Berita

BRIN: Penurunan Muka Tanah Jadi Faktor Utama yang Memperparah Banjir Jakarta

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa penurunan muka tanah (land subsidence) menjadi salah satu penyebab utama yang memperparah banjir di Jakarta. Fenomena ini membuat sejumlah wilayah semakin rentan tergenang, terutama saat curah hujan tinggi atau ketika pasang laut terjadi bersamaan.

Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa, dalam diskusi bertajuk “Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset” yang digelar di Jakarta, Rabu. Ia menjelaskan, hasil pengolahan citra satelit menunjukkan beberapa wilayah di Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah hingga lebih dari 10 sentimeter per tahun.

Menurut Budi, penurunan muka tanah dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, kondisi alami lapisan tanah aluvial di Jakarta yang memang mudah terkompaksi. Kedua, aktivitas manusia, terutama pengambilan air tanah secara berlebihan yang terus berlangsung dari tahun ke tahun.

“Penurunan muka tanah dipicu oleh dua faktor utama, yakni kondisi alami lapisan tanah aluvial Jakarta yang mudah terkompaksi serta aktivitas manusia, terutama pengambilan air tanah secara berlebihan,” ujarnya.

Budi menambahkan, kebutuhan air bersih yang semakin tinggi turut mendorong masyarakat maupun pelaku usaha untuk menyedot air tanah dalam jumlah besar. Hal itu terjadi karena jaringan air perpipaan belum menjangkau seluruh wilayah Jakarta secara merata, sehingga air tanah masih menjadi sumber utama bagi banyak kawasan.

Berdasarkan hasil riset beberapa instansi, termasuk BRIN, penyedotan air tanah menyebabkan rongga tanah kehilangan kandungan air. Akibatnya, terjadi pemampatan lapisan tanah secara bertahap hingga permukaan tanah mengalami penurunan.

Kondisi tersebut paling banyak ditemukan di kawasan pesisir utara Jakarta, terutama di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Barat, serta sebagian Jakarta Pusat. Penurunan muka tanah di kawasan ini menjadikan wilayah tersebut semakin rawan mengalami banjir, baik dari hujan maupun limpasan air laut.

Budi mengibaratkan Jakarta saat ini seperti mangkuk atau bowl effect, yaitu kondisi ketika daratan berada lebih rendah dari permukaan laut dan dikelilingi tanggul. Dalam situasi seperti itu, air hujan yang masuk ke wilayah Jakarta menjadi sulit mengalir keluar secara alami dan hanya bisa dikeluarkan melalui sistem pompa.

Akibatnya, genangan air dapat bertahan lebih lama dan memperbesar potensi banjir, terutama ketika hujan ekstrem terjadi bersamaan dengan pasang laut.

“Maka pengendalian pengambilan air tanah serta penyediaan air perpipaan menjadi langkah penting untuk menekan laju penurunan muka tanah di Jakarta,” tegas Budi.

BRIN menilai, upaya menekan laju penurunan muka tanah harus menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian banjir Jakarta. Tanpa pengendalian serius terhadap eksploitasi air tanah, risiko banjir diperkirakan akan semakin membesar seiring waktu.

https://www.antaranews.com/berita/5395822/brin-permukaan-tanah-turun-lebih-10-cm-memperparah-banjir-di-jakarta

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO