Berita

Darurat Sampah di Banten: Hanya 13% yang Terkelola, Gubernur Andra Soni Serukan Aksi Nyata dan Teknologi Tepat Guna

Gubernur Banten, Andra Soni, membuka suara tentang persoalan sampah yang mengancam provinsi tersebut. Dalam sebuah paparan yang mengkhawatirkan, ia mengungkapkan bahwa dari sekitar 8.000 ton sampah yang dihasilkan masyarakat Banten setiap harinya, hanya 13 persen saja yang benar-benar terkelola dengan baik. Artinya, sebanyak 87 persen atau hampir 7.000 ton sampah per hari dibiarkan tanpa penanganan yang layak, menjadi ancaman serius bagi kelestarian lingkungan, kebersihan sungai, dan kesehatan masyarakat.

Tidak tanggung-tanggung, sebagian besar sampah yang sedikit terkelola itu masih ditangani dengan sistem open dumping atau penumpukan di tempat terbuka, sebuah metode kuno yang rawan mencemari tanah dan air. Sementara itu, sisanya sama sekali tercecer dan tidak terkontrol, berakhir mengotori lingkungan, termasuk membanjiri aliran-aliran sungai.

Kondisi di Tanara, Kabupaten Serang, adalah contoh nyata. Sungainya penuh dengan sampah. Ini tidak bisa hanya dibicarakan, harus ada tindak lanjut nyata,” tegas Gubernur Andra di Kota Serang, Jumat, menekankan urgensi dari permasalahan ini.

Menghadapi krisis ini, Andra menegaskan bahwa solusinya tidak lagi sekadar membangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) baru. Yang lebih penting adalah memperkuat kapasitas pemerintah kabupaten dan kota dalam mengelola sampah di wilayahnya masing-masing. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten, lanjutnya, akan berperan sebagai fasilitator dan menjembatani koordinasi dengan pemerintah pusat untuk mewujudkan hal ini.

Gubernur juga menekankan pentingnya memilih teknologi yang sesuai dengan skala produksi sampah suatu daerah. Ia memperingatkan agar tidak asal menerapkan teknologi canggih seperti Refuse Derived Fuel (RDF) atau waste-to-energy yang mengubah sampah menjadi energi di daerah yang volumenya sampahnya belum memadai.

Jangan sampai Pandeglang atau Lebak bicara waste-to-energy, karena sampahnya belum mencukupi,” ujarnya sebagai contoh. Teknologi semacam itu, menurutnya, hanya relevan untuk daerah dengan akumulasi sampah yang sangat besar.

Di luar aspek teknis, Andra menyoroti perlunya perubahan pola pikir masyarakat. Setiap orang di Banten menghasilkan rata-rata 0,7 kilogram sampah per hari. Dengan total populasi mencapai 12,4 juta jiwa, volume sampah yang dihasilkan tentu sangat masif dan terus meningkat. Kesadaran untuk mengurangi sampah dari sumbernya menjadi kunci.

Untuk mewujudkan target bebas sampah, Andra menyambut baik komitmen dan dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Dukungan ini diharapkan dapat membantu Banten dalam menyusun solusi teknis dan kebijakan yang komprehensif.

Target kita tahun 2029 seluruh kabupaten/kota bisa mengelola 100 persen sampahnya,” tutup Andra dengan optimis.

Sebagai tindak lanjut, rapat koordinasi antara KLHK dan Pemprov Banten telah menghasilkan sejumlah komitmen, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap TPA yang ada, penguatan peran pemerintah daerah, dan adopsi teknologi tepat guna untuk mengurangi beban sampah di Banten menuju masa depan yang lebih bersih dan sehat.


Sumber Berita:
https://www.antaranews.com/berita/5104429/gubernur-banten-akui-pengelolaan-sampah-baru-capai-13-persen

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO