Ini Bukan Filter: Ketika Langit Kalimantan Berubah Warna karena Karhutla

Ini bukan filter. Bukan pula efek kamera yang sengaja dibuat dramatis. Langit yang berubah kuning, oranye hingga kemerahan menjadi gambaran betapa seriusnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang kembali menyelimuti sebagian Kalimantan. Di balik pemandangan yang terlihat tidak biasa itu, ada persoalan yang jauh lebih besar: hutan dan lahan terbakar, petugas berjibaku memadamkan api, sementara masyarakat harus menghirup udara yang kualitasnya memburuk.
Foto dan video langit berwarna pekat mungkin terlihat seperti adegan film.
Tetapi bagi masyarakat yang hidup di wilayah terdampak, ini bukan tontonan.
Ini adalah udara yang harus mereka hirup.
Udara yang masuk ke rumah.
Udara yang menemani anak-anak tidur.
Udara yang dihirup petugas dan relawan ketika berusaha memadamkan kebakaran.
Dan selama sumber api masih ada, asap dapat terus menjadi ancaman.
Ribuan Hotspot Terdeteksi di Kalimantan
Narasi mengenai “ribuan titik panas” bukan sekadar ungkapan hiperbolis jika dilihat dalam periode tertentu dan pada wilayah yang sedang mengalami kebakaran berat.
Di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, misalnya, pemerintah daerah mencatat 9.467 hotspot dalam periode 30 September hingga 13 Oktober 2026.
Sebanyak 7.256 di antaranya tercatat di Kecamatan Mantangai.
Pada 13 Oktober saja, terdapat 1.750 hotspot di Kabupaten Kapuas, dengan 1.333 berada di Mantangai.
Secara kumulatif sejak Januari hingga 13 Oktober 2026, pemerintah Kabupaten Kapuas mencatat 439 kejadian karhutla, 4.129,88 hektare lahan terbakar dan 41.302 hotspot.
Angka hotspot perlu dipahami dengan benar.
Hotspot atau titik panas bukan selalu berarti satu kejadian kebakaran yang berbeda.
Satelit mendeteksi anomali panas pada permukaan bumi. Lokasi kebakaran yang sama dapat terdeteksi lebih dari sekali pada waktu pengamatan berbeda.
Karena itu, jumlah hotspot tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai jumlah kebakaran.
Namun peningkatan dan konsentrasi hotspot tetap merupakan indikator penting untuk membantu mendeteksi wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran.
Palangka Raya Diselimuti Asap Pekat
Dampak kebakaran tersebut sudah terlihat di ibu kota Kalimantan Tengah.
Pada 14 Oktober 2026, ANTARA melaporkan asap pekat akibat karhutla masih menyelimuti Kota Palangka Raya.
Data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalimantan Tengah per 13 Oktober mencatat secara kumulatif 18.050,68 hektare area terbakar dengan 6.255 kejadian karhutla.
Di Barito Selatan, kondisi serupa terjadi.
BPBD setempat menyatakan kabut asap pekat yang menyelimuti wilayah tersebut berkaitan dengan tingginya karhutla lokal.
Pada pemantauan 9 Oktober pukul 06.00 WIB, tercatat 383 hotspot. Data SiPongi yang dikutip pemerintah daerah juga menunjukkan sejumlah desa memiliki akumulasi hotspot tinggi sepanjang periode 1 Agustus–8 Oktober 2026.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kabut asap bukan fenomena abstrak.
Ada kebakaran nyata di baliknya.
Mengapa Langit Bisa Berubah Oranye?
Ketika asap memenuhi atmosfer, partikel-partikel di udara memengaruhi perjalanan cahaya matahari menuju mata kita.
Cahaya matahari sebenarnya terdiri atas berbagai panjang gelombang.
Dalam kondisi atmosfer normal, proses hamburan cahaya membantu membuat langit terlihat biru.
Ketika konsentrasi aerosol dan partikel dari asap meningkat sangat tinggi, karakter hamburan dan penyerapan cahaya ikut berubah.
Cahaya dengan warna tertentu dapat semakin berkurang sebelum mencapai mata, sementara warna kuning, oranye hingga merah menjadi lebih dominan.
Kondisi tersebut dapat semakin dramatis ketika posisi matahari rendah, misalnya pada pagi atau sore hari.
Karena itu, langit berwarna oranye yang muncul ketika kabut asap sangat pekat bukan sekadar fenomena visual.
Ia dapat menjadi salah satu tanda bahwa terdapat banyak partikel di atmosfer.
Namun warna langit saja tidak dapat digunakan untuk menentukan tingkat bahaya kualitas udara.
Untuk mengetahui risikonya, dibutuhkan pengukuran polutan seperti PM2.5 serta parameter kualitas udara lainnya.
Yang Tidak Terlihat Justru Bisa Lebih Berbahaya
Asap karhutla terdiri dari campuran kompleks gas dan partikel.
Salah satu komponen yang paling menjadi perhatian kesehatan adalah PM2.5.
PM2.5 adalah partikel dengan diameter aerodinamis sekitar 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Ukurannya sangat kecil.
Jauh lebih kecil dibandingkan diameter rambut manusia.
Karena ukurannya tersebut, partikel dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Inilah mengapa persoalan kabut asap tidak cukup dinilai berdasarkan apakah mata terasa perih atau apakah bau asap tercium.
Udara yang terlihat tidak terlalu pekat pun dapat mengandung konsentrasi partikel yang tidak sehat.
Sebaliknya, ketika kabut sudah begitu tebal hingga mengurangi jarak pandang dan mengubah warna langit, masyarakat perlu memperlakukan kondisi tersebut dengan sangat serius dan mengikuti informasi kualitas udara serta arahan otoritas kesehatan.
Bayi dan Anak-Anak Menjadi Kelompok yang Perlu Dilindungi
Narasi yang Anda bagikan menyoroti bayi, balita dan lansia.
Kelompok-kelompok tersebut memang memerlukan perhatian khusus ketika kualitas udara memburuk.
Anak-anak memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang.
Mereka juga cenderung memiliki aktivitas fisik relatif tinggi sehingga dapat menghirup udara lebih banyak dibandingkan ukuran tubuhnya.
Lansia dapat memiliki kondisi kesehatan yang membuat mereka lebih rentan terhadap pencemaran udara.
Orang dengan asma, penyakit paru, penyakit kardiovaskular atau kondisi kesehatan tertentu juga memerlukan perlindungan tambahan.
Namun penting pula dipahami bahwa asap karhutla bukan hanya masalah bagi kelompok rentan.
Paparan konsentrasi polutan yang tinggi juga dapat memengaruhi orang dewasa yang sebelumnya sehat.
Masker Tidak Semuanya Sama
Ketika kabut asap terjadi, masyarakat sering membagikan masker.
Itu sangat membantu, tetapi jenis masker juga perlu diperhatikan.
Masker kain sederhana atau masker yang longgar tidak dirancang untuk memberikan filtrasi optimal terhadap partikel halus seperti PM2.5.
Respirator partikulat yang terpasang dengan baik, seperti N95 atau standar filtrasi partikulat setara, memberikan perlindungan terhadap partikel jauh lebih baik dibandingkan masker kain biasa.
Namun efektivitasnya sangat bergantung pada fit atau kerapatan masker terhadap wajah.
Jika terdapat banyak celah di sisi masker, udara dapat masuk tanpa melewati material filtrasi.
Masker juga bukan solusi tunggal.
Pada kondisi kualitas udara sangat buruk, mengurangi paparan tetap menjadi prioritas.
Rumah Seharusnya Menjadi Ruang Perlindungan
Ketika udara luar tercemar berat, rumah idealnya menjadi tempat dengan paparan lebih rendah.
Pintu dan jendela dapat ditutup ketika konsentrasi asap di luar sedang tinggi.
Sumber polusi tambahan di dalam ruangan sebaiknya dikurangi.
Apabila tersedia, perangkat penyaring udara dengan filtrasi partikulat yang memadai dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel dalam ruangan.
Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara buruk karena semakin berat aktivitas seseorang, semakin banyak udara yang dihirup.
Informasi kualitas udara setempat menjadi penting untuk menentukan kapan aktivitas luar ruang perlu dibatasi.
Air Bersih dan Logistik Tetap Penting
Dalam situasi bencana karhutla, kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada masker.
Air bersih menjadi kebutuhan dasar.
Petugas lapangan membutuhkan makanan dan minuman.
Posko membutuhkan perlengkapan.
Relawan bekerja dalam kondisi panas, berasap dan melelahkan.
Masyarakat terdampak mungkin membutuhkan layanan kesehatan.
Tetapi untuk bantuan medis dan kesehatan, kebutuhan sebaiknya dikoordinasikan dengan fasilitas kesehatan atau posko resmi agar barang yang dikirim benar-benar sesuai kebutuhan.
Termasuk soal vitamin.
Vitamin dapat menjadi bagian dari pemenuhan nutrisi seseorang, tetapi vitamin bukan penawar PM2.5 dan bukan pengganti perlindungan terhadap paparan asap.
Perlindungan utama tetap mengurangi paparan, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika diperlukan, menjaga kualitas udara dalam ruangan, dan mendapatkan pertolongan medis apabila muncul gejala yang mengkhawatirkan.
Relawan Berhadapan Langsung dengan Api dan Asap
Di balik setiap berita mengenai luas lahan terbakar terdapat orang-orang yang bekerja di lapangan.
Petugas pemerintah.
Manggala Agni.
BPBD.
TNI dan Polri.
Masyarakat Peduli Api.
Pemadam kebakaran.
Relawan.
Dan warga setempat.
Pada penanganan karhutla di Kalimantan Selatan, Kementerian Kehutanan secara khusus menyebut keterlibatan berbagai unsur tersebut dalam operasi lapangan.
Pekerjaan mereka tidak mudah.
Kebakaran lahan, terutama pada kawasan gambut, memiliki karakter berbeda dari kebakaran permukaan biasa.
Api dapat bertahan di bawah permukaan.
Lokasi kebakaran juga tidak selalu mudah dijangkau.
Sumber air dapat berada jauh dari titik api.
Kabut asap bahkan dapat menghambat operasi udara.
Di Taman Nasional Tanjung Puting, misalnya, Kementerian Kehutanan menyatakan pemadaman menghadapi tantangan berupa luas wilayah, akses menuju titik api dan karakteristik gambut. Kabut asap yang tebal juga membatasi jarak pandang sehingga menjadi pertimbangan keselamatan dalam operasi helikopter.
Gambut Membuat Kebakaran Jauh Lebih Sulit
Sebagian wilayah Kalimantan memiliki ekosistem gambut.
Gambut terbentuk dari akumulasi material organik dalam kondisi jenuh air selama waktu yang sangat panjang.
Dalam keadaan alami yang basah, ekosistem tersebut menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Masalah muncul ketika gambut kehilangan air dan mengering.
Material organiknya dapat menjadi mudah terbakar.
Api kemudian tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat merambat pada lapisan organik.
Kebakaran seperti ini sangat sulit dipadamkan.
Permukaan mungkin terlihat tidak lagi memiliki nyala api.
Tetapi bagian bawah masih dapat menyimpan panas dan bara.
Itulah mengapa pembasahan berkelanjutan sangat penting.
Menteri Kehutanan bahkan mengingatkan bahwa lahan gambut yang telah terbakar dapat kembali menyala sehingga titik yang masih mengeluarkan asap perlu terus dibasahi meskipun api sudah tidak terlihat di permukaan.
Memadamkan Api Saja Tidak Cukup
Setiap musim karhutla, sumber daya besar dikerahkan untuk memadamkan kebakaran.
Petugas turun.
Pompa dioperasikan.
Helikopter melakukan water bombing ketika kondisi memungkinkan.
Posko dibangun.
Masker dibagikan.
Semua tindakan tersebut diperlukan ketika krisis sudah terjadi.
Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Mengapa kita terus menunggu api muncul sebelum bertindak?
Penanganan karhutla seharusnya memiliki dua lapisan.
Pertama adalah respons darurat.
Kedua—dan jauh lebih strategis—adalah pencegahan.
Pencegahan berarti menjaga gambut tetap basah.
Mendeteksi api sedini mungkin.
Mengelola vegetasi dan bahan mudah terbakar secara tepat.
Mencegah penggunaan api yang tidak terkendali.
Memperkuat patroli.
Menindak pelanggaran berdasarkan bukti.
Memulihkan ekosistem yang rusak.
Dan memastikan masyarakat memiliki pilihan pengelolaan lahan tanpa harus bergantung pada pembakaran.
Hotspot Bukan Sekadar Angka di Peta
Ada kecenderungan melihat karhutla melalui angka.
500 hotspot.
1.000 hotspot.
10.000 hotspot.
Ribuan hektare.
Puluhan ribu hektare.
Angka memang diperlukan untuk memahami skala.
Tetapi setiap titik pada peta memiliki konsekuensi di dunia nyata.
Di suatu tempat ada petugas yang harus mencapainya.
Ada vegetasi yang terbakar.
Ada satwa yang kehilangan habitat.
Ada karbon dan polutan yang dilepaskan.
Ada sekolah yang mungkin harus menyesuaikan aktivitas.
Ada keluarga yang menutup jendela sepanjang hari.
Ada anak yang batuk.
Ada lansia yang kesulitan bernapas.
Dan ada masyarakat yang bertanya kapan mereka dapat kembali melihat langit biru.
Karhutla Juga Merupakan Krisis Ekologi
Asap membuat dampak terhadap manusia terlihat sangat jelas.
Tetapi setelah asap hilang, kerusakan ekologis dapat tetap berlangsung.
Vegetasi terbakar.
Habitat terfragmentasi.
Organisme tanah terdampak.
Satwa dapat kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung.
Ekosistem gambut yang rusak dapat membutuhkan waktu sangat panjang untuk pulih.
Kebakaran yang berulang pada lokasi yang sama bahkan dapat mengubah karakter vegetasi.
Karena itu, ukuran keberhasilan penanganan karhutla tidak seharusnya hanya:
“Apakah asap sudah hilang?”
Pertanyaan berikutnya harus:
“Apakah ekosistemnya dipulihkan sehingga kebakaran tidak terus berulang?”
Ketika Langit Kembali Biru, Jangan Lupakan Krisisnya
Ada pola yang sering terjadi dalam bencana lingkungan.
Ketika asap datang, perhatian meningkat.
Foto tersebar.
Masker dibagikan.
Media memberitakan.
Pemerintah mengadakan rapat.
Masyarakat marah.
Kemudian hujan turun.
Api padam.
Langit kembali biru.
Perhatian berpindah.
Sampai musim berikutnya datang.
Siklus tersebut harus diputus.
Justru ketika api sudah padam, pekerjaan jangka panjang seharusnya dimulai.
Evaluasi lokasi yang berulang kali terbakar.
Pemulihan gambut.
Penegakan hukum jika ditemukan pelanggaran.
Perbaikan tata kelola lahan.
Pembangunan sistem peringatan dini.
Penguatan kapasitas desa.
Penyediaan sarana pemadaman.
Dan pemantauan kesehatan masyarakat terdampak.
Ini Bukan Filter
Kalimat itu pada akhirnya menggambarkan lebih dari sekadar warna langit.
Ini bukan filter.
Artinya, kita tidak dapat menggeser layar lalu membuat warnanya kembali normal.
Tidak ada tombol reset untuk hutan yang terbakar.
Tidak ada efek digital yang dapat membersihkan paru-paru setelah terpapar polusi.
Tidak ada aplikasi yang dapat mengembalikan gambut yang rusak dalam semalam.
Langit oranye adalah bagian yang terlihat.
Krisis sebenarnya jauh lebih dalam.
Ia berada di lahan yang terbakar.
Di gambut yang mengering.
Di udara yang dipenuhi partikel.
Di tubuh masyarakat yang menghirupnya.
Di antara petugas yang masih memegang selang pemadam ketika sebagian dari kita sudah berhenti mengikuti beritanya.
Karena itu, solidaritas memang diperlukan.
Masker diperlukan.
Air bersih diperlukan.
Logistik bagi petugas dan warga terdampak diperlukan.
Tetapi setelah kebutuhan darurat terpenuhi, kita tidak boleh berhenti di sana.
Yang paling dibutuhkan Kalimantan bukan kemampuan untuk terus hidup bersama asap, melainkan keberanian dan konsistensi untuk memastikan kebakaran sebesar ini tidak terus menjadi rutinitas.
Suatu hari langit akan kembali biru.
Ketika hari itu datang, jangan biarkan warna biru membuat kita lupa bahwa beberapa hari sebelumnya jutaan orang harus melihat matahari melalui lapisan asap.
Sebab langit oranye itu bukan filter.
Ia adalah peringatan.




