Berita

Jakarta dan Turki Kolaborasi Atasi Sampah: Wali Kota Şahinbey Belajar Strategi Inklusif dari Ibukota Indonesia

Dalam upaya memperkuat pengelolaan sampah berkelanjutan, Wali Kota Şahinbey, Gaziantep, Turki, Mehmet Tahmazoglu , melakukan kunjungan kerja ke Jakarta untuk mempelajari pendekatan inklusif yang mengintegrasikan pekerja sampah informal ke dalam sistem formal. Kunjungan ini difasilitasi oleh program Plastic Smart Cities dari World Wide Fund for Nature (WWF) dan bertujuan mengeksplorasi praktik baik antarkedua kota dalam menghadapi tantangan sampah plastik di perkotaan padat penduduk.

Inklusi Pekerja Sampah: Kunci Sukses Jakarta

Dalam pertemuan di Jakarta, Wali Kota Jakarta Utara Ali Maulana Hakim menyambut baik kolaborasi ini dan menekankan pentingnya melibatkan pekerja sampah informal dalam rantai nilai pengelolaan limbah. “Kami merasa terhormat dapat berbagi pengalaman dengan teman-teman dari Turki dan bangga bahwa pendekatan berbasis komunitas kami mendapatkan pengakuan. Keberhasilan ini datang dari kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.

Ali menjelaskan, Jakarta telah merancang sistem yang menghubungkan pemerintah daerah, pelaku usaha kecil, dan organisasi masyarakat untuk memberikan pengakuan sosial dan kondisi kerja yang lebih baik kepada pemulung. “Pekerja sampah informal adalah penjaga lingkungan yang layak mendapat martabat. Mereka tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menjadi tulang punggung daur ulang,” tambahnya.

Model Integrasi di Jakarta: Dari Lapak hingga Bank Sampah

Sebagai bagian dari kunjungan, delegasi Turki mengunjungi sejumlah fasilitas di Jakarta, termasuk Lapak UD Mulia Jaya, Bank Sampah Induk Kumala, TPS3R Joe, Lapak Gudang 45, dan Waste4Change Supplier Point . Fasilitas ini menunjukkan berbagai model integrasi pemulung ke dalam sistem formal, seperti pemberian pendapatan tetap, pelatihan daur ulang, dan akses ke pasar daur ulang.

Misalnya, Bank Sampah Induk Kumala di Jakarta Utara telah berhasil meningkatkan pendapatan pemulung hingga 40% melalui skema koperasi. Sementara TPS3R Joe menggabungkan teknologi pemilahan otomatis dengan partisipasi aktif pemulung dalam proses daur ulang plastik. “Ini bukan sekadar pengelolaan sampah, tetapi juga pemberdayaan ekonomi,” kata Ali.

Apresiasi dari Şahinbey: Belajar dari Pengalaman Jakarta

Mehmet Tahmazoglu mengakui bahwa Jakarta telah berhasil menggabungkan solusi lingkungan dengan pemberdayaan sosial. “Pendekatan Indonesia dalam sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat tidak hanya mengatasi tantangan lingkungan akibat sampah plastik, tetapi juga mengakui peran penting pekerja sampah informal dalam rantai nilai daur ulang. Hal ini sangat relevan bagi Şahinbey,” katanya.

Şahinbey, distrik terbesar di Kota Gaziantep, mulai menerapkan program serupa sejak 2024 melalui kolaborasi dengan WWF-Turki dan proyek Uni Eropa selama tiga tahun. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup pekerja sampah dengan mengintegrasikan mereka ke dalam sistem formal. “Kami ingin mengubah stigma bahwa pekerja sampah adalah warga pinggiran. Mereka adalah mitra strategis dalam transisi ekonomi sirkular,” ujar Mehmet.

Global Lessons: Peran WWF dalam Pertukaran Praktik Baik

Program Plastic Smart Cities WWF menjadi platform kritis bagi pertukaran pengetahuan antarnegara. Sejak diluncurkan pada 2020, inisiatif ini telah menghubungkan 25 kota di Asia, Afrika, dan Eropa untuk berbagi solusi pengelolaan plastik. Di Jakarta, WWF mendukung pengembangan Sistem Manajemen Sampah Terpadu (SIMASTER) yang mengintegrasikan 80% pemulung informal ke dalam ekosistem daur ulang.

Menurut Direktur WWF-Indonesia, Arief Wicaksono , kolaborasi ini membuktikan bahwa krisis sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan teknologi atau regulasi. “Perubahan membutuhkan pendekatan holistik—mengakui hak sosial pekerja sampah, meningkatkan infrastruktur, dan melibatkan sektor swasta. Jakarta dan Şahinbey adalah contoh bahwa kota-kota global bisa saling belajar,” katanya.

Tantangan dan Harapan: Menuju Ekonomi Sirkular

Meski progresnya menggembirakan, kedua kota menghadapi tantangan serupa: kurangnya kesadaran masyarakat akan pemilahan sampah, keterbatasan anggaran daur ulang, dan resistensi dari kelompok yang menolak formalisasi pemulung. Namun, Mehmet percaya bahwa langkah Jakarta bisa direplikasi di Turki dengan adaptasi lokal. “Kita tidak perlu menciptakan solusi dari nol. Kita bisa belajar dari keberhasilan orang lain dan memodifikasinya sesuai konteks kita,” ujarnya.

Ali pun menambahkan, “Kolaborasi internasional seperti ini membuka jalan untuk inovasi. Mungkin suatu hari nanti, Şahinbey dan Jakarta bisa bersama-sama mengekspor teknologi daur ulang atau model bisnis ramah lingkungan.”

Masa Depan Bersama: Kota Bebas Sampah, Masyarakat Berdaya

Kunjungan ini menjadi awal dari kemitraan strategis yang lebih luas. Rencananya, kedua kota akan meluncurkan “Sister City Waste Management” pada akhir 2025, yang mencakup pertukaran tenaga ahli, pelatihan pemulung, dan proyek daur ulang bersama.

Dengan pendekatan inklusif dan kolaboratif, Jakarta dan Şahinbey berharap menjadi inspirasi bagi kota-kota lain yang ingin mengatasi krisis sampah tanpa meninggalkan kelompok rentan. Seperti kata Mehmet, “Keberhasilan kota hijau bukan hanya diukur dari udara bersih, tetapi juga dari martabat manusia yang terjaga.”

Sumber : Antara News

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO