Dukung instruksi Gubernur, warga Jakarta Barat belajar pilah sampah

Dalam rangka mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terkait pengolahan sampah dari sumbernya, komunitas Prakarsa Warga Jakarta Barat menggelar sosialisasi dan pelatihan pemilahan sampah di Halaman Pasar Jaya Cengkareng, Jakarta Barat.
Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan budaya memilah sampah skala rumah tangga guna mengurangi beban penampungan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Materi Pelatihan dan Edukasi Lapangan
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya menerima teori tetapi juga melakukan praktik langsung dengan pendampingan dari Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Barat:
- Kategorisasi Sampah: Edukasi praktik memisahkan sampah menjadi tiga kategori utama, yaitu organik, anorganik, dan residu.
- Pemberdayaan Bank Sampah: Pengenalan mekanisme penukaran sampah anorganik melalui bank sampah untuk memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga.
- Inovasi Pengolahan Organik: Pengenalan ragam pengolahan sampah organik berbasis komunitas, seperti pembuatan pupuk komposting hingga budidaya maggot (larva lalat tentara hitam/BSF).
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Kami berharap kegiatan ini menjadi awal lahirnya gerakan bersama yang konsisten dan berdampak nyata bagi lingkungan,” ungkap Koordinator Prakarsa Warga Jakarta Barat, Marlin Bato.
Latar Belakang Kebijakan: Kedaruratan Sampah Jakarta
Langkah edukasi warga ini berpedoman pada Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber. Kebijakan ini diterbitkan merespons kondisi darurat sampah di Jakarta:
| Indikator | Kondisi / Target |
| Timbunan Sampah Harian Jakarta | Mencapai sekitar 9.000 ton per hari |
| Kapasitas TPST Bantargebang | Semakin terbatas (overload) |
| Pendekatan Baru | Meninggalkan sistem lama (kumpul-angkut-buang) menuju pemilahan dari hulu berprinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) |
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa penanganan sampah kini tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional, melainkan membutuhkan rekonstruksi budaya masyarakat.
“Sasaran utama kita adalah pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah. Banyak RT dan RW yang sudah berinovasi mengolah sampah secara mandiri. Gerakan ini tidak boleh kendor agar Jakarta menjadi kota global yang bersih dan berkelanjutan,” tegas Pramono.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




