Krisis Air Dunia

As humanity’s most precious global common good, water unites us all. That’s why water needs to be at the centre of the global political agenda. (Sekjen PBB Antonio Gutteres)
Pernyataan Sekjen PBB tersebut bukan harapan yang berlebihan. Kini, isu air memang perlu perhatian lebih dari para pemimpin dunia.
Cerita mengenai air adalah cerita mengenai kehidupan. Sejak lahir hingga wafatnya, kehidupan manusia selalu terikat erat dengan air.
Kitab suci Al Quran, antara lain dalam Surat Al-Anbiya (21) Ayat 30, menyebutkan, ”dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Air adalah hidup. Oleh karena itu, air adalah hak asasi mendasar bagi manusia.
Air berdampak pada setiap lini kehidupan manusia: kesehatan dan harapan hidup, penanggulangan kemiskinan, pemberdayaan perempuan, ketahanan pangan, dan ketahanan energi.
Belum lagi apabila sumber air mengalir lintas batas negara sehingga berdampak pada perdamaian dan keamanan internasional. Bahkan, saat ini mulai berkembang diskusi mengenai pengembangan artificial intelligence (AI) yang sangat bergantung pada air.
Pertanyaannya, apakah masyarakat internasional telah benar-benar melaksanakan amanah untuk mengelola air sebagai sumber kehidupan?
Beberapa kajian ilmiah memperkirakan bahwa pada tahun 2050 sebanyak 150 juta hingga 200 juta orang akan mengungsi akibat kekeringan, naiknya permukaan laut, dan cuaca ekstrem.
Air dunia tidak baik-baik saja
Sangat disayangkan bahwa penanganan air di berbagai belahan dunia masih jauh dari harapan, sementara tantangan untuk isu air sangat kompleks.
Di masa mendatang, tantangan ini akan semakin kompleks, antara lain mengingat terus bertambahnya penduduk dunia, dampak perubahan iklim, serta ketimpangan yang terus membesar.
Krisis air dunia akan berdampak paling berat terhadap negara/kelompok rentan. Global Commission on the Economics of Water (GCEW) menyampaikan bahwa jika gagal mengatasi krisis air global, kita akan gagal menangani isu perubahan iklim dan gagal mencapai semua target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Data PBB menunjukkan bahwa pada tahun 2022, di tingkat global, 2,2 miliar orang hidup tanpa akses terhadap air minum yang aman. Di daerah perdesaan (data 2022), 4 dari 5 orang kekurangan akses pada layanan dasar air minum.
Lebih jauh, 3,5 miliar orang kekurangan akses terhadap sanitasi yang dikelola dengan aman. Setiap hari 1.000 anak-anak meninggal akibat kurangnya akses pada air yang aman.
Realitas tersebut sering kali tertutup mispersepsi. Fakta bahwa 70 persen dari planet bumi diliputi air secara tidak sadar telah menggiring pandangan umum bahwa masih ada cukup air untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Padahal, air bersih (fresh water) hanya mencakup 2,5 persen dari semua air yang ada di bumi.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F08%2F26%2Fedc3d00d-2d1f-4282-809d-e99138698139_jpg.jpg)
Dengan situasi ini, GCEW memperkirakan bahwa produk domestik bruto (PDB) dunia akan mengalami penurunan sebesar 8 persen pada tahun 2050. Adapun negara dengan tingkat pembangunan rendah akan mengalami penurunan GDP sebesar 15 persen.
Kenyataannya, air adalah paradoks antara ”terlalu sedikit” dan ”terlalu banyak”.
”Terlalu sedikit” air yang tersedia akan berdampak pada kemampuan bumi untuk menopang jumlah penduduk dunia yang diperkirakan 9,7 miliar pada tahun 2050.
Tekanan pada sumber air, antara lain, muncul dari besarnya jumlah populasi global dan keterbatasan infrastruktur di negara berkembang.
Gaya hidup dan penggunaan air yang berlebihan juga memperbesar tekanan terhadap sumber air. Saat populasi penduduk dunia meningkat sebesar tiga kali lipat di abad ke-20, penggunaan air meningkat sebesar enam kali lipat.
Sementara itu, pembangunan infrastruktur air untuk memastikan akses pada air juga menghadapi tantangan pendanaan yang besar.
Bank Dunia memperkirakan dibutuhkan 6,7 triliun dollar AS untuk memastikan infrastruktur air tersedia merata di seluruh dunia hingga tahun 2030. Untuk tahun 2050, angka tersebut meningkat 22,6 triliun dollar AS.
Di sisi lain, air yang ”terlalu banyak” juga menjadi tantangan tersendiri. Sebanyak 70 persen kematian akibat bencana alam disebabkan oleh bencana yang terkait dengan air.
Pada tahun 2013 saja, kerugian ekonomi global akibat banjir telah mencapai 50 miliar dollar AS. Beberapa kajian ilmiah memperkirakan bahwa pada tahun 2050 sebanyak 150 juta hingga 200 juta orang akan mengungsi akibat kekeringan, naiknya permukaan laut, dan cuaca ekstrem.
Dengan demikian, kondisi air dunia tidak sedang baik-baik saja.
Air berdampak pada setiap lini kehidupan manusia: kesehatan dan harapan hidup, penanggulangan kemiskinan, pemberdayaan perempuan, ketahanan pangan, dan ketahanan energi.
Dunia harus bekerja lebih keras
Sebenarnya telah banyak upaya yang dilakukan para pemimpin dunia dan masyarakat internasional untuk memperkuat penanganan air bagi semua.
Air dan sanitasi telah dimasukkan sebagai salah satu dari 17 Goals dalam SDGs, yaitu SDG 6 ”Menjamin akses terhadap air dan sanitasi untuk semua (Ensure access to water and sanitation for all)”.
Tahun 2018, PBB menetapkan 2018-2028 sebagai Dekade Internasional untuk Aksi Air. Tahun 2023, PBB telah melaksanakan perhelatan besar, UN Water Conference, untuk menyatukan komitmen pemimpin dunia atas isu air.
Tahun ini, Indonesia telah mempertemukan semua pemangku isu air dari seluruh dunia pada World Water Forum Ke-10 di Bali untuk mendiskusikan solusi konkret yang dapat mengatasi masalah-masalah air yang ada.
Namun, upaya-upaya tersebut masih belum cukup. Hanya tersisa enam tahun untuk mengatasi ketertinggalan dalam capaian SDG dalam isu air. Dengan berbagai situasi, seperti dampak pandemi Covid-19, ketimpangan pendanaan bagi pembangunan, perang/konflik, dan situasi geopolitik saat ini, masih sangat banyak yang harus dilakukan.
PBB mencatat bahwa diperlukan kerja keras enam kali lipat untuk memastikan air minum aman bagi semua orang (safely managed drinking water).
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F09%2F10%2Fb4156df3-1ca4-48f2-b6a6-c0e8ab2857a9_jpg.jpg)
Dibutuhkan kerja keras lima kali lipat untuk menyediakan sanitasi aman (safely managed sanitation) dan tiga kali untuk kebersihan dasar (basic hygiene) bagi semua orang—sesuai SDG 6.
Semua hal ini tidak mungkin tercapai dengan cara kerja ”business-as-usual”. Jika dunia gagal menggalang kerja sama antarbangsa untuk masalah air dan sanitasi saat ini, dunia akan gagal mempersiapkan masa depan bagi umat manusia.
Dunia harus bekerja lebih keras lagi. Krisis air dunia hanya dapat diatasi segera dan bersama.
Utusan khusus untuk isu air
Dalam konteks inilah, Sekretaris Jenderal PBB pada 13 September 2024 memutuskan untuk menunjuk saya sebagai Utusan Khusus untuk Isu Air. Penunjukan ini merupakan tindak lanjut dari keputusan Pertemuan UN Water Conference 2023.
Utusan Khusus Sekjen PBB akan menjadi bagian dari upaya kolektif penanganan air di dunia, dengan mandat yang dimulai hari ini, 1 November 2024.
Saya menyadari bahwa seluruh tantangan dan kompleksitas isu air tidak dapat diselesaikan secara sekaligus dan instan. Penanganan isu air di tingkat global harus dilakukan secara bertahap, konsisten, saksama, dan persisten.
Untuk itu, sebagai tahapan awal, sangat penting untuk meletakkan fondasi yang teguh dalam waktu dekat ini guna mempersiapkan penanganan isu air yang berkelanjutan di tingkat global.
Terdapat beberapa prioritas yang akan saya lakukan sebagai utusan khusus. Saya menyebut ini ”Triple A”.
Pertama, ”Advocate”. Saya akan mengadvokasi dan mendorong negara-negara dan organisasi internasional agar air masuk menjadi agenda prioritas politik setiap negara dan pemimpin dunia.
Kedua, ”Align”. Saya akan memosisikan kantor saya sebagai pemersatu (unifier) dan mendorong sinergi di antara seluruh mitra, baik negara maupun non-negara, dalam membangun kerja sama yang koheren di isu air.
Keselarasan, kesatuan, dan sinergi antarberbagai inisiatif merupakan kunci untuk memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dunia.
Ketiga, ”Accelerate”. Saya akan mendorong percepatan tindak lanjut berbagai komitmen negara-negara, terutama komitmen pada SDG 6 dan UN Water Action Agenda 2023.
Tugas ini berat untuk diemban seorang diri. Dukungan dan kerja sama semua pihak diperlukan. Semoga saya dapat menjalankan tugas berat ini dengan baik dan membuat Indonesia bangga.
Menyelamatkan air adalah menyelamatkan kehidupan manusia dan dunia. Bismillah.
Retno MarsudiUtusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air

Sumber:
https://www.kompas.id/baca/opini/2024/10/31/krisis-air-dunia
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




