Berita

Mikroplastik: Tantangan Serius bagi Laut dan Manusia

Mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter (mm), telah menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut dan perairan air tawar di Indonesia. Menurut Guru Besar Tetap Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), Profesor Mufti Petala Patria, mikroplastik tidak hanya mencemari lingkungan perairan, tetapi juga berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi ikan, kerang, atau organisme air lainnya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena mikroplastik dapat menyebabkan perubahan kromosom yang berujung pada infertilitas, obesitas, kanker, serta peningkatan respons imun.

Berdasarkan sumbernya, mikroplastik dibagi menjadi dua jenis, yaitu mikroplastik primer dan sekunder. Mikroplastik primer berbentuk pelet kecil yang sering digunakan dalam produk pembersih dan kosmetik. Sementara itu, mikroplastik sekunder berasal dari sampah plastik yang terurai menjadi partikel lebih kecil. Bentuk mikroplastik beragam, mulai dari fiber (serat), fragmen, film, hingga granula. Fiber mikroplastik, misalnya, berasal dari degradasi jaring ikan atau bahan kain, sedangkan fragmen, film, dan foam berasal dari kantong plastik, kemasan produk, atau proses abrasi.

Mikroplastik memiliki densitas yang lebih rendah daripada air laut, sehingga dapat melayang di air dalam waktu lama. Namun, akibat reaksi kimia atau pelekatan dengan mikroorganisme, densitasnya meningkat dan akhirnya tenggelam ke sedimen dasar laut.

Dalam kajiannya, Profesor Mufti mengamati bahwa kandungan mikroplastik di air dan sedimen di Kepulauan Seribu, khususnya di Pulau Untung Jawa (7 km dari pesisir Tangerang) dan Pulau Tidung (29 km dari pesisir), menunjukkan penurunan sebesar 12% di air dan 20% di sedimen di pulau yang lebih jauh. Hal ini mengindikasikan bahwa sumber pencemaran mikroplastik di Kepulauan Seribu berasal dari pesisir Jakarta dan Tangerang.

Selain itu, penelitian di Pulau Rambut pada Maret 2022 dan Maret 2023 menunjukkan peningkatan jumlah mikroplastik sebesar 19,4% dalam kurun waktu satu tahun. Mikroplastik yang ada di air atau sedimen dapat termakan atau terisap oleh hewan laut, atau menempel pada makroalga seperti rumput laut dan lamun. Biota laut sering kali mengira mikroplastik sebagai makanan karena bentuknya yang menyerupai plankton atau partikel organik lainnya.

Dampak negatif mikroplastik terhadap biota laut telah dibuktikan melalui penelitian laboratorium. Beberapa efeknya meliputi terhambatnya pertumbuhan fotosintesis pada alga, penurunan nafsu makan dan fekunditas, serta penurunan berat badan, fungsi lisosom, dan kualitas sperma pada tiram.

Pencemaran mikroplastik tidak hanya mengancam ekosistem laut, tetapi juga kesehatan manusia. Oleh karena itu, diperlukan upaya serius untuk mengurangi penggunaan plastik dan mengelola sampah plastik secara lebih efektif.

Sumber: Kompas.com

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO