Indonesia dan Inggris Perkuat Kolaborasi Iklim: Menuju Transisi Energi yang Berkeadilan dan Masa Depan Rendah Karbon

Di tengah semakin mendesaknya krisis iklim global, Indonesia dan Inggris menunjukkan komitmen nyata untuk memperkuat kerja sama bilateral dalam menangani isu-isu lingkungan dan perubahan iklim. Kolaborasi ini ditandai dengan pertemuan penting antara Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, dan Menteri Iklim Inggris, Kerry McCarthy, yang berlangsung di Jakarta pada Kamis, 17 April 2025.
Pertemuan tersebut menandai babak baru dalam hubungan strategis kedua negara, khususnya dalam mempercepat transisi menuju energi bersih dan rendah emisi, mendorong pengembangan pasar karbon nasional yang kredibel, serta memperkuat upaya perlindungan lingkungan hidup secara menyeluruh.
Komitmen Bersama Menjaga Batas 1,5 Derajat Celsius
Dalam dialog bilateral tersebut, kedua menteri kembali menegaskan komitmen Indonesia dan Inggris terhadap pencapaian target Perjanjian Paris, yakni menjaga kenaikan suhu bumi tidak melebihi 1,5 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri. Indonesia secara khusus menargetkan puncak emisi pada tahun 2030 dan mencapai netral karbon paling lambat tahun 2060, atau lebih cepat, dengan sektor kehutanan dan energi menjadi pilar utama dalam transisi ini.
“Kami percaya, kerja sama internasional yang kuat adalah kunci untuk memastikan transisi energi yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang,” ujar Menteri Hanif Faisol Nurofiq.
Membangun Pasar Karbon Nasional yang Kredibel
Salah satu hasil penting dari pertemuan ini adalah kesepakatan untuk membahas High Integrity Carbon Market Opportunity pada bulan Mei 2025 mendatang. Diskusi tersebut akan menjadi wadah strategis untuk memperkuat mekanisme pasar karbon nasional Indonesia, yang saat ini tengah dikembangkan melalui instrumen Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia (SPEI).
Selain itu, Indonesia tengah membangun sistem registri nasional yang kredibel dan transparan, yang tidak hanya diakui secara domestik, tetapi juga dapat dipercaya dalam perdagangan karbon internasional.
Dalam mendukung inisiatif ini, Inggris melalui program UK PACT (Partnering for Accelerated Climate Transitions) mengumumkan dukungan pendanaan sebesar 2,8 juta pound sterling untuk tiga tahun ke depan. Dana tersebut akan digunakan untuk mempercepat penyusunan peta jalan perdagangan karbon lintas sektor di Indonesia, termasuk sektor kehutanan, energi, dan industri.
Penanganan Sampah Plastik: Dari Sungai hingga Lautan
Selain perubahan iklim, persoalan sampah plastik juga menjadi sorotan utama dalam kerja sama ini. Seiring meningkatnya volume sampah plastik di sungai, pantai, dan laut—terutama di daerah wisata seperti Bali—Indonesia terus berupaya memperbarui pendekatan dan strategi pengelolaannya.
Inggris menyatakan dukungannya terhadap pembaruan Rencana Aksi Nasional Polusi Plastik Indonesia, yang akan dilakukan melalui kemitraan dengan World Bank. Selain itu, platform Indonesia National Plastic Action Partnership (NPAP) juga diperkuat untuk mengatasi masalah plastik secara lebih komprehensif, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari sektor publik, swasta, hingga komunitas masyarakat.
Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Pendanaan Hijau
Kerja sama bilateral ini juga mencakup perlindungan keanekaragaman hayati sebagai elemen penting dalam ketahanan lingkungan jangka panjang. Indonesia terus memperkuat pelaksanaan Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) sebagai dokumen strategis nasional yang mengarahkan pengelolaan biodiversitas secara terpadu.
Dalam konteks ini, Inggris menyatakan kesiapannya untuk mendukung upaya pendanaan konservasi melalui berbagai instrumen keuangan hijau. Fokus utamanya adalah pada integrasi valuasi jasa lingkungan—yang mempertimbangkan nilai ekonomi karbon dan manfaat keanekaragaman hayati—dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah.
Lebih jauh, Inggris juga membuka peluang kerja sama dalam penguatan sistem pengawasan hutan dan lahan gambut, serta mendukung pengelolaan lanskap berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
Kolaborasi Menuju Aksi Iklim Global yang Inklusif
Pertemuan ini bukan hanya tentang kerja sama teknis dan finansial, melainkan juga tentang membangun visi bersama untuk masa depan. Kedua negara bersepakat untuk memperbarui nota kesepahaman kerja sama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dengan kementerian mitra di Inggris sebagai bentuk kemitraan strategis global.
“Perlindungan lingkungan bukan hanya soal carbon offset, tetapi juga tentang menjaga keindahan dan kekayaan alam Indonesia untuk generasi mendatang,” kata Menteri Iklim Inggris Kerry McCarthy.
Dengan semangat kolaboratif ini, Indonesia dan Inggris menegaskan peran mereka sebagai pemimpin dalam gerakan global menuju transisi energi berkeadilan, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, dan aksi iklim yang inklusif serta berorientasi masa depan.
Sumber berita:
Antaranews: RI-Inggris Perkuat Kerja Sama Iklim, Dukung Transisi Energi yang Adil
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




