Berita

Gili Tramena Terancam Sampah, DPR Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Selamatkan Destinasi Wisata

LOMBOK UTARA – Persoalan sampah kembali menjadi perhatian di kawasan wisata internasional Gili Tramena, yang meliputi Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kawasan yang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia tersebut dinilai membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terpadu agar aktivitas pariwisata tidak justru menimbulkan tekanan terhadap lingkungan.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Rahayu Saraswati mengatakan penanganan sampah di tiga Gili membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, terutama karena kawasan tersebut memiliki status konservasi.

Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja reses Komisi VII DPR RI ke NTB.

Sampah di Destinasi Wisata Tidak Bisa Diselesaikan dengan Satu Teknologi

Dalam kunjungannya ke Gili Meno, persoalan sampah menjadi salah satu sorotan utama. Pengelolaan yang dinilai belum maksimal membuat diperlukan solusi yang mampu menangani sampah secara efektif sekaligus mencegah dampaknya terhadap lingkungan.

Rahayu mengatakan solusi pengelolaan sampah tidak harus selalu menggunakan Waste to Energy (WtE) atau teknologi yang mengubah sampah menjadi energi.

Menurutnya, diperlukan berbagai alternatif yang disesuaikan dengan kondisi wilayah kepulauan seperti NTB.

Bank sampah, pengolahan sampah organik, pemilahan, daur ulang, hingga teknologi pengolahan residu dapat menjadi bagian dari sistem yang saling terhubung.

Yang terpenting adalah bagaimana seluruh rantai pengelolaan tersebut berjalan secara terpadu.

Gili Tramena Berada di Kawasan Konservasi

Persoalan koordinasi menjadi semakin penting karena Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air berada dalam kawasan yang memiliki fungsi konservasi.

Dengan status tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan pemerintah daerah dan sektor pariwisata.

Sejumlah kementerian memiliki kepentingan dan kewenangan yang saling berkaitan, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Kehutanan.

Di sisi lain, sektor pariwisata juga memiliki kepentingan besar karena kebersihan dan kesehatan lingkungan merupakan bagian penting dari keberlanjutan destinasi wisata.

Karena itu, diperlukan kejelasan mengenai lead sector agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan maupun kebingungan dalam pelaksanaan program.

Jangan Sampai Teknologi Datang, Warga Tidak Tahu Cara Menggunakannya

Salah satu pesan penting yang disampaikan Rahayu adalah perlunya pendampingan masyarakat.

Program pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas atau mendatangkan mesin.

Masyarakat perlu mengetahui bagaimana cara memilah, menggunakan, merawat, dan memanfaatkan fasilitas tersebut.

Hal ini menjadi sangat penting di kawasan wisata yang melibatkan banyak pihak, mulai dari penduduk lokal, pelaku usaha, pekerja pariwisata, wisatawan, hingga pengelola kawasan.

Jika teknologi tersedia tetapi masyarakat tidak memahami cara menggunakannya, program tersebut berisiko tidak berjalan secara optimal.

Karena itu, edukasi dan pendampingan harus menjadi bagian dari program sejak awal, bukan tambahan setelah fasilitas selesai dibangun.

Pemerintah NTB Janji Perkuat Penanganan

Gubernur NTB Lalu M Iqbal menyatakan komitmennya untuk membenahi persoalan sampah di kawasan Gili Tramena.

Meskipun pengelolaan sampah secara langsung merupakan kewenangan pemerintah kabupaten/kota, pemerintah provinsi akan meningkatkan komunikasi dan koordinasi untuk mencari solusi bersama.

Targetnya adalah menciptakan kawasan wisata yang bersih, aman, dan nyaman, baik bagi masyarakat maupun wisatawan.

Jangan Biarkan Surga Wisata Berubah Menjadi Tempat Sampah

Gili Tramena memiliki daya tarik wisata yang sangat besar. Keindahan laut, pantai, dan ekosistem pesisir menjadi modal utama pariwisata di kawasan tersebut.

Namun, semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula potensi timbulan sampah yang harus dikelola.

Karena itu, pertumbuhan pariwisata harus berjalan seiring dengan kemampuan mengelola dampak lingkungannya.

Solusinya bukan sekadar memilih antara WtE, bank sampah, insinerator, atau teknologi lainnya.

Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem dari hulu hingga hilir: mengurangi sampah, memilah dari sumber, mengolah material yang masih bernilai, menangani sampah organik, mengelola residu, serta memastikan seluruh pihak memahami perannya.

Sebab bagi destinasi wisata seperti Gili Tramena, menjaga kebersihan bukan hanya persoalan estetika.

Menjaga sampah berarti menjaga laut, terumbu karang, kehidupan masyarakat, dan masa depan pariwisata itu sendiri.

https://www.antaranews.com/berita/5690103/komisi-vii-dpr-ri-soroti-penanganan-sampah-di-tiga-gili-lombok-utara

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO