negara tersebut. Dari sekitar 49 GW kapasitas yang berada dalam pipeline, Vietnam mempunyai rencana ekspansi terbesar dengan sekitar 34,5 GW, disusul Malaysia sekitar 9,6 GW.
Bagi Vietnam, tambahan tersebut sangat besar karena setara dengan peningkatan sekitar 380 persen dibandingkan kapasitas pembangkit gas terpasang negara itu pada 2025. Sementara bagi Malaysia, pembangunan yang direncanakan akan meningkatkan kapasitas gas sekitar 53 persen.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah pembangkit tersebut dapat dibangun, tetapi apakah pembangunan gas dalam skala sebesar itu masih merupakan pilihan ekonomi terbaik ketika biaya pembangkit tenaga surya terus turun.
Tenaga Surya Diperkirakan US$45,4 Miliar Lebih Murah
Zero Carbon Analytics menghitung bahwa 49 GW pembangkit gas tersebut, dengan mempertimbangkan faktor kapasitas masing-masing negara, berpotensi menghasilkan sekitar 263 TWh listrik setiap tahun.
Kemudian dilakukan perbandingan dengan jumlah kapasitas tenaga surya yang diperlukan untuk menghasilkan energi tahunan dalam jumlah setara.
Hasil perhitungan ZCA menunjukkan bahwa pembangkitan listrik menggunakan tenaga surya dalam jumlah tersebut berpotensi menghasilkan penghematan sekitar US$45,4 miliar dibandingkan menggunakan pembangkit gas.
Angka ini cukup besar untuk menunjukkan perubahan ekonomi teknologi pembangkitan listrik di kawasan. Tenaga surya yang dahulu sering dianggap sebagai teknologi mahal kini semakin kompetitif, bahkan dalam sejumlah kondisi mempunyai biaya pembangkitan lebih rendah dibandingkan pembangkit fosil baru.
Namun terdapat catatan metodologis yang sangat penting. Perhitungan tersebut menggunakan perbandingan biaya pembangkitan atau levelised cost of electricity dan tidak memasukkan biaya integrasi jaringan serta penyimpanan energi.
Karena tenaga surya bersifat variabel dan hanya menghasilkan listrik ketika tersedia radiasi matahari, sistem kelistrikan dengan penetrasi surya tinggi membutuhkan fleksibilitas tambahan melalui jaringan transmisi, interkoneksi, baterai, pembangkit fleksibel, pengelolaan permintaan, atau teknologi lainnya.
Karena itu, angka US$45,4 miliar sebaiknya dipahami sebagai perbandingan biaya pembangkitan berdasarkan metodologi ZCA, bukan sebagai bukti bahwa mengganti seluruh proyek gas dengan surya akan otomatis menghemat jumlah tersebut setelah seluruh biaya sistem diperhitungkan.
Biaya Listrik Surya Sudah Lebih Rendah daripada Gas
Salah satu alasan utama di balik hasil tersebut adalah penurunan biaya teknologi photovoltaic atau PV.
Berdasarkan data yang digunakan Zero Carbon Analytics, biaya pembangkitan listrik tenaga surya sudah lebih rendah dibandingkan gas di seluruh lima negara yang dianalisis: Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Ukuran yang digunakan adalah Levelised Cost of Electricity atau LCOE, yakni metode untuk menghitung rata-rata biaya produksi listrik sepanjang umur sebuah pembangkit. Perhitungan tersebut mempertimbangkan biaya pembiayaan, pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan, kemudian membaginya dengan jumlah listrik yang diperkirakan dihasilkan selama masa operasi.
Dengan metode tersebut, teknologi pembangkit yang mempunyai struktur biaya sangat berbeda dapat dibandingkan menggunakan satuan yang sama, biasanya dolar AS per megawatt-jam.
Pada 2025, berdasarkan data yang digunakan dalam analisis ZCA, tenaga surya secara rata-rata sekitar 40 persen lebih murah daripada gas di lima negara tersebut. Pada 2030, selisihnya diproyeksikan semakin besar hingga tenaga surya rata-rata sekitar 59 persen lebih murah.
Filipina menjadi salah satu contoh paling jelas. Pada 2025, LCOE pembangkit gas di negara tersebut sekitar US$99 per MWh, sedangkan tenaga surya sekitar US$54 per MWh.
Mengapa Tenaga Surya Semakin Murah?
Perubahan tersebut merupakan hasil perkembangan teknologi energi global selama lebih dari satu dekade.
Produksi modul surya meningkat dalam skala sangat besar, terutama di Asia. Ketika volume produksi meningkat, biaya rata-rata setiap unit dapat menurun melalui skala ekonomi, peningkatan produktivitas pabrik, efisiensi rantai pasok, dan perkembangan teknologi.
Efisiensi panel juga terus meningkat. Artinya, luas lahan dan jumlah modul yang dibutuhkan untuk menghasilkan jumlah listrik tertentu dapat berkurang dibandingkan teknologi generasi sebelumnya.
Menurut data yang dikutip ZCA, biaya instalasi tenaga surya skala utilitas secara global turun sekitar 87 persen antara 2010 dan 2024.
Pada 2025 saja, sekitar 511 GW kapasitas tenaga surya baru dipasang di seluruh dunia. Hampir tiga perempat penambahan tersebut berada di Asia.
Pada Juni 2026, kapasitas tenaga surya global telah mencapai sekitar 3.138 GW. Sebagai perbandingan, pada awal 2021 kapasitas global baru sekitar 850 GW.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa tenaga surya telah berubah dari teknologi energi alternatif menjadi salah satu sumber pembangkitan listrik utama dunia.
Gas Menghadapi Persoalan yang Berbeda
Berbeda dengan tenaga surya, pembangkit gas mempunyai komponen biaya yang akan terus ada selama pembangkit beroperasi: bahan bakar.
Sebuah pembangkit tenaga surya membutuhkan investasi awal untuk panel, inverter, struktur, jaringan, dan komponen pendukung. Setelah dibangun, sumber energinya—sinar matahari—tidak membutuhkan pembelian bahan bakar.
Pembangkit gas membutuhkan pasokan gas secara terus-menerus.
Ketika gas berasal dari LNG impor, biaya listrik kemudian terhubung dengan harga komoditas internasional, biaya pencairan, pengiriman menggunakan kapal, regasifikasi, serta berbagai infrastruktur rantai pasok lainnya.
Perubahan geopolitik karena itu dapat dengan cepat memengaruhi biaya listrik.
Analisis ZCA menyoroti lonjakan harga LNG Asia pada 2026 sebagai salah satu faktor yang mengubah perhitungan ekonomi gas di kawasan. Konflik geopolitik telah meningkatkan volatilitas harga LNG dan memperbesar kekhawatiran mengenai keamanan energi negara-negara yang semakin bergantung pada impor.
Asia Tenggara Masih Bergantung pada Gas
Meskipun energi terbarukan berkembang cepat, gas masih mempunyai posisi penting dalam sistem kelistrikan beberapa negara Asia Tenggara.
Thailand merupakan salah satu negara dengan ketergantungan terbesar. Sekitar 61,5 persen listrik Thailand pada 2025 berasal dari gas.
Di Malaysia porsinya sekitar 33,4 persen, Filipina 17,3 persen, dan Vietnam sekitar 6 persen.
Untuk Indonesia, data yang digunakan ZCA menunjukkan sekitar 18,5 persen listrik pada 2024 berasal dari gas.
Ketergantungan tersebut menjelaskan mengapa transisi tidak dapat dilakukan hanya dengan menghentikan pembangunan pembangkit gas dan menggantinya satu per satu dengan panel surya. Sistem kelistrikan harus tetap mampu menyediakan listrik setiap saat, termasuk malam hari dan ketika produksi energi terbarukan sedang rendah.
Persoalan yang harus dijawab adalah berapa banyak pembangkit gas baru yang benar-benar diperlukan dan berapa banyak kebutuhan listrik baru yang sebenarnya dapat dipenuhi melalui kombinasi energi terbarukan, penyimpanan energi, interkoneksi, serta fleksibilitas jaringan.
Risiko Ketergantungan LNG Impor
Persoalan menjadi semakin strategis ketika produksi gas domestik di sejumlah negara Asia Tenggara mulai menurun.
Thailand, Filipina, dan Vietnam termasuk negara yang meningkatkan perhatian terhadap LNG impor. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kontrak jangka panjang dan pembangunan infrastruktur LNG telah dipersiapkan untuk memastikan pasokan.
Namun ketergantungan terhadap LNG mempunyai konsekuensi terhadap keamanan energi.
Ketika harga internasional meningkat, negara pengimpor tidak mempunyai kendali penuh terhadap biaya bahan bakarnya. Gangguan geopolitik, persaingan pembelian LNG dengan negara lain, gangguan pelayaran, dan perubahan permintaan global dapat memengaruhi harga.
Energi terbarukan mempunyai karakteristik berbeda karena sumber energi primer tersedia secara domestik. Matahari dan angin tidak perlu diimpor menggunakan kapal.
Peralatan seperti panel, inverter, turbin, baterai, dan komponen jaringan memang tetap mempunyai rantai pasok global. Namun setelah pembangkit beroperasi, tidak terdapat kebutuhan membeli bahan bakar setiap hari untuk menghasilkan listrik.
Perusahaan Besar Mulai Membeli Energi Terbarukan
Perubahan ekonomi energi juga mulai terlihat dari keputusan perusahaan besar di Asia Tenggara.
Permintaan listrik dari sektor digital meningkat pesat seiring pembangunan pusat data. Perusahaan teknologi global pada saat yang sama mempunyai target penggunaan energi terbarukan, sehingga mereka mulai mencari pasokan listrik hijau melalui skema Power Purchase Agreement atau PPA.
Di Indonesia, Microsoft menandatangani PPA selama 10 tahun dengan PLN pada Februari 2026 untuk memperoleh sekitar 200 MW energi terbarukan, termasuk 100 MW tenaga surya. Sebagian listrik tersebut ditujukan untuk memasok kebutuhan pusat data.
Di Malaysia, Google sebelumnya menandatangani kesepakatan dengan TotalEnergies untuk memasok sekitar 1 TWh listrik tenaga surya bagi pusat datanya.
Pengembang pusat data DayOne juga membuat kesepakatan dengan TNB Renewables dan TNB Power Generation yang melibatkan kapasitas tenaga surya serta sistem penyimpanan energi baterai.
Sementara di Vietnam, Samsung Electronics menandatangani kesepakatan pembelian sekitar 70 GWh listrik tenaga surya pada Juni 2026 melalui skema direct power purchase agreement berbasis jaringan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa energi terbarukan mulai berubah dari sekadar instrumen kebijakan iklim menjadi faktor daya saing untuk menarik investasi.
Data Center Membutuhkan Listrik Bersih dalam Jumlah Besar
Fenomena ini menjadi semakin penting bagi Asia Tenggara karena kawasan tersebut sedang mengalami pertumbuhan pusat data.
Kecerdasan buatan, komputasi awan, perdagangan digital, layanan keuangan, dan berbagai platform internet membutuhkan infrastruktur komputasi yang mengonsumsi listrik dalam jumlah besar.
Negara yang mampu menyediakan listrik dalam jumlah besar, stabil, kompetitif, dan rendah karbon mempunyai peluang lebih besar menarik investasi pusat data dari perusahaan global.
Dengan demikian, persaingan energi di Asia Tenggara tidak hanya berkaitan dengan harga listrik rumah tangga.
Ia mulai berhubungan dengan daya tarik investasi teknologi.
Perusahaan yang mempunyai target dekarbonisasi akan mempertimbangkan apakah listrik bersih dapat diperoleh dengan mudah di negara tempat mereka membangun pusat data atau fasilitas produksi.
Kebijakan Direct PPA Mulai Mengubah Pasar
Sejumlah negara Asia Tenggara mulai mengubah regulasi agar perusahaan dapat membeli energi terbarukan secara lebih langsung.
Vietnam menyetujui mekanisme Direct Power Purchase Agreement pada 2024 yang memungkinkan konsumen korporasi dengan penggunaan listrik tertentu membeli energi terbarukan secara langsung. Pada 2026, aturan tersebut diperluas sehingga pusat data dan fasilitas pengisian kendaraan listrik dapat memperoleh listrik hijau melalui mekanisme serupa.
Malaysia menerapkan kebijakan third-party access yang memungkinkan produsen energi terbarukan menggunakan jaringan nasional untuk mengirim listrik kepada konsumen.
Thailand juga mengembangkan pilot DPPA sebesar 2.000 MW dan skema Utility Green Tariff.
Filipina mengambil langkah memperluas pilihan konsumen terhadap pemasok listrik dengan menurunkan batas minimum konsumsi yang diperlukan untuk memilih pemasok.
Perubahan regulasi tersebut mempunyai dampak besar karena memungkinkan permintaan korporasi menjadi motor tambahan pembangunan energi terbarukan.
Ancaman Fossil Fuel Lock-In
Kekhawatiran utama Zero Carbon Analytics terhadap pembangunan 49 GW pembangkit gas baru adalah risiko fossil fuel lock-in.
Pembangkit listrik merupakan aset berumur panjang. Fasilitas yang dibangun hari ini dapat dirancang beroperasi selama beberapa dekade.
Jika puluhan gigawatt pembangkit gas baru dibangun, pemerintah dan perusahaan akan mempunyai kepentingan ekonomi untuk terus mengoperasikannya agar investasi dapat dikembalikan.
Pada saat yang sama, biaya tenaga surya, baterai, dan teknologi energi terbarukan lainnya kemungkinan terus berubah.
Akibatnya, pembangkit gas yang terlihat kompetitif ketika keputusan investasi dibuat dapat menghadapi teknologi yang jauh lebih murah beberapa tahun kemudian.
Jika pembangkit akhirnya tidak dapat beroperasi sesuai asumsi awal karena kalah secara ekonomi atau kebijakan iklim berubah, terdapat risiko aset tersebut menjadi stranded asset—aset yang kehilangan nilai ekonominya sebelum akhir umur teknis.
Kekurangan Turbin Gas Menambah Risiko
Persoalan gas tidak hanya berasal dari harga LNG.
Rantai pasok turbin gas global juga menghadapi keterbatasan. Permintaan meningkat sementara kapasitas produksi turbin tidak dapat diperbesar dalam waktu singkat.
Akibatnya, waktu tunggu peralatan menjadi lebih panjang dan biaya proyek dapat meningkat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi negara seperti Vietnam dan Filipina yang mempunyai rencana pembangunan pembangkit gas dalam jumlah besar.
Jika proyek mengalami penundaan sementara kebutuhan listrik terus meningkat, negara tetap harus mencari sumber pembangkitan lain.
Situasi tersebut dapat semakin memperkuat argumen untuk mempercepat pembangunan energi terbarukan yang mempunyai rantai proyek dan karakteristik konstruksi berbeda.
Tetapi Surya Tidak Bisa Dibandingkan dengan Gas Hanya dari Harga Listrik
Meskipun analisis biaya memberikan keuntungan besar kepada tenaga surya, terdapat perbedaan mendasar yang harus diperhatikan.
Pembangkit gas dapat dikendalikan untuk menghasilkan listrik sesuai kebutuhan selama tersedia bahan bakar dan pembangkit berada dalam kondisi operasional.
Tenaga surya menghasilkan listrik mengikuti ketersediaan matahari.
Karena itu, 1 GW pembangkit gas dan 1 GW PLTS tidak mempunyai karakteristik sistem yang sama.
Untuk mencapai penetrasi energi surya yang sangat tinggi, sistem kelistrikan membutuhkan transformasi lebih luas.
Baterai dapat menyimpan surplus listrik pada siang hari untuk digunakan ketika matahari mulai turun.
Pumped-storage hydropower dapat menyediakan penyimpanan energi dalam skala besar.
Interkoneksi antardaerah memungkinkan listrik dikirim dari wilayah yang sedang mengalami surplus menuju wilayah yang membutuhkan.
Pembangkit hidro dan sumber energi fleksibel lainnya dapat membantu menyeimbangkan sistem.
Manajemen permintaan dapat menggeser sebagian konsumsi menuju waktu ketika listrik terbarukan tersedia dalam jumlah besar.
Sementara jaringan transmisi harus diperkuat agar pembangkit baru dapat terhubung dengan pusat konsumsi.
Karena itu, perdebatan yang lebih tepat bukan sekadar “gas atau solar”, melainkan bagaimana membangun sistem listrik yang memberikan kombinasi terbaik antara biaya, keandalan, keamanan energi, dan emisi.
Apa Artinya bagi Indonesia?
Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda dibandingkan empat negara lainnya dalam analisis.
Sistem kelistrikan Indonesia tersebar di ribuan pulau dengan jaringan yang tidak seluruhnya terhubung. Sistem Jawa-Bali mempunyai karakteristik berbeda dengan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, maupun sistem kecil di Indonesia timur.
Karena itu, strategi energi tidak dapat diterapkan dengan satu pendekatan untuk seluruh wilayah.
Namun penurunan biaya tenaga surya tetap memberikan peluang sangat besar.
Indonesia berada di wilayah tropis dengan sumber energi surya yang tersebar luas. PLTS dapat dibangun dalam berbagai skala, mulai dari atap bangunan, kawasan industri, fasilitas pemerintah, lahan tertentu, waduk, hingga pembangkit skala utilitas.
Ketika dikombinasikan dengan baterai, hidro, panas bumi, jaringan antarpulau yang semakin kuat, dan sistem kelistrikan digital, tenaga surya dapat mengambil porsi semakin besar dalam bauran energi.
Tantangan Indonesia Justru Bisa Berada pada Jaringan
Ketika harga panel turun, hambatan berikutnya dapat berpindah dari teknologi pembangkitan menuju infrastruktur jaringan.
Lokasi dengan potensi energi terbarukan terbaik tidak selalu berada dekat pusat konsumsi.
Pembangkit membutuhkan jalur transmisi.
Jaringan membutuhkan gardu.
Sistem membutuhkan kemampuan mengatur perubahan produksi secara cepat.
Operator membutuhkan sistem prediksi cuaca dan produksi energi terbarukan yang semakin akurat.
Karena itu, investasi energi bersih tidak cukup hanya dihitung berdasarkan berapa gigawatt PLTS yang akan dibangun.
Investasi jaringan harus berjalan bersamaan.
Tanpa jaringan yang memadai, listrik murah yang dapat diproduksi dari matahari tidak dapat sepenuhnya dimanfaatkan oleh konsumen.
Baterai Akan Menjadi Bagian Penting
Sistem penyimpanan energi baterai atau BESS juga akan semakin relevan ketika penetrasi tenaga surya meningkat.
Pada siang hari, produksi PLTS dapat mencapai puncaknya ketika permintaan belum tentu berada pada tingkat tertinggi. Menjelang malam, produksi tenaga surya turun sementara konsumsi dapat tetap tinggi.
Baterai memungkinkan sebagian energi dari siang hari dipindahkan ke periode berikutnya.
Selain menyimpan energi, BESS dapat memberikan berbagai layanan untuk menjaga kestabilan jaringan, termasuk respons frekuensi dan pengaturan daya dalam waktu sangat cepat.
Namun baterai juga mempunyai biaya.
Inilah salah satu alasan mengapa perbandingan LCOE antara tenaga surya dan gas tidak boleh digunakan sendirian untuk menentukan seluruh desain sistem energi.
Energi Murah Bisa Menjadi Strategi Industri
Jika tenaga surya dan teknologi penyimpanan terus mengalami penurunan biaya, dampaknya dapat melampaui sektor ketenagalistrikan.
Energi merupakan komponen biaya bagi berbagai industri.
Pabrik membutuhkan listrik.
Pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar.
Produksi hidrogen membutuhkan listrik.
Kendaraan listrik memindahkan sebagian kebutuhan energi transportasi menuju sistem kelistrikan.
Semakin banyak kegiatan ekonomi yang mengalami elektrifikasi, semakin strategis kemampuan sebuah negara menyediakan listrik murah.
Karena itu, negara yang berhasil membangun sistem energi terbarukan berbiaya rendah dapat memperoleh keuntungan industri.
Energi bersih kemudian bukan hanya kebijakan lingkungan.
Ia menjadi bagian dari strategi ekonomi.
Keputusan Hari Ini Menentukan Sistem Energi Puluhan Tahun
Rencana pembangunan sekitar 49 GW pembangkit gas di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam menunjukkan betapa besar keputusan investasi energi yang sedang dihadapi Asia Tenggara.
Jika seluruh proyek tersebut dibangun, asetnya kemungkinan akan berada dalam sistem kelistrikan selama puluhan tahun.
Sementara itu, biaya teknologi energi terbarukan terus bergerak turun.
Inilah yang membuat keputusan hari ini mempunyai konsekuensi jangka panjang.
Membangun terlalu sedikit pembangkit dapat mengancam keandalan pasokan dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Namun membangun terlalu banyak pembangkit gas juga berisiko menciptakan kapasitas mahal yang harus tetap dibayar ketika alternatif lebih murah tersedia.
Karena itu, perencanaan energi perlu semakin dinamis dan mempertimbangkan perubahan biaya teknologi, bukan hanya menggunakan asumsi masa lalu.
Asia Tenggara Berada di Persimpangan Energi
Analisis Zero Carbon Analytics memberikan pesan yang cukup jelas: ekonomi pembangkitan listrik sedang berubah.
Sekitar 49 GW pembangkit gas yang berada dalam tahap konstruksi dan prakonstruksi di lima negara Asia Tenggara berpotensi menghasilkan sekitar 263 TWh listrik setiap tahun. Menurut perhitungan ZCA, jumlah listrik yang sama dapat dihasilkan menggunakan tenaga surya dengan biaya pembangkitan sekitar US$45,4 miliar lebih rendah.
Tetapi angka tersebut bukan jawaban akhir.
Biaya integrasi jaringan dan penyimpanan tidak dimasukkan dalam perhitungan. Tenaga surya dan gas juga mempunyai karakteristik operasi berbeda, sehingga mengganti satu teknologi dengan teknologi lain membutuhkan perubahan pada keseluruhan sistem kelistrikan.
Namun tren ekonominya semakin sulit diabaikan.
Harga tenaga surya telah turun drastis. Baterai berkembang. Perusahaan global semakin membutuhkan listrik hijau. Kebijakan direct PPA mulai berkembang. Sementara LNG menghadapi volatilitas harga dan pembangkit gas baru berisiko menghadapi perubahan ekonomi teknologi selama masa operasinya.
Pertanyaan bagi Asia Tenggara karena itu bukan lagi sekadar apakah energi terbarukan mampu menghasilkan listrik.
Pertanyaannya adalah seberapa cepat sistem kelistrikan dapat diubah agar listrik terbarukan yang semakin murah dapat digunakan dalam jumlah jauh lebih besar tanpa mengorbankan keandalan.
Bagi Indonesia, pilihan tersebut sangat strategis. Pertumbuhan industri, pusat data, kendaraan listrik, hilirisasi, dan digitalisasi akan meningkatkan kebutuhan listrik dalam beberapa dekade mendatang. Setiap pembangkit yang diputuskan hari ini akan memengaruhi struktur biaya energi nasional dalam waktu yang sangat panjang.
Jika energi surya memang semakin murah, tantangan berikutnya bukan sekadar memasang lebih banyak panel. Indonesia perlu membangun jaringan, penyimpanan energi, sistem digital, pasar listrik, dan regulasi yang memungkinkan energi murah tersebut benar-benar masuk ke sistem. Sebab dalam transisi energi, teknologi termurah belum tentu otomatis menjadi pilihan terbesar—kecuali sistem dan kebijakannya ikut berubah.




