Berita

Harmoni yang Hilang: Ketika Leluhur Mengajarkan Cara Mengambil Untung Tanpa Merusak Alam

Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang mengeksploitasi alam, masyarakat adat Raja Ampat justru membuktikan bahwa “ambil untung tanpa merugikan” bukan sekadar konsep, melainkan cara hidup turun-temurun. Sementara pertambangan nikel dan industri ekstraktif lain menggerus wilayah mereka, tradisi sasi dan kearifan ekologis leluhur justru menjadi benteng terakhir kelestarian alam sekaligus penopang ekonomi masyarakat.


Pandangan Dunia yang Terpecah

Peradaban modern kerap memisahkan manusia dan alam:
⚡ Era prindustri: Manusia hidup selaras dengan alam, menganggapnya sebagai mitra
⚡ Era industri: Alam direduksi menjadi “sumber daya” untuk dieksploitasi
⚡ Dampaknya: Krisis iklim, polusi, dan bencana ekologis mengancam tatanan kehidupan

Di sisi lain, masyarakat adat Raja Ampat memegang prinsip:

“Laut bukan sekadar sumber ikan, tapi penentu jati diri kami.”


Sasi: Sistem Konservasi yang Hidup Sejak Abad ke-15

Warisan Kesultanan Tidore ini adalah protokol ekologis tertua di Nusantara, menggabungkan:
🔸 Aturan adat (larangan mengambil biota tertentu)
🔸 Kearifan spiritual (kawasan sakral dijaga “tuan tanah” gaib)
🔸 Sanksi sosial & alam (pelanggar dipercaya akan terkena kutukan atau malapetaka)

Contoh praktik sasi di Misool, Raja Ampat:

  • Larang temporal: Kawasan tertentu ditutup 6 bulan–1 tahun
  • Buka sasi: Panen teripang/lobster hanya boleh dilakukan beberapa hari
  • Hasilnya: Populasi biota laut pulih, nilai ekonomi melonjak 300% saat lelang

Perempuan Adat & LSM: Penjaga Tradisi di Tengah Ancaman Tambang

Kelompok perempuan Waifuna di Kampung Kapatcol menghidupkan kembali sasi yang sempat mati. Kolaborasi dengan LSM konservasi membuahkan hasil:
✅ Ekosistem laut pulih
✅ Pendapatan masyarakat naik
✅ Ketahanan pangan terjaga

Sementara itu, tambang nikel di Raja Ampat justru mengancam:
☠️ Terumbu karang terancam sedimentasi
☠️ Kawasan sakral tergusur
☠️ Mata pencaharian tradisional hilang


Pelajaran dari Raja Ampat

  1. Teknologi ≠ Kemajuan: Modernitas tanpa kearifan lokal hanya merusak
  2. Ekonomi & Ekologi Bisa Berdampingan: Sasi buktikan konservasi bisa menguntungkan
  3. Perempuan Adat = Agen Perubahan: Peran krusial dalam memulihkan tradisi

“Sasi bukan sekadar larangan, tapi kontrak suci dengan alam. Kami mengambil sedikit, tapi alam memberi lebih banyak.”
— Nurdina Prasetyo, Peneliti Kearifan Lokal Raja Ampat


Langkah ke Depan

  • Dukung hak masyarakat adat atas pengelolaan wilayah tradisional
  • Tolak tambang destruktif di kawasan ekosensitif seperti Raja Ampat
  • Belajar dari sasi: Terapkan prinsip “ambil secukupnya” dalam kebijakan ekonomi

Sumber:
Kompas.com: “Ambil Untung Tanpa Merugikan, Cara Masyarakat Adat Raja Ampat Hidup Tanpa Tambang”

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO