Klaim Jakarta Bersih dari Sampah, Fakta di Lapangan: Tumpukan Masih Menggunung di Sejumlah Wilayah

Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang menyebut kondisi sampah di Ibu Kota sudah kembali tertata, ternyata belum sepenuhnya sesuai dengan realita di lapangan. Di sejumlah wilayah, tumpukan sampah masih terlihat menggunung dan menimbulkan berbagai persoalan lingkungan.
Dalam keterangannya di Balai Kota Jakarta, Selasa (31/3/2026), Pramono mengatakan bahwa penumpukan sampah yang sempat terjadi di beberapa titik, termasuk Kramat Jati, kini telah dibersihkan. Namun, kondisi di beberapa lokasi justru menunjukkan sebaliknya.
Sampah Menggunung hingga 3 Meter di Jakarta Timur
Di kawasan TPS Rawadas, Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, tumpukan sampah dilaporkan mencapai ketinggian sekitar tiga meter dalam dua pekan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh pembatasan aktivitas di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, setelah terjadi longsor.
Pantauan di lokasi menunjukkan antrean gerobak sampah masih terjadi. Petugas terlihat harus memindahkan sampah secara manual ke truk guna mempercepat pengangkutan. Kondisi ini diperparah dengan jalanan yang becek akibat air lindi, sehingga membahayakan pengendara.
Lurah Pondok Kopi, Sandy Adamsyah, menyebutkan volume sampah meningkat drastis pasca libur Lebaran. Dalam kondisi normal, TPS hanya menerima sekitar 10 gerobak per hari, namun kini meningkat menjadi lebih dari 20 gerobak.
Pasar Kopro Jakarta Barat Dipenuhi Sampah Meluber
Penumpukan juga terjadi di sekitar Pasar Kopro, Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Sampah terlihat menggunung hingga meluber ke badan jalan, menciptakan lingkungan yang kotor, becek, dan berbau menyengat.
Seorang pedagang setempat mengungkapkan bahwa sampah telah menumpuk selama lebih dari sepekan tanpa pengangkutan. Aktivitas jual beli pun terdampak karena aroma tidak sedap membuat pelanggan enggan datang.
Petugas Suku Dinas Lingkungan Hidup mengerahkan alat berat untuk mengurai tumpukan. Namun, keterbatasan armada akibat pembatasan kuota pembuangan ke Bantargebang menjadi salah satu penyebab utama keterlambatan penanganan.
Kolong Tol Tanjung Priok Kembali Dipenuhi Sampah
Di wilayah Jakarta Utara, tepatnya di TPS Kencana, Sungai Bambu, Tanjung Priok, tumpukan sampah juga terlihat menggunung hingga sekitar tiga meter. Bau menyengat bahkan tercium dari jarak puluhan meter.
Seorang pedagang di lokasi mengaku kondisi ini sangat mengganggu usahanya. Banyak pelanggan enggan singgah karena bau tidak sedap yang ditimbulkan.
Warga menyebut penumpukan sampah di lokasi tersebut sudah berlangsung cukup lama tanpa penanganan maksimal.
Dampak Longsor Bantargebang dan Lonjakan Sampah Lebaran
Sejumlah pihak menyebut bahwa penumpukan sampah di berbagai titik Jakarta dipicu oleh dua faktor utama, yakni longsor di TPST Bantargebang serta peningkatan volume sampah pasca Lebaran.
Akibat longsor tersebut, kuota pengiriman sampah sempat dibatasi drastis. Misalnya, di wilayah Grogol Petamburan, kuota armada turun dari 38 menjadi hanya 12 truk per hari. Meski kini mulai meningkat, proses normalisasi masih berlangsung bertahap.
Warga Minta Gubernur Turun Langsung
Warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi sebenarnya. Mereka menilai penanganan sampah harus dilakukan hingga benar-benar tuntas sebelum menerima kiriman baru.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah di Jakarta masih menjadi tantangan besar, terutama saat terjadi gangguan di pusat pengolahan utama seperti Bantargebang.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




