Melihat lebih dekat praktik berladang ramah lingkungan “Gilir Balik” masyarakat Ngaung Keruh (bagian 1)

Bedah Praktik “Gilir Balik”: Sistem Perladangan Ramah Lingkungan Suku Dayak Iban Ngaung Keruh
Praktik perladangan gilir-balik (swidden agriculture) sering kali disalahpahami dan mendapat stigma negatif sebagai penyebab kerusakan hutan. Namun, bagi masyarakat Dayak Iban di Kampung Ngaung Keruh, Desa Labian, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, sistem yang telah berusia ribuan tahun ini justru menjadi kunci ketahanan pangan, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pemulihan unsur hara tanah secara alami.
Sekilas tentang Ladang Gilir-Balik Dayak Iban
- Lokasi Praktik: Kampung Ngaung Keruh (sekitar 1 km dari Rumah Betang asal), terletak di jalur lintas Putussibau – Badau, Kapuas Hulu.
- Komoditas Utama: Padi ladang varietas lokal. Dalam satu lahan seluas 2 hektare, masyarakat biasa menanam hingga enam jenis padi sekaligus, termasuk beras putih, beras merah, dan pulut (ketan).
- Siklus Lahan: Satu tapak lahan umumnya digarap hingga beberapa kali masa tanam. Setelah panen besar (biasanya disusul pesta gawai adat pada bulan Juni), lahan akan memasuki masa bera (dibiarkan kosong) selama 5 hingga 6 tahun agar vegetasi hutan tumbuh kembali sebelum digarap ulang.
Siklus Dua Fase: Masa Tanam (Umai) dan Masa Bera
Sistem pertanian purba yang telah berkembang sejak zaman Neolitikum (±10.000 tahun lalu) ini mengandalkan keseimbangan antara dua fase utama:
1. Masa Tanam (Umai)
Proses dimulai dengan metode tradisional yang terukur: Tebas $\rightarrow$ Tebang $\rightarrow$ Bakar.
- Pohon besar ditebang; kayu berkualitas digunakan untuk perbaikan Rumah Betang atau pondok, sedangkan kayu kecil dijadikan kayu bakar.
- Sisa ranting dan daun dikeringkan selama 3-4 minggu lalu dibakar secara terlokalisir. Abu hasil pembakaran inilah yang menjadi sumber hara utama bagi tanaman.
Fakta Ilmiah di Balik Pembakaran Lahan:
Sistem tebas-bakar merupakan strategi adaptasi peladang terhadap karakteristik tanah Kalimantan yang memiliki tingkat keasaman (pH) sangat tinggi. Abu pembakaran bersifat basa, sehingga efektif mengurangi kadar asam tanah sekaligus mendongkrak kesuburan tanah secara instan tanpa pupuk kimia.
2. Masa Bera (Pemulihan)
Setelah tanah mengalami penurunan kesuburan, lahan ditinggalkan agar alam meregenerasi dirinya sendiri menjadi belukar, hutan muda, hingga hutan sekunder.
Sering kali, fase bera ini dikombinasikan dengan pola wanatani (agroforestry). Masyarakat menanam pohon keras dan tanaman produktif semusim seperti Tengkawang (meranti penghasil minyak nabati), karet, rotan, aren, manggis, dan cempedak. Proses ini menciptakan ekosistem buatan dengan tingkat keanekaragaman hayati (biodiversity) yang tinggi.
Segudang Manfaat Praktik Gilir-Balik
| Aspek Manfaat | Dampak Nyata bagi Masyarakat Ngaung Keruh |
| Kedaulatan & Ragam Pangan | Memenuhi kebutuhan pangan harian secara mandiri (subsisten) dan menjadi benteng pertahanan plasma nutfah berupa aneka benih padi lokal daerah tropis. |
| Ketahanan Ekonomi | Mematahkan mitos bahwa perladangan ini murni non-komersial. Peladang juga menanam jagung, sayur, dan rempah untuk diperdagangkan. Saat harga komoditas global (seperti karet atau merica) anjlok, masyarakat tetap aman karena memiliki sumber pangan sendiri. |
| Fleksibilitas Waktu | Tidak seperti pertanian sawah konvensional yang mengikat petani sepanjang waktu, gilir-balik memberikan jeda waktu di antara masa tanam dan panen. Jeda ini dimanfaatkan warga untuk menoreh karet, menenun, atau bekerja sebagai tukang bangunan. |
| Bahan Baku Adat & Medis | Menghasilkan biji tengkawang (diolah menjadi mentega nasi, minyak goreng, kosmetik, dan pewarna tenun alami) serta tanaman obat seperti sirih, pinang, dan kunyit untuk upacara adat. |
Filosofi Tanah: Migrasi demi Keharmonisan Alam
Bagi orang Iban, pemilihan lokasi ladang dan kampung juga berkaitan erat dengan spiritualitas. Jika sebuah wilayah mengalami fenomena tanah angat (kondisi di mana banyak warga sakit dan meninggal dalam waktu berdekatan), komunitas akan berpindah.
Mereka meyakini fenomena tersebut sebagai tanda bahwa tanah telah diganggu roh jahat atau kehilangan berkah kesuburannya. Perpindahan ini secara tidak langsung memberikan waktu bagi alam dan hutan terdahulu untuk beristirahat dan memulihkan ekosistemnya secara total.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




