Artikel

Bahaya arsenik ekstrem mengintai wilayah Geotermal Dieng

Krisis Arsenik dan Metaloid di Kawasan Geotermal Dieng

Kawasan Dieng tidak hanya berfungsi sebagai titik tumpu Proyek Strategis Nasional (PSN) energi panas bumi, tetapi juga merupakan “laboratorium hidup” di mana aktivitas tektonik bersinggungan langsung dengan pemukiman dan pertanian. Riset terbaru dari Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN mengungkapkan fakta mengkhawatirkan mengenai paparan unsur toksik geogenik di wilayah tersebut.

1. Temuan Sains: Konsentrasi Toksik Melampaui Batas Aman

Penelitian yang dilakukan pada Agustus-September 2025 di kawasan Sileri Barat menunjukkan bahwa unsur berbahaya dari bawah permukaan bumi telah bermobilisasi ke media yang bersentuhan langsung dengan manusia.

Data Perbandingan Unsur Toksik:

Unsur ToksikMediaTemuan vs Standar Keamanan
Arsenik (As)Air Minum94x Lipat lebih tinggi dari standar WHO.
Arsenik (As)Tanah Tani562x Lipat lebih tinggi dari standar US EPA.
Kromium (Cr)Tanah157x Lipat lebih tinggi dari standar US EPA.
Antimoni (Sb)Tanah6,5x Lipat lebih tinggi dari Dutch Soil Standards.
Kadmium (Cd)Tanah4,2x Lipat lebih tinggi dari Dutch Soil Standards.

2. Jalur Paparan: Dari Geologi ke Rantai Makanan

Unsur toksik ini bersifat geogenik, artinya berasal dari proses geologi alami di mana fluida bersuhu tinggi melarutkan mineral dari batuan induk. Unsur-unsur ini naik ke permukaan melalui:

  • Manifestasi Alami: Kawah (seperti Kawah Sileri) dan hembusan gas.
  • Aktivitas Industri: Sumur bor geotermal.
  • Media Perpindahan: Air, tanah, sedimen, hingga debu yang kemudian diserap oleh tanaman pangan dan masuk ke tubuh manusia.

3. Rekam Jejak Insiden dan Risiko Teknis

Selain ancaman kimiawi jangka panjang, wilayah kerja geotermal di Dieng juga dibayangi oleh sejarah kegagalan teknis yang fatal:

  • Maret 2022 (Wellpad 28): Kebocoran gas Hidrogen Sulfida (H2S) akibat malfungsi katup Pressure Relief Valve (PRV) menyebabkan satu pekerja tewas.
  • Juni 2016: Ledakan sumur yang menutup lahan pertanian dengan material vulkanik dan kontaminan selama berbulan-bulan.
  • Masalah Sistemik: WALHI menyoroti perbedaan standar alarm gas dan lokasi proyek yang terlalu dekat dengan pemukiman (hanya berjarak 400–500 meter).

4. Strategi Mitigasi: “From Evidence to Action”

BRIN menekankan bahwa pengembangan geotermal tidak boleh hanya dipandang dari sudut pandang energi dan reservoir, melainkan harus mencakup perlindungan masyarakat. Tahapan mitigasi yang diusulkan meliputi:

  1. Screening & Validasi: Identifikasi unsur kunci melalui uji laboratorium yang ketat (QA/QC).
  2. Pemetaan Spasial: Menentukan titik panas (hotspot) sebaran racun di wilayah pemukiman.
  3. Penentuan Prioritas: Fokus pada perlindungan sumber air bersih dan kelompok masyarakat rentan.
  4. Kebijakan Strategis: Penyusunan SOP pemantauan, policy brief bagi pemerintah, dan strategi komunikasi risiko kepada warga lokal.

Paradoks Transisi Energi

Di tengah ambisi mengejar target bauran EBT sebesar 23% pada 2025, kasus Dieng menunjukkan adanya “ongkos lingkungan” yang besar. Tanpa tata kelola yang mengedepankan keamanan geokimia dan pelibatan masyarakat, proyek energi terbarukan berisiko menciptakan gesekan sosial dan ancaman kesehatan jangka panjang bagi penduduk setempat.

Riset PRSDG BRIN mendorong redefinisi pemanfaatan geotermal agar geosains tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga menjamin kedaulatan air dan pangan bagi masyarakat di sekitarnya.

sumber:

https://www.ekuatorial.com/2026/04/bahaya-arsenik-ekstrem-mengintai-wilayah-geotermal-dieng/

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO