Jateng Dorong Gerakan Bersama Atasi Sampah: Bukan Hanya Tugas Pemerintah

SEMARANG – Persoalan sampah di Jawa Tengah tidak mungkin diselesaikan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, komunitas, dunia usaha, hingga pemerintah daerah untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari satu hal mendasar, yaitu kesadaran masyarakat terhadap sampah yang mereka hasilkan.
Hal tersebut disampaikan saat menerima audiensi pengurus World Cleanup Day (WCD) Jawa Tengah di Semarang, Selasa.
Menurut Ahmad Luthfi, kegiatan WCD dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah.
“Yang paling pokok adalah kesadaran.”
Setiap Daerah Punya Solusi Berbeda
Jawa Tengah memiliki wilayah yang luas dengan karakteristik dan persoalan persampahan yang berbeda-beda. Karena itu, penanganannya tidak dapat menggunakan satu pendekatan yang sama untuk seluruh daerah.
Sejumlah wilayah telah mengembangkan inovasi sesuai dengan kondisi lokal. Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) di Cilacap dan Banyumas.
RDF memungkinkan sampah yang telah diproses dan memenuhi persyaratan tertentu dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
Keberadaan berbagai inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
World Cleanup Day Jangan Berhenti pada Aksi Bersih-Bersih
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan dukungan terhadap rangkaian kegiatan World Cleanup Day 2026.
Namun, gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan membersihkan lingkungan dalam satu hari atau satu momentum tertentu.
Menurut Gubernur Ahmad Luthfi, kegiatan harus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak daerah. Bupati, wali kota, komunitas, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan ikut terlibat.
Pesan tersebut penting karena membersihkan sampah yang sudah berserakan hanya menyelesaikan sebagian kecil persoalan.
Tanpa perubahan perilaku dan sistem pengelolaan dari sumbernya, sampah akan kembali muncul.
“Bebersih Pemuda-Pemudi untuk Memerdekakan Sampah”
Leader World Cleanup Day Jawa Tengah Septiany Punti Dewi mengatakan rangkaian WCD tahun kedelapan di Jawa Tengah akan berlangsung pada 17 Agustus hingga 28 Oktober 2026.
Tahun ini, kegiatan mengangkat tema:
“Bebersih Pemuda-Pemudi untuk Memerdekakan Sampah.”
World Cleanup Day sendiri merupakan gerakan global yang melibatkan masyarakat di berbagai negara. Indonesia menjadi salah satu negara yang berpartisipasi dalam gerakan tersebut.
Jawa Tengah juga memiliki catatan positif dalam partisipasi relawan. Menurut WCD Jateng, provinsi tersebut secara konsisten menjadi salah satu wilayah dengan jumlah relawan yang sangat besar.
Capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan pemerintah, dinas lingkungan hidup, komunitas, relawan, dan masyarakat.
Sekolah Jadi Tempat Mengubah Kebiasaan
Salah satu program yang telah dijalankan WCD Jawa Tengah adalah Zero Waste School atau Sekolah Bebas Sampah di Kabupaten Kudus.
Program tersebut tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga para guru.
Guru memiliki peran penting karena pendidikan lingkungan tidak cukup hanya diberikan dalam bentuk teori. Anak-anak membutuhkan contoh nyata dari orang dewasa di lingkungan sekolah.
Kebiasaan memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih layak, hingga menjaga kebersihan lingkungan dapat menjadi bagian dari budaya sekolah.
Harapannya, kebiasaan tersebut tidak berhenti di sekolah, tetapi dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan keluarga.
Sampah Bukan Hanya Urusan Pemerintah
Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah adalah pola pikir bahwa persoalan sampah sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Padahal, sampah muncul dari aktivitas setiap orang.
Karena itu, tanggung jawab juga harus dimulai dari sumbernya. Masyarakat perlu memahami bahwa membuang sampah pada tempatnya hanyalah langkah awal. Yang lebih penting adalah mengurangi sampah, memilahnya, dan memastikan sampah dikelola dengan benar.
Edukasi yang berkelanjutan diperlukan untuk membangun kesadaran tersebut. Di sisi lain, regulasi dan sanksi juga dapat diperkuat agar tanggung jawab masyarakat terhadap sampah memiliki dasar yang jelas.
Menuju Jawa Tengah Bebas Sampah
Target Jawa Tengah untuk menuju kondisi bebas sampah membutuhkan lebih dari sekadar program pemerintah.
Diperlukan perubahan budaya.
Ketika rumah tangga mulai memilah sampah, sekolah membangun budaya zero waste, komunitas menggerakkan warga, dunia usaha mengurangi sampah dari produk dan kemasannya, serta pemerintah membangun sistem pengelolaan yang memadai, maka perubahan dapat terjadi secara lebih menyeluruh.
Sampah tidak akan hilang hanya karena kita membersihkannya hari ini. Sampah akan benar-benar berkurang ketika cara kita menghasilkan, menggunakan, dan mengelolanya ikut berubah.
Dan mungkin, itulah makna sebenarnya dari “memerdekakan sampah”: bukan sekadar membuat lingkungan terlihat bersih, tetapi membebaskan masyarakat dari kebiasaan menghasilkan dan membuang sampah tanpa tanggung jawab.
https://www.antaranews.com/berita/5689528/gubernur-jateng-penanganan-sampah-butuh-aksi-bersama




