Artikel

Ketika Alam Menagih: Krisis Air dan Rusaknya Gambut Kalimantan

Kalimantan selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan bentang alam hutan dan gambut yang luas. Namun, perubahan penggunaan lahan, kebakaran, drainase gambut, dan tekanan terhadap ekosistem membuat sebagian wilayah menghadapi persoalan yang semakin serius: krisis air dan menurunnya fungsi alami gambut.

Gambut sebenarnya bukan sekadar tanah basah. Ia adalah ekosistem yang menyimpan air dalam jumlah besar, mengatur aliran air, menyimpan karbon, dan menopang berbagai jenis flora maupun fauna.

Ketika gambut tetap basah dan utuh, ia bekerja seperti spons alami. Air hujan disimpan, lalu dilepaskan secara perlahan sehingga membantu menjaga ketersediaan air pada musim kering dan mengurangi limpasan berlebihan saat musim hujan.

Masalah mulai muncul ketika gambut dikeringkan melalui kanal atau mengalami pembukaan lahan dalam skala besar.

Permukaan air tanah turun, gambut mengering, dan kemampuan menyimpan air melemah. Dalam kondisi seperti ini, kawasan menjadi lebih rentan terhadap kekeringan dan kebakaran.

Gambut Kering, Risiko Kebakaran Meningkat

Gambut yang kering sangat mudah terbakar.

Berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa, api di lahan gambut dapat merambat di bawah permukaan tanah dan bertahan dalam waktu lama. Pemadamannya menjadi jauh lebih sulit karena api tidak selalu terlihat dari permukaan.

Kebakaran seperti ini tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga melepaskan karbon yang telah tersimpan selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Akibatnya, kerusakan gambut berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca sekaligus memperburuk kualitas udara.

Krisis Air Bisa Terjadi di Wilayah yang Kaya Air

Paradoksnya, wilayah dengan banyak sungai dan rawa tidak selalu bebas dari krisis air.

Jika tata air alami rusak, air dapat terlalu cepat keluar dari lanskap saat musim hujan dan terlalu sedikit tersisa ketika kemarau datang.

Masyarakat kemudian menghadapi kesulitan memperoleh air bersih, sementara sungai dan sumur dapat mengalami penurunan kualitas maupun debit.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan air tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hujan, tetapi juga oleh kemampuan ekosistem untuk menyimpan dan mengatur air.

Kerusakan Gambut Berdampak pada Kehidupan Masyarakat

Bagi masyarakat yang hidup di sekitar kawasan gambut, perubahan kondisi ekosistem dapat langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Ketersediaan air, kegiatan pertanian, perikanan, kesehatan, hingga akses transportasi dapat terganggu ketika gambut kehilangan fungsi hidrologisnya.

Asap kebakaran juga membawa risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan.

Karena itu, kerusakan gambut bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi.

Restorasi Harus Mengembalikan Air

Pemulihan gambut tidak cukup hanya dengan menanam kembali vegetasi.

Langkah paling penting adalah mengembalikan kondisi hidrologisnya.

Penutupan atau pengelolaan kanal, pembasahan kembali lahan, perlindungan kubah gambut, dan pengendalian muka air menjadi bagian penting dari restorasi.

Setelah kondisi air membaik, vegetasi lokal memiliki peluang lebih besar untuk pulih.

Pendekatan ini sering dikenal sebagai rewetting, revegetation, dan revitalization.

Ketiganya perlu berjalan bersama agar pemulihan tidak berhenti pada aspek ekologis, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat.

Pengelolaan Gambut Harus Memikirkan Musim Kering

Salah satu kesalahan dalam pengelolaan lahan adalah hanya melihat kondisi normal.

Gambut mungkin terlihat aman pada musim hujan, tetapi tantangan sebenarnya muncul ketika kemarau panjang datang.

Karena itu, tata air harus dirancang berdasarkan skenario musim kering terburuk.

Pertanyaannya bukan hanya apakah air cukup hari ini, tetapi apakah ekosistem tetap mampu mempertahankan kelembapan ketika hujan tidak turun dalam waktu lama.

Mencegah Lebih Murah daripada Memulihkan

Begitu gambut mengalami kerusakan berat, proses pemulihannya membutuhkan waktu panjang dan biaya besar.

Karena itu, perlindungan kawasan gambut yang masih utuh jauh lebih efektif daripada menunggu sampai kerusakan terjadi.

Pengawasan penggunaan lahan, pencegahan pembakaran, pemetaan hidrologi, dan keterlibatan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi ekosistem.

Alam Menagih melalui Air

Krisis air sering dianggap sebagai akibat langsung dari musim kering.

Namun, dalam banyak kasus, masalah sebenarnya lebih dalam.

Ketika hutan berkurang, gambut dikeringkan, sungai berubah, dan tata air terganggu, kemampuan alam untuk mengatur air ikut melemah.

Alam tidak benar-benar “menagih”, tetapi kerusakan ekosistem menciptakan konsekuensi yang akhirnya kembali dirasakan manusia dalam bentuk kekeringan, kebakaran, banjir, dan menurunnya kualitas hidup.

Kalimantan masih memiliki peluang besar untuk menjaga dan memulihkan ekosistem gambutnya.

Namun, perlindungan harus dimulai dari satu pemahaman sederhana: air, gambut, hutan, dan kehidupan masyarakat adalah satu sistem yang tidak dapat dipisahkan.

Sumber: Kompasiana — Ketika Alam Menagih: Krisis Air dan Rusaknya Gambut Kalimantan
https://www.kompasiana.com/intanardhly9337/6ac3166ded641565eb3b9239/ketika-alam-menagih-krisis-air-dan-rusaknya-gambut-kalimantan

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO