Berita

Menghidupkan Kembali Kebun Kakao Masyarakat Adat: Menjaga Hutan agar Tidak Beralih Menjadi Sawit

Di Kalimantan Barat, kebun kakao yang telantar mulai dihidupkan kembali melalui pendampingan petani, pengembangan produk cokelat, dan pembukaan akses pasar. Upaya ini menunjukkan bahwa menjaga hutan tidak selalu harus dimulai dengan melarang masyarakat memanfaatkan lahan, tetapi juga dengan memastikan mereka memiliki sumber penghidupan yang layak tanpa harus membuka kawasan baru.

Alih fungsi hutan dan perubahan penggunaan lahan sering kali dibahas dari sisi ekspansi perkebunan, investasi, dan kebijakan perlindungan kawasan. Namun, ada dimensi lain yang tidak kalah penting: bagaimana masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan dapat mempertahankan penghidupannya tanpa kehilangan ruang hidup dan sumber daya alam yang diwariskan secara turun-temurun.

Sebuah inisiatif di Kalimantan Barat memperlihatkan pendekatan yang menarik. Kalara Borneo, usaha sosial pengolahan cokelat, berupaya menghidupkan kembali kebun kakao masyarakat adat yang telantar. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan produksi cokelat, tetapi juga mempertahankan nilai ekonomi kebun agar masyarakat tidak terdorong mengalihfungsikannya menjadi perkebunan kelapa sawit.

Inisiatif ini memperlihatkan hubungan penting antara ekonomi masyarakat, keberlanjutan pertanian, dan perlindungan hutan. Ketika hasil kebun memiliki pasar dan memberikan pendapatan yang layak, masyarakat memiliki alasan ekonomi untuk terus merawat lahan yang sudah ada, dibandingkan membuka kawasan baru.

Kebun Kakao yang Telantar dan Ancaman Perubahan Penggunaan Lahan

Di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, kakao telah lama dibudidayakan masyarakat bersama berbagai jenis tanaman lain. Namun, sebagian kebun tidak lagi dirawat secara optimal karena pekebun menghadapi kesulitan menjual hasil panen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pertanian tidak selalu terletak pada kemampuan masyarakat untuk menanam. Ketersediaan pasar, kepastian pembeli, harga yang memadai, serta akses terhadap pendampingan teknis juga menentukan apakah sebuah komoditas dapat terus menjadi sumber penghidupan.

Ketika hasil panen sulit dipasarkan dan pendapatan tidak menentu, kebun yang sebelumnya produktif dapat berubah menjadi lahan telantar. Dalam situasi seperti ini, komoditas lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi dapat menjadi pilihan, termasuk kelapa sawit.

Yessy Octavia R. Tuani Mangasih, Kepala Produksi Kalara Borneo sekaligus bagian dari masyarakat adat Dayak Iban, menyampaikan bahwa pihaknya tidak ingin kebun-kebun telantar tersebut berubah menjadi kebun kelapa sawit.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa upaya menjaga hutan tidak dapat dilepaskan dari persoalan ekonomi masyarakat. Konservasi membutuhkan pendekatan yang mampu menjawab kebutuhan penghidupan, bukan hanya menetapkan larangan terhadap perubahan penggunaan lahan.

Agroforestri: Mempertahankan Kakao Bersama Tanaman Lokal

Salah satu aspek menarik dari inisiatif Kalara Borneo adalah pengembangan sistem agroforestri, yaitu pola budidaya yang menggabungkan tanaman kakao dengan tanaman lain dalam satu lahan.

Di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, kakao tumbuh berdampingan dengan pisang, nanas, kopi, durian, dan karet. Pola ini memiliki kedekatan dengan sistem tembawang, yaitu praktik pengelolaan kebun campuran yang telah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat adat.

Sistem tersebut memiliki nilai penting karena lahan tidak hanya menghasilkan satu jenis komoditas. Keberadaan beragam tanaman memberikan pilihan sumber pangan dan pendapatan, sekaligus mempertahankan struktur kebun yang lebih beragam dibandingkan pola monokultur.

Pendekatan agroforestri juga membuka peluang untuk mempertahankan pengetahuan lokal dalam pengelolaan lahan. Masyarakat tidak harus meninggalkan praktik pertanian yang telah diwariskan, tetapi dapat mengembangkannya dengan dukungan teknologi budidaya, peningkatan kualitas hasil panen, dan akses pasar yang lebih baik.

Meski demikian, agroforestri bukan berarti otomatis menggantikan fungsi hutan alam. Kebun campuran tetap memiliki karakter ekologis yang berbeda dari hutan alami. Nilai pentingnya dalam inisiatif ini adalah mempertahankan kebun yang sudah ada dan mengurangi tekanan ekonomi yang dapat mendorong pembukaan lahan baru.

Menghubungkan Petani dengan Pasar

Masalah utama yang membuat sebagian kebun kakao telantar adalah kesulitan pekebun menjual hasil panen. Kalara Borneo mencoba mengatasi persoalan tersebut dengan membeli biji kakao secara langsung dari petani, kemudian mengolahnya menjadi produk cokelat di Pontianak.

Model ini memperpendek hubungan antara produsen bahan baku dan pengolah produk. Petani memperoleh akses pembeli, sementara pengolah mendapatkan pasokan kakao yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Kalara juga bekerja sama dengan Langkau Onet dan Yayasan Kalimajari untuk mendukung pendampingan masyarakat. Kegiatan tersebut mencakup sekolah lapang, penyediaan bibit, dan peningkatan kualitas biji kakao.

Kualitas biji menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan harga pembelian. Artinya, peningkatan mutu hasil panen tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pengolahan, tetapi juga berpotensi meningkatkan nilai ekonomi yang diterima pekebun.

Pendekatan ini penting karena keberlanjutan komoditas tidak cukup hanya dengan mendorong masyarakat menanam. Petani membutuhkan kepastian bahwa hasil kerja mereka memiliki pembeli dan memberikan pendapatan yang sepadan.

Inisiatif Kalara Borneo tersebut juga dibagikan dalam Bangkok Climate Action Week 2026 di Thailand pada Oktober, melalui Paviliun Ekonomi Berbasis Alam yang digagas Koalisi Ekonomi Membumi.

Menjaga Hutan dengan Memperkuat Ekonomi Masyarakat Adat

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa perlindungan hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat adat seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua tujuan yang saling bertentangan.

Masyarakat yang hidup di sekitar hutan membutuhkan sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apabila komoditas yang selama ini dibudidayakan tidak memberikan keuntungan memadai, mereka dapat terdorong mencari alternatif penggunaan lahan yang dianggap lebih menjanjikan.

Karena itu, strategi konservasi perlu memberikan perhatian pada penguatan ekonomi lokal. Akses pasar, pendampingan produksi, pengembangan produk, kelembagaan petani, dan kepastian usaha merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan lanskap.

Dalam konteks ini, cokelat memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar produk konsumsi. Di balik setiap biji kakao terdapat proses budidaya, pengetahuan masyarakat, hubungan dengan tanah, serta pilihan ekonomi yang dapat memengaruhi masa depan kawasan hutan.

Namun, keberhasilan model seperti ini tetap membutuhkan dukungan jangka panjang. Pasar harus mampu menyerap hasil produksi secara konsisten, harga pembelian perlu memberikan insentif yang layak, dan pendampingan harus membantu petani meningkatkan produktivitas tanpa mendorong pembukaan lahan baru.

Keberlanjutan juga perlu diukur melalui perubahan nyata: apakah kebun yang sebelumnya telantar kembali produktif, apakah pendapatan petani meningkat, dan apakah tekanan untuk mengalihfungsikan lahan dapat dikurangi.

Ekonomi Berbasis Alam sebagai Alternatif Pembangunan

Inisiatif Kalara Borneo memberikan gambaran tentang bagaimana ekonomi berbasis alam (nature-based economy) dapat dikembangkan melalui komoditas yang telah dikenal masyarakat.

Pendekatan ini tidak semata-mata mengejar peningkatan produksi, tetapi berupaya menciptakan nilai ekonomi dengan tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam. Masyarakat tidak harus memilih antara memperoleh pendapatan dan menjaga lingkungan apabila tersedia model usaha yang mampu menghubungkan keduanya.

Konsep tersebut juga relevan untuk pengembangan komoditas lokal lainnya, seperti kopi, madu hutan, hasil agroforestri, tanaman pangan lokal, dan berbagai produk yang berasal dari pengelolaan lanskap secara berkelanjutan.

Pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, pelaku usaha, dan lembaga pendamping dapat memainkan peran masing-masing dalam membangun rantai nilai tersebut. Pemerintah dapat memperkuat infrastruktur dan kebijakan pendukung, organisasi lokal membantu pendampingan, sedangkan pelaku usaha membuka akses pasar dan mengembangkan produk bernilai tambah.

Yang tidak kalah penting, masyarakat adat harus tetap menjadi pelaku utama dalam pengelolaan kebun dan pengambilan keputusan terkait ruang hidupnya.

Menjaga Hutan Tidak Selalu Harus Dimulai dengan Membuka Kawasan Baru

Cerita kebun kakao masyarakat adat di Kalimantan Barat memberikan pelajaran bahwa perlindungan lingkungan dapat dimulai dengan menghidupkan kembali potensi yang sudah tersedia.

Kebun yang telantar bukan berarti tidak memiliki masa depan. Dengan akses pasar, pendampingan, peningkatan kualitas produk, dan sistem budidaya yang sesuai dengan pengetahuan lokal, lahan yang sudah dikelola masyarakat dapat kembali menjadi sumber penghidupan.

Pendekatan ini penting di tengah tekanan perubahan penggunaan lahan yang terus mengancam kawasan hutan. Alih-alih selalu mendorong ekspansi perkebunan ke wilayah baru, penguatan produktivitas dan nilai ekonomi lahan yang sudah ada dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi tekanan tersebut.

Pada akhirnya, menjaga hutan bukan hanya tentang mempertahankan pepohonan atau membatasi aktivitas manusia. Perlindungan hutan juga berarti memastikan masyarakat yang hidup berdampingan dengannya memiliki pilihan ekonomi yang adil dan berkelanjutan.

Secangkir cokelat mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya bisa tersimpan cerita tentang petani, kebun, budaya masyarakat adat, dan upaya mempertahankan hutan. Sebab, hutan akan lebih mungkin terjaga ketika masyarakat yang hidup bersamanya juga memiliki masa depan ekonomi yang layak.

Referensi utama

  1. Kompas.com – Lestari. (3 November 2026). Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit. Baca artikel sumber.
  2. Jurnal Kalimantan. (3 November 2026). Kalara Borneo Hidupkan Kebun Kakao untuk Cegah Alih Fungsi ke Sawit. Baca laporan terkait. Jurnal Kalimantan

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO