Berita

Elektrifikasi Bus Listrik Jadi Kunci Indonesia Menuju Nol Emisi, ITDP Dorong Reformasi Transportasi Publik

Upaya Indonesia mencapai target emisi nol bersih pada 2060 membutuhkan perubahan besar dalam sistem transportasi perkotaan, terutama melalui percepatan penggunaan bus listrik dan peningkatan kualitas angkutan umum. ITDP Indonesia menilai elektrifikasi transportasi publik bukan hanya mampu mengurangi pencemaran udara, tetapi juga membuka peluang menciptakan sistem mobilitas yang lebih efisien, terjangkau, dan berkelanjutan.

Komitmen Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih atau net-zero emission paling lambat pada 2060 menghadapi tantangan besar, terutama dari sektor transportasi yang masih sangat bergantung pada kendaraan berbahan bakar fosil. Untuk menjawab tantangan tersebut, Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia mendorong percepatan elektrifikasi transportasi publik sebagai salah satu strategi penting dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, memperbaiki kualitas udara perkotaan, sekaligus membangun sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Dorongan tersebut disampaikan Direktur Asia Tenggara ITDP, Gonggomtua Sitanggang, dalam acara CNN Indonesia EVolution Forum yang diselenggarakan pada 30 September 2026 melalui diskusi bertajuk Powering Indonesia’s Future: Green Cars, Blue Skies. Forum tersebut mempertemukan sejumlah pakar untuk membahas berbagai pilihan teknologi dan kebijakan yang dapat mendukung transformasi sektor transportasi Indonesia menuju sistem energi yang lebih bersih.

Bus Listrik Menawarkan Efisiensi dan Pengurangan Emisi

Dalam diskusi tersebut, Gonggomtua menjelaskan bahwa elektrifikasi bus memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil, terutama dalam hal pengurangan emisi, efisiensi biaya operasional, serta kemudahan perencanaan pengisian energi. Karakteristik operasional bus yang memiliki rute, lokasi depo, dan jadwal perjalanan relatif tetap menjadikan proses elektrifikasi lebih mudah direncanakan dibandingkan kendaraan yang pola penggunaannya tidak menentu.

Selain memberikan manfaat lingkungan, penggunaan bus listrik juga dapat menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas transportasi publik melalui pembaruan armada dan peningkatan standar pelayanan kepada penumpang. Perubahan tersebut diharapkan mampu mendorong lebih banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi menuju angkutan umum, sehingga manfaat pengurangan emisi dapat diperoleh secara lebih luas.

Namun, ITDP menyoroti belum tersedianya peraturan khusus yang mengatur peta jalan adopsi bus listrik untuk transportasi publik di Indonesia. Ketiadaan kerangka kebijakan tersebut dinilai menjadi salah satu hambatan bagi pemerintah daerah dan pelaku industri dalam menyusun rencana investasi serta menentukan tahapan elektrifikasi armada.

Pemerintah Didorong Menyiapkan Regulasi dan Insentif

ITDP meminta Kementerian Perhubungan menyusun regulasi peta jalan elektrifikasi bus yang dapat memberikan panduan sekaligus kepastian bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan transportasi publik berbasis listrik. Regulasi tersebut diharapkan turut mengatur berbagai bentuk dukungan, termasuk insentif pembelian kendaraan, pengembangan teknologi, serta kebijakan industri yang dapat mempercepat penyediaan armada listrik.

Menurut Gonggomtua, hingga September 2026 belum terdapat skema insentif khusus yang memadai bagi bus listrik maupun industri pendukungnya, sehingga pemerintah daerah masih menghadapi ketidakpastian mengenai pembiayaan program elektrifikasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan bus listrik membutuhkan dukungan kebijakan nasional yang konsisten serta mekanisme pendanaan yang dapat diterapkan sesuai kemampuan masing-masing daerah.

Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Achmad Rofiqi, juga menekankan pentingnya harmonisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar pengembangan industri kendaraan listrik dapat berjalan seiring dengan kebutuhan transportasi perkotaan. Menurutnya, pembangunan fasilitas pendukung dan peningkatan kualitas pelayanan transportasi publik menjadi bagian penting untuk menarik minat masyarakat menggunakan kendaraan umum.

Biodiesel dan Kendaraan Listrik Dapat Dikembangkan Bersamaan

Dalam forum yang sama, Guru Besar Universitas Pertamina, Iman Kartolaksono Reksowardojo, menyoroti potensi penggunaan biodiesel dengan campuran 50 persen atau B50 sebagai salah satu alternatif untuk membantu mengurangi emisi kendaraan. Menurutnya, pengembangan biodiesel dan kendaraan listrik tidak perlu ditempatkan sebagai dua pendekatan yang saling bertentangan, karena keduanya memiliki karakteristik serta peluang penerapan yang berbeda.

Penggunaan B50 dinilai dapat menjadi pilihan bagi wilayah yang belum memiliki infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik secara memadai, sementara elektrifikasi dapat dikembangkan secara bertahap mengikuti kesiapan teknologi dan fasilitas pendukung. Pendekatan tersebut memperlihatkan pentingnya menyesuaikan strategi pengurangan emisi dengan kondisi geografis dan infrastruktur Indonesia yang beragam.

Kota Rendah Emisi Menjadi Arah Pembangunan Masa Depan

Selain mempercepat elektrifikasi bus, ITDP Indonesia turut mendorong penerapan konsep Compact City Electrified, yakni pengembangan kota yang mengintegrasikan transportasi berbasis listrik dengan tata ruang yang memungkinkan masyarakat menjangkau berbagai fasilitas melalui perjalanan yang lebih singkat. Dalam konsep tersebut, fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan pelayanan publik diupayakan berada dalam jangkauan yang dapat diakses dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun menggunakan angkutan umum.

Pendekatan ini menempatkan transformasi transportasi sebagai bagian dari perencanaan kota yang lebih luas, sehingga upaya pengurangan emisi tidak hanya bergantung pada penggantian teknologi kendaraan. Ketika masyarakat memiliki akses yang lebih mudah terhadap berbagai kebutuhan sehari-hari, ketergantungan pada kendaraan pribadi dapat dikurangi sekaligus menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan nyaman.

Pada akhirnya, percepatan penggunaan bus listrik merupakan salah satu langkah penting dalam mendukung pencapaian target emisi nol bersih Indonesia pada 2060, tetapi keberhasilannya membutuhkan regulasi yang jelas, insentif yang tepat, serta peningkatan kualitas angkutan umum secara menyeluruh. Melalui kerja sama pemerintah, industri, dan masyarakat, transformasi transportasi diharapkan tidak hanya menghasilkan kendaraan yang lebih bersih, tetapi juga membangun sistem mobilitas perkotaan yang efisien, inklusif, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Sumber: ITDP Indonesia, ITDP Indonesia Mendukung Elektrifikasi Bus Listrik untuk Mendukung Target Nol Emisi, 30 September 2026.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO