Microsoft akui kesulitan peroleh pasokan Energi Hijau

Dilema Energi Hijau Raksasa Teknologi: Microsoft Hadapi Kelangkaan Pasokan di Asia
Raksasa teknologi global, Microsoft Corp., kini terang-terangan mengakui adanya tantangan signifikan dalam mengamankan pasokan energi bersih di sejumlah wilayah di Asia Timur. Kendala ini muncul di tengah kebutuhan energi yang melonjak akibat perlombaan pengembangan Kecerdasan Buatan (AI), bahkan ketika target iklim perusahaan menunjukkan pelonggaran.
Dalam sebuah diskusi panel di Innovation for Cool Earth Forum di Tokyo (9/10/2025), Ken Haig, Direktur Senior Microsoft untuk Hubungan Pemerintahan di Jepang, mengungkapkan bahwa perusahaannya harus bersaing ketat untuk mendapatkan ketersediaan energi terbarukan yang terbatas.
Peningkatan Emisi dan Tekanan Rantai Pasok
Kebutuhan energi hijau yang kian besar berhadapan langsung dengan kenyataan di lapangan:
- Pelonggaran Target Iklim: Laporan keberlanjutan Microsoft 2025 menunjukkan bahwa dampak pemanasan global perusahaan 23% lebih tinggi dibandingkan tahun 2020. Peningkatan ini terutama didorong oleh emisi dari ekspansi pusat data yang sangat intensif karbon. Microsoft sendiri menargetkan mencapai negatif karbon pada tahun 2030.
- Ledakan AI dan Konsumsi Listrik: Perlombaan AI telah memicu lonjakan konsumsi listrik. Laporan Greenpeace mencatat bahwa emisi yang dihasilkan dari aktivitas semikonduktor global untuk mendukung AI telah melonjak empat kali lipat pada tahun 2024.
- Kendala Pemasok di Asia: Kendala pasokan energi bersih yang dialami Microsoft mencerminkan masalah serupa pada penyedia cip di Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan). Para produsen kunci ini masih sangat bergantung pada sumber listrik berbasis fosil dan kesulitan memperbesar porsi energi terbarukan mereka.
Scope 3: Beban Karbon Terbesar Microsoft
Tantangan terbesar Microsoft dalam upaya dekarbonisasi berasal dari Cakupan 3 (emisi tidak langsung dari rantai nilai), yang menyumbang lebih dari 97% dari total jejak karbon perusahaan.
Menurut Haig, sebagian besar emisi Cakupan 3 ini berasal dari manufaktur semikonduktor yang dilakukan oleh para pemasoknya di kawasan Asia.
“Kami juga ingin pemasok kami mencapai 100% energi bebas karbon,” ujar Ken Haig.
Untuk mengatasi hambatan ini, Microsoft tidak bekerja sendiri. Mereka berkolaborasi dengan para pemasok melalui koalisi konsumen energi. Tujuannya adalah untuk melakukan advokasi bersama demi meningkatkan pilihan energi terbarukan yang tersedia di pasar Asia, mendorong perubahan kebijakan energi di tingkat regional.
Inti Masalah: Upaya perusahaan teknologi global seperti Microsoft, Apple, dan Google untuk mendekarbonisasi rantai pasok mereka terbentur oleh infrastruktur energi yang masih didominasi fosil dan ketersediaan energi terbarukan yang terbatas di pusat-pusat manufaktur utama di Asia.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




