Deforestasi Indonesia naik, hampir dua kali lipat di 2025, bagaimana dampaknya pada perempuan?

Kenaikan angka deforestasi di Indonesia pada tahun 2025 bukan sekadar statistik lingkungan, melainkan krisis kemanusiaan yang menempatkan perempuan di garis depan kerentanan. Berdasarkan laporan Auriga Nusantara, lonjakan kehilangan hutan mencapai lebih dari 433.000 hektare, meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Berikut adalah tinjauan mendalam mengenai bagaimana kerusakan ekologis ini berdampak spesifik pada kehidupan perempuan:
1. Beban Domestik dan Kelangkaan Sumber Daya
Dalam struktur sosial masyarakat adat dan pedesaan, perempuan sering kali memegang peran utama dalam mengelola kebutuhan rumah tangga.
- Akses Air Bersih: Deforestasi merusak daerah aliran sungai. Akibatnya, perempuan harus berjalan lebih jauh dan menghabiskan waktu lebih lama untuk mencari air bersih.
- Kedaulatan Pangan: Hutan adalah “pasar alami” bagi perempuan untuk mencari bahan pangan dan obat-obatan herbal. Hilangnya hutan berarti hilangnya sumber nutrisi gratis, memaksa mereka bergantung pada bahan pangan eksternal yang mahal.
2. Peningkatan Risiko Bencana Ekologis
Laporan Auriga menyoroti bahwa provinsi-provinsi di Sumatera yang mengalami deforestasi parah merupakan wilayah yang paling sering dihantam bencana.
- Kerentanan Saat Bencana: Data menunjukkan bahwa dalam bencana alam (seperti banjir dan tanah longsor akibat penggundulan hutan), perempuan memiliki tingkat risiko keselamatan yang lebih tinggi karena terbatasnya akses informasi dan tanggung jawab mengasuh anak serta lansia.
- Dampak Pasca-Bencana: Di pengungsian, perempuan menghadapi masalah sanitasi, kesehatan reproduksi, hingga risiko kekerasan berbasis gender yang meningkat.
3. Hilangnya Pengetahuan Tradisional dan Identitas
Perempuan di banyak komunitas lokal adalah penjaga benih dan pengetahuan tentang biodiversitas.
- Erosi Budaya: Ketika hutan hilang, praktik-praktik tradisional yang dilakukan kolektif oleh perempuan seperti menenun dengan pewarna alami atau mengolah hasil hutan non-kayu—turut punah.
- Marjinalisasi Ekonomi: Deforestasi sering kali diikuti oleh konversi lahan menjadi perkebunan monokultur (seperti sawit). Dalam struktur ini, perempuan sering kali hanya terserap sebagai buruh harian lepas dengan upah rendah dan perlindungan kerja yang minim.
Mengapa Perspektif Gender Penting dalam Isu Lingkungan?
Data angka 433 ribu hektare tersebut sering kali menyembunyikan “biaya sosial” yang tidak tercatat. Pemulihan hutan bukan hanya soal menanam kembali pohon, melainkan memulihkan ruang hidup dan martabat perempuan yang hak-hak dasarnya terampas seiring jatuhnya tegakan pohon terakhir.
sumber:
https://www.instagram.com/p/DXEDXUkER_0/?igsh=MTMzdDhsMm05a3BiNg%3D%3D
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




