Berita

Hainan Bangun Jalur Baru Pengurangan Karbon, dari Sampah hingga Zona Nol Karbon

Provinsi Hainan di China selatan sedang mengembangkan pendekatan rendah karbon yang menarik karena tidak hanya berfokus pada satu sektor. Sampah, plastik sekali pakai, bangunan, transportasi, energi, hingga mangrove ditempatkan dalam satu arah transformasi menuju pulau rendah karbon.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengurangan emisi tidak harus selalu dimulai dari proyek besar. Perubahan juga dapat dilakukan melalui sistem kota, kebiasaan konsumsi, pengelolaan energi, dan perlindungan ekosistem.

Salah satu contoh paling menonjol adalah pengelolaan sampah.

Hainan kini memiliki delapan fasilitas pembangkit listrik tenaga sampah yang secara total mampu mengolah sekitar 4.200 ton sampah rumah tangga per hari. Dari proses tersebut dihasilkan sekitar 1,7 juta kWh listrik per hari, yang disebut setara dengan kebutuhan listrik sedikitnya 200.000 rumah tangga.

Sejak 2021, Hainan juga telah menutup 16 tempat pembuangan akhir sampah rumah tangga. Dengan sistem pengolahan yang ada, provinsi tersebut disebut telah mencapai kondisi tanpa penimbunan sampah rumah tangga yang belum diolah.

Langkah ini penting karena TPA bukan hanya membutuhkan lahan luas, tetapi juga dapat menghasilkan metana dari pembusukan material organik.

Metana merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat. Karena itu, mengurangi penimbunan sekaligus meningkatkan pengolahan sampah dapat memberikan manfaat ganda: menghemat lahan dan mengurangi emisi.

Tidak Hanya Mengolah Sampah, tetapi Menguranginya dari Sumber

Hainan juga mencoba mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang sulit terurai.

Di salah satu pasar pertanian di Haikou, lebih dari 300 kios telah masuk ke dalam sistem pemantauan digital untuk mengawasi penggunaan kantong belanja.

Sistem tersebut memberikan kode hijau, kuning, atau merah untuk menunjukkan apakah kantong yang digunakan memenuhi persyaratan lingkungan.

Hasilnya cukup signifikan.

Setelah sistem digital diterapkan, penggunaan kantong yang dapat terurai secara hayati di pasar tersebut meningkat dari sekitar 18 persen menjadi 81 persen.

Pada skala yang lebih luas, Hainan menjadi wilayah setingkat provinsi pertama di China yang menerapkan larangan terhadap produk plastik sekali pakai tertentu yang tidak dapat terurai secara hayati.

Pada akhir 2025, penggunaan alternatif untuk produk plastik yang dilarang tersebut dilaporkan telah mencapai rata-rata 80,2 persen di lokasi-lokasi utama seperti sekolah, rumah sakit, supermarket, dan pasar.

Ini menunjukkan bahwa kebijakan lingkungan dapat bekerja lebih efektif ketika regulasi, teknologi pemantauan, dan perubahan perilaku berjalan bersama.

Boao Menjadi Zona Percontohan Nol Karbon

Eksperimen rendah karbon Hainan juga terlihat di Boao.

Zona percontohan nol karbon Boao dikembangkan melalui retrofit kawasan yang sudah ada, bukan dengan membangun kota baru dari nol.

Ini merupakan pendekatan yang menarik.

Sering kali konsep kota hijau diasosiasikan dengan kawasan baru yang dibangun menggunakan teknologi modern sejak awal. Padahal, sebagian besar kota dunia sudah terlanjur berdiri.

Karena itu, kemampuan memperbaiki bangunan dan infrastruktur lama menjadi sangat penting.

Di Boao, hotel dan fasilitas konferensi menjalani renovasi hijau.

Dapur hotel telah beralih sepenuhnya menggunakan listrik, sehingga tidak lagi menggunakan api dari bahan bakar konvensional.

Elektrifikasi dapur tersebut disebut mampu memangkas sekitar 7,5 ton emisi karbon dioksida per hari.

Jejak Karbon Bahkan Mulai Dilacak dari Makanan

Pendekatan Boao tidak berhenti pada energi bangunan.

Sekitar seperlima hidangan di hotel juga mulai dilengkapi dengan pelacakan karbon.

Tujuannya adalah membantu konsumen memahami bahwa makanan juga memiliki jejak karbon.

Emisi dari makanan dapat berasal dari proses produksi bahan pangan, transportasi, pendinginan, pengolahan, hingga limbah.

Langkah seperti ini dapat membantu mengubah persepsi bahwa emisi hanya berasal dari pembangkit listrik atau kendaraan.

Hampir setiap aktivitas ekonomi memiliki jejak karbon.

Transportasi dan Bangunan Ikut Berubah

Transformasi Boao mencakup 18 proyek yang berkaitan dengan bangunan hijau, energi terbarukan, dan transportasi.

Kendaraan dan kapal di kawasan tersebut mulai beralih ke energi baru.

Pendekatan ini penting karena sebuah kawasan tidak dapat disebut rendah karbon hanya karena menggunakan panel surya.

Jika transportasinya masih bergantung pada bahan bakar fosil, bangunannya boros energi, dan sampahnya tetap ditimbun, maka pengurangan emisi hanya terjadi sebagian.

Boao mencoba melihat seluruh sistem.

Emisi Turun Hampir 100 Persen

Hasil paling mencolok terlihat dari data emisi energi bangunan dan infrastruktur kota di zona tersebut.

Pada 2019, emisi karbon dioksida terkait energi tercatat sekitar 11.350 ton.

Pada 2025, angka itu turun menjadi hanya sekitar 14,6 ton.

Artinya, penurunan mencapai sekitar 99,9 persen.

Zona tersebut bahkan disebut menghasilkan lebih banyak listrik hijau dibandingkan yang dikonsumsinya.

Ini menunjukkan bahwa retrofit kawasan lama bisa menjadi strategi penting dalam dekarbonisasi.

Kota tidak selalu harus dihancurkan dan dibangun ulang.

Sering kali, perubahan besar dapat dilakukan melalui efisiensi energi, elektrifikasi, energi terbarukan, dan pembaruan infrastruktur secara bertahap.

Mangrove Juga Masuk dalam Strategi Karbon

Pendekatan Hainan tidak hanya berfokus pada teknologi.

Ekosistem alami juga dimasukkan ke dalam strategi pengurangan karbon.

Di Desa Hegui, sekitar 48 hektare mangrove diperkirakan mampu menyerap sekitar 3.236 ton karbon selama tujuh tahun.

Selain melindungi pantai dari gelombang, mangrove tersebut juga memiliki potensi menghasilkan pendapatan melalui kredit karbon.

Estimasi nilai ekonomi yang disebutkan mencapai lebih dari 320.000 yuan bagi kas desa.

Contoh ini menunjukkan bagaimana konservasi dapat dihubungkan dengan insentif ekonomi lokal.

Jika masyarakat mendapatkan manfaat nyata dari perlindungan ekosistem, alasan untuk menjaga kawasan tersebut menjadi semakin kuat.

Target Pulau Rendah Karbon pada 2045

Hainan berencana melanjutkan transformasi ini dalam periode 2026–2030.

Target jangka panjangnya adalah menyelesaikan pembangunan sebagai pulau rendah karbon sebelum 2045.

Provinsi tersebut juga menargetkan pengurangan emisi karbon dioksida tahunan sebesar 70 persen dari tingkat puncaknya.

Strateginya mencakup sektor energi, industri, transportasi, bangunan, serta penguatan penyerap karbon alami.

Pendekatan lintas sektor seperti ini menjadi penting karena emisi tidak berasal dari satu sumber saja.

Pelajaran Penting bagi Kota dan Pulau Lain

Pengalaman Hainan memberikan beberapa pelajaran menarik.

Pertama, pengurangan karbon sebaiknya tidak berdiri sendiri-sendiri.

Pengelolaan sampah, transportasi, energi, bangunan, dan ekosistem harus dilihat sebagai satu sistem.

Kedua, teknologi digital dapat membantu implementasi kebijakan.

Contoh pemantauan penggunaan kantong plastik menunjukkan bahwa data dapat digunakan untuk mendorong perubahan perilaku.

Ketiga, retrofit kawasan lama bisa menjadi strategi yang sangat efektif.

Tidak semua transformasi hijau harus dimulai dari pembangunan baru.

Keempat, alam juga merupakan bagian dari infrastruktur karbon.

Mangrove, hutan, dan ekosistem lain tidak hanya berfungsi sebagai konservasi, tetapi juga membantu menyerap karbon dan melindungi masyarakat.

Rendah Karbon Bukan Sekadar Energi Terbarukan

Salah satu pelajaran terbesar dari Hainan adalah bahwa transisi rendah karbon tidak cukup hanya dengan memasang panel surya.

Kota rendah karbon membutuhkan perubahan dalam cara sampah dikelola, bagaimana bangunan menggunakan energi, bagaimana masyarakat bergerak, bagaimana barang dikonsumsi, dan bagaimana ekosistem dilindungi.

Pengurangan karbon yang efektif terjadi ketika seluruh sistem berubah, bukan hanya ketika satu teknologi diganti.

Hainan menunjukkan bahwa transformasi tersebut dapat dilakukan secara bertahap: dari pasar tradisional hingga hotel, dari dapur listrik hingga kendaraan energi baru, dari PLTSa hingga mangrove.

Jika pendekatan seperti ini dapat terus dikembangkan, pulau tropis tidak hanya menjadi wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim, tetapi juga dapat menjadi laboratorium penting untuk mencari model pembangunan rendah karbon.

Sumber: ANTARA News
https://www.antaranews.com/berita/5770933/jalur-baru-pengurangan-karbon-terbentuk-di-pulau-tropis-china

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO