Berita

Kalimantan Tengah Masih Terbakar: Saatnya Tidak Hanya Menonton Asap dari Kejauhan

Di tengah kabut asap yang menyelimuti sebagian Kalimantan Tengah, ada orang-orang yang justru bergerak mendekati sumber api. Petugas pemadam, relawan, masyarakat, tenaga kesehatan dan berbagai organisasi kemanusiaan bekerja di lapangan ketika sebagian besar dari kita hanya melihat kebakaran melalui layar. Karhutla bukan sekadar persoalan berapa hektare lahan yang terbakar. Di balik asap terdapat manusia yang harus tetap bernapas, anak-anak yang harus dilindungi, relawan yang membutuhkan dukungan, dan ekosistem yang sedang berjuang bertahan.

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah pada 2026 bukan sekadar konten yang viral di media sosial.

Pada awal hingga pertengahan Oktober, wilayah ini berulang kali menjadi salah satu pusat perhatian pengendalian karhutla nasional.

Hotspot muncul di berbagai kabupaten.

Petugas bergerak melakukan operasi darat.

Pemadaman udara dilakukan pada lokasi tertentu.

Masyarakat menghadapi asap.

Dan di lapangan, kebutuhan untuk menjaga kesehatan sekaligus mengendalikan api terus berjalan.

Ketika situasinya seperti ini, pertanyaannya bukan lagi:

“Seberapa parah kebakarannya?”

Ada pertanyaan lain yang sama pentingnya:

“Apa yang bisa kita lakukan?”

Hotspot Masih Terdeteksi di Berbagai Wilayah

Pemantauan pada Oktober 2026 memperlihatkan dinamika hotspot yang sangat cepat.

Jumlah titik panas dapat meningkat atau menurun dalam waktu singkat tergantung kondisi cuaca, aktivitas kebakaran dan hasil pemadaman.

Kalimantan Tengah beberapa kali mencatat konsentrasi hotspot tinggi dibandingkan provinsi prioritas lainnya.

Bahkan pemantauan pada 18 Oktober masih menunjukkan anomali termal di sejumlah wilayah seperti Pulang Pisau, Katingan, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau, Barito Selatan hingga Palangka Raya.

Namun satu hal perlu dipahami:

hotspot bukan selalu berarti satu titik sama dengan satu kebakaran.

Hotspot merupakan anomali panas yang terdeteksi sensor satelit.

Satu kebakaran besar dapat menghasilkan beberapa deteksi.

Sebaliknya, tidak semua anomali termal otomatis dapat disimpulkan sebagai kebakaran hutan tanpa verifikasi lapangan.

Karena itu, data satelit harus dibaca bersama informasi ground check.

Tetapi Bagi Warga, Krisis Tidak Datang dalam Bentuk Angka

Masyarakat tidak menghirup “hotspot”.

Mereka menghirup udara.

Ketika asap karhutla menyebar, partikel sangat kecil dapat ikut berada di atmosfer.

Salah satu yang paling mendapat perhatian dalam pencemaran asap adalah PM2.5.

Ukurannya sangat kecil—diameter aerodinamisnya tidak lebih dari sekitar 2,5 mikrometer.

Karena ukurannya, partikel tersebut dapat masuk jauh ke sistem pernapasan.

Itulah mengapa kabut asap bukan sekadar persoalan:

langit menjadi kelabu,

mata terasa tidak nyaman,

atau pakaian berbau asap.

Ini merupakan persoalan kesehatan masyarakat.

Anak-anak dan Lansia Membutuhkan Perhatian Lebih

Dampak asap tidak sama pada setiap orang.

Anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian karena sistem tubuh dan pernapasan mereka masih berkembang.

Mereka juga menghirup udara lebih banyak relatif terhadap ukuran tubuhnya dibandingkan orang dewasa.

Lansia memiliki kerentanan berbeda.

Begitu pula orang dengan asma, penyakit paru, penyakit kardiovaskular dan kondisi kesehatan tertentu.

Namun kelompok sehat pun bukan berarti kebal.

Ketika konsentrasi polutan cukup tinggi, siapa pun dapat mengalami dampaknya.

Karena itu, perlindungan terhadap masyarakat selama karhutla bukan tindakan berlebihan.

Ia merupakan bagian dari respons kesehatan masyarakat.

Masker Menjadi Salah Satu Kebutuhan

Ketika kualitas udara buruk dan paparan tidak dapat sepenuhnya dihindari, perlindungan pernapasan menjadi penting.

Masker atau respirator partikulat yang sesuai dan terpasang dengan baik memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel dibandingkan masker kain yang longgar.

Tetapi masker bukan satu-satunya solusi.

Paparan juga perlu dikurangi.

Aktivitas fisik berat di luar ruangan dapat dikurangi ketika kualitas udara sangat buruk.

Pintu dan jendela dapat ditutup ketika udara luar lebih tercemar.

Sumber pencemaran udara di dalam rumah juga perlu diminimalkan.

Jika tersedia, filtrasi udara yang sesuai dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.

Perlindungan terbaik tetap:

mengurangi jumlah asap yang masuk ke tubuh.

Air Bersih Juga Menjadi Bagian dari Respons

Ketika bencana berlangsung, kebutuhan tidak hanya berkaitan dengan pemadaman.

Masyarakat dan relawan tetap membutuhkan air.

Untuk minum.

Menyiapkan makanan.

Membersihkan diri.

Menjaga sanitasi.

Mencuci mata dan wajah setelah terpapar lingkungan berasap.

Dan berbagai kebutuhan dasar lainnya.

Pada wilayah yang juga mengalami musim kering, persoalan menjadi lebih rumit karena sumber air dapat berada dalam tekanan.

Air dibutuhkan masyarakat.

Air dibutuhkan relawan.

Dan air dalam jumlah sangat besar juga dibutuhkan untuk mengendalikan kebakaran.

Relawan Berhadapan dengan Kondisi yang Tidak Ringan

Ketika melihat video pemadaman, kita mungkin hanya melihat beberapa menit.

Di lapangan, pekerjaan dapat berlangsung jauh lebih panjang.

Panas.

Asap.

Debu.

Medan yang sulit.

Jarak menuju sumber air.

Peralatan yang harus dibawa.

Kelelahan.

Dan risiko kesehatan.

Pada kebakaran gambut, pekerjaan bahkan dapat menjadi lebih rumit.

Api tidak selalu terlihat sebagai kobaran besar di permukaan.

Panas dapat bertahan pada lapisan organik.

Asap dapat terus keluar.

Bagian yang tampak padam belum tentu sepenuhnya aman.

Karena itu, dukungan terhadap relawan bukan hanya menyediakan tenaga tambahan.

Mereka membutuhkan perlengkapan yang sesuai, air, logistik, perlindungan kesehatan, komunikasi dan dukungan operasional.

Karhutla di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan

Kalimantan Tengah memiliki bentang alam gambut yang luas.

Gambut terbentuk dari material organik yang terakumulasi dalam kondisi basah selama waktu sangat panjang.

Dalam kondisi alami, air merupakan bagian penting dari sistem ini.

Persoalan muncul ketika gambut kehilangan kelembapan.

Material organik yang kering dapat terbakar.

Api dapat merambat melalui bagian bawah permukaan.

Inilah mengapa pemadaman gambut dapat membutuhkan pembasahan yang jauh lebih menyeluruh dibandingkan hanya memadamkan api yang terlihat.

Asap juga dapat terus muncul meskipun kobaran di permukaan sudah tidak terlihat.

Memadamkan Api Saja Tidak Cukup

Respons darurat memang diperlukan ketika kebakaran sedang terjadi.

Tetapi Indonesia tidak bisa terus berhenti pada pola:

kebakaran → pemadaman → hujan → lupa → kebakaran lagi.

Setelah musim kebakaran selesai, pertanyaan yang lebih sulit harus dijawab.

Mengapa kawasan tersebut terbakar?

Bagaimana kondisi hidrologinya?

Apakah pernah terbakar sebelumnya?

Apakah terdapat aktivitas manusia yang meningkatkan risiko?

Bagaimana penggunaan lahannya?

Apakah pencegahan sudah dilakukan sebelum kemarau?

Apakah masyarakat memiliki peralatan pemadaman awal?

Apakah sumber air tersedia?

Apakah restorasi diperlukan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menentukan apakah kebakaran berikutnya dapat dicegah.

Donasi Membantu Krisis Hari Ini, Pencegahan Mengurangi Krisis Berikutnya

Ketika bencana sedang berlangsung, bantuan kemanusiaan mempunyai fungsi yang jelas.

Membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Mendukung relawan.

Menyediakan perlengkapan.

Membantu pelayanan kesehatan.

Mendukung operasi lapangan sesuai program organisasi yang menjalankannya.

Tetapi solidaritas terhadap karhutla sebaiknya tidak berhenti ketika asap menghilang dari media sosial.

Kita juga perlu mendukung upaya jangka panjang:

restorasi gambut,

perlindungan hutan,

pencegahan kebakaran,

penguatan masyarakat,

penegakan hukum,

pemantauan kawasan,

pengelolaan air,

serta pendidikan mengenai penggunaan api.

Karena biaya mencegah kebakaran pada dasarnya tidak dapat dibandingkan hanya dengan biaya memadamkan api.

Ketika hutan sudah terbakar, kita juga kehilangan karbon, habitat, kualitas udara dan berbagai fungsi ekosistem.

Bersuaralah, tetapi Pastikan Informasinya Benar

Media sosial memiliki kekuatan besar ketika terjadi bencana.

Satu unggahan dapat menjangkau ribuan orang.

Satu video dapat membuat persoalan yang jauh di Kalimantan terlihat oleh orang di Jakarta, Surabaya, Bandung atau kota lainnya.

Satu kampanye dapat menggerakkan bantuan.

Tetapi kekuatan tersebut membawa tanggung jawab.

Sebelum membagikan informasi, periksa tanggal.

Pastikan foto dan video memang berasal dari kejadian yang disebutkan.

Jangan menggunakan dokumentasi kebakaran lama seolah-olah merupakan kejadian hari ini.

Jangan menyebut angka korban, hotspot atau luas kebakaran tanpa sumber.

Jangan langsung menuduh pihak tertentu sebagai penyebab kebakaran tanpa bukti.

Dan ketika membagikan penggalangan dana, periksa organisasi, program dan kanal resminya.

Solidaritas yang baik membutuhkan informasi yang baik.

Donasi Juga Perlu Dilakukan dengan Bijak

Ketika melihat penderitaan akibat bencana, keinginan membantu dapat muncul secara spontan.

Itu hal yang baik.

Tetapi donatur tetap perlu melakukan pemeriksaan sederhana.

Siapa organisasi pengelolanya?

Apa programnya?

Apakah terdapat kanal resmi?

Untuk apa dana digunakan?

Apakah organisasi memberikan pembaruan kegiatan?

Apakah terdapat informasi kontak?

Dalam materi kampanye ini, ajakan bantuan diarahkan kepada program Respon Darurat Karhutla dari Relawan Nusantara.

Relawan Nusantara memang mencantumkan “Respon Darurat Karhutla” sebagai salah satu program pada situs organisasinya.

Calon donatur tetap sebaiknya memeriksa kembali halaman kampanye dan informasi terbaru sebelum melakukan transaksi.

Tidak Memiliki Uang Bukan Berarti Tidak Bisa Membantu

Solidaritas tidak selalu berbentuk uang.

Membagikan informasi terverifikasi juga membantu.

Mengedukasi orang mengenai dampak asap membantu.

Mendorong perhatian terhadap perlindungan gambut membantu.

Mendukung organisasi lingkungan dan kemanusiaan yang kredibel membantu.

Mengurangi penyebaran informasi palsu juga merupakan kontribusi.

Dan bagi masyarakat di wilayah terdampak, saling memperhatikan kelompok rentan merupakan tindakan yang sangat berarti.

Periksa tetangga lansia.

Perhatikan anak-anak.

Pastikan mereka memiliki akses air.

Bantu mendapatkan perlindungan pernapasan yang sesuai.

Bantu mencari fasilitas kesehatan ketika muncul keluhan serius.

Dalam bencana, ketahanan masyarakat sering dibangun melalui tindakan-tindakan seperti ini.

Jangan Normalisasi Langit yang Dipenuhi Asap

Indonesia sudah terlalu sering mengalami karhutla.

Akibatnya muncul risiko psikologis yang tidak kalah berbahaya:

kita mulai menganggapnya biasa.

Musim kemarau datang.

Hotspot meningkat.

Hutan terbakar.

Asap muncul.

Masker dibagikan.

Hujan turun.

Selesai.

Kemudian siklus yang sama kembali beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan kemudian.

Karhutla tidak boleh menjadi musim kelima Indonesia.

Asap bukan kondisi normal.

Sekolah terganggu bukan kondisi normal.

Masyarakat memakai masker karena udara luar tercemar bukan kondisi normal.

Petugas berulang kali mempertaruhkan kesehatan untuk memadamkan lahan yang sama bukan kondisi normal.

Kita Harus Mulai Mengukur Keberhasilan dari Api yang Tidak Terjadi

Selama ini keberhasilan penanganan sering terlihat dari seberapa banyak operasi dilakukan.

Berapa personel diterjunkan.

Berapa helikopter digunakan.

Berapa liter air dijatuhkan.

Semua itu penting ketika keadaan sudah darurat.

Tetapi keberhasilan jangka panjang justru lebih sunyi.

Lahan gambut yang tetap basah.

Kebakaran yang berhasil dihentikan ketika masih sangat kecil.

Desa yang tidak terbakar.

Hutan yang tetap berdiri.

Hotspot yang diverifikasi sebelum berkembang.

Masyarakat yang memiliki alternatif pembukaan lahan tanpa membakar.

Restorasi yang tidak kembali terbakar.

Api yang tidak pernah menjadi besar adalah keberhasilan yang paling sulit terlihat.

Hutan yang Terbakar Bukan Hanya Milik Kalimantan

Kita mungkin tinggal ribuan kilometer dari titik api.

Tetapi ekosistem tidak mengenal batas perhatian manusia.

Hutan Kalimantan menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa.

Bentang alamnya menjadi habitat berbagai spesies.

Gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar.

Masyarakat hidup dari dan bersama lanskap tersebut.

Ketika kawasan itu terbakar, kerugiannya bukan hanya milik satu desa atau satu provinsi.

Ada kehilangan ekologis yang lebih luas.

Karena itu, ketika masyarakat Kalimantan Tengah menghadapi asap, kita tidak harus menunggu sampai asap tersebut tiba di kota kita untuk peduli.

Dari Menonton Menjadi Membantu

Video karhutla sering hanya berlangsung beberapa puluh detik.

Kita melihat asap.

Petugas.

Api.

Kemudian scroll menuju video berikutnya.

Bagi masyarakat di lokasi terdampak, mereka tidak bisa melakukan scroll untuk keluar dari keadaan tersebut.

Mereka tetap harus bernapas di sana.

Petugas tetap harus kembali ke titik api.

Relawan tetap harus mendistribusikan bantuan.

Tenaga kesehatan tetap harus menghadapi dampak paparan asap.

Karena itu, mungkin respons kita terhadap video karhutla tidak seharusnya berhenti pada:

“Kasihan.”

Kita dapat mengubahnya menjadi:

“Apa yang bisa saya bantu?”

Bagi sebagian orang, jawabannya adalah berdonasi.

Bagi yang lain, menjadi relawan.

Bagi yang memiliki jangkauan media sosial, membantu menyebarkan informasi yang terverifikasi.

Bagi peneliti, memberikan pengetahuan.

Bagi perusahaan, menyediakan dukungan sumber daya secara bertanggung jawab.

Bagi pemerintah, memperkuat pencegahan, perlindungan masyarakat dan penegakan aturan.

Dan bagi kita semua:

jangan berhenti peduli ketika asap mulai menghilang.

Karena api memang harus dipadamkan hari ini.

Tetapi pekerjaan yang jauh lebih besar adalah memastikan hutan dan lahan yang sama tidak kembali terbakar pada musim berikutnya.

Kalimantan Tengah tidak hanya membutuhkan perhatian ketika langitnya berubah warna.

Ia membutuhkan solidaritas ketika api masih menyala, dukungan ketika masyarakat sedang terdampak, dan komitmen jangka panjang ketika kamera sudah tidak lagi merekam.

Api mungkin berada jauh dari rumah kita. Tetapi kepedulian tidak harus dibatasi oleh jarak.


Aksi/Donasi: https://relawannusantara.org/campaign/respon-darurat-karhutla?source=KOLBagoesprntnagara

Sumber: https://www.instagram.com/reels/Dei8UerRUB4/

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO