Artikel

Mungkinkah kota di masa depan punya ruang hijau yang ideal?

Melihat antusiasme Gen Z dan Milenial yang memadati Tebet Eco Park, Taman Literasi Blok M, hingga kawasan GBK, jelas terlihat bahwa masyarakat perkotaan saat ini tengah mengalami “kelaparan” akan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Bukan sekadar tempat nongkrong, RTH memiliki fungsi krusial: meredam stres, menjaga kesehatan mental-fisik, serta menjaga keseimbangan ekosistem dari kepungan beton. Sayangnya, riset terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: ruang hijau di kota-kota besar Indonesia justru semakin menyusut.

Berikut adalah ringkasan informatif berbasis data satelit Sentinel-2 (menggunakan indeks NDVI dan EVI) yang memetakan kondisi RTH di 5 kota besar Indonesia dalam tiga periode (2019–2024):

Raport Merah RTH di 5 Kota Besar Indonesia

Secara hukum (UU No.26/2007), setiap kota wajib mengalokasikan minimal 30% wilayahnya untuk RTH (20% publik, 10% privat). Namun, realitanya mayoritas kota besar belum mampu memenuhinya.

1. Jakarta Pusat (Krisis Paling Akut)

  • Kondisi: Dalam 25 tahun terakhir, tutupan hijau merosot tajam dari 45% menjadi hanya 20%.
  • Fakta RTH: Pada 2024, proporsi RTH hanya 7,02% (turun dari 7,12% di tahun 2022).
  • Karakteristik: RTH berbentuk kantong-kantong kecil, tersebar, dan tidak saling terhubung.

2. Bandung (Masalah Distribusi & Urban Sprawl)

  • Kondisi: Ada pertumbuhan vegetasi sebesar 532 hektare (2019-2024), namun terkonsentrasi di pinggiran kota. Pusat kota tetap gersang dan terisolasi.
  • Fakta RTH: Sempat naik ke 9,23% (2021-2022), namun merosot kembali ke 6,99% pada periode 2023-2024 akibat perluasan kota (urban sprawl).

3. Yogyakarta (Fragmentasi Lahan)

  • Kondisi: Sempat memiliki tutupan hijau yang merata pada 2019. Namun, pembangunan masif sejak 2023 memecah-mecah ruang hijau tersebut.
  • Fakta RTH: Sempat menyentuh angka 18,22% (2021-2022), kini menyusut lagi menjadi 14,25% (2023-2024).

4. Surabaya (Tekanan Industri)

  • Kondisi: Surabaya kehilangan sekitar 1.190 hektare area hijau pada kurun waktu 2023–2024 akibat ekspansi industri dan perumahan.
  • Fakta RTH: Meskipun persentase hijaunya masih tergolong tinggi dibanding kota lain, angkanya terus turun dari 49,35% menjadi 45,94% pada 2023-2024.

5. Semarang (Konversi Lahan)

  • Kondisi: Sempat sukses menambah 1.747 hektare RTH lewat program penghijauan dan rehabilitasi mangrove (2019–2022).
  • Fakta RTH: Keberhasilan itu sirna di periode 2023–2024 karena lahan hijau kembali dikonversi menjadi area pembangunan, membuat RTH menyusut ke 45,95%.

Perbandingan Standar vs Realita

ParameterStandar IdealRealita di Kota-Kota Indonesia
Aturan Nasional (UU 26/2007)Minimal 30% dari total luas wilayah kotaMayoritas kota padat (seperti JKT & JOG) berada jauh di bawah 20%.
Standar Kesehatan (WHO)Minimal 9 m² ruang hijau per kapitaBelum terpenuhi secara merata di kota-kota besar akibat kalah bersaing dengan kepentingan ekonomi.

Belajar dari Singapura:

Sebagai negara dengan lahan yang sangat terbatas, Singapura mampu konsisten dengan konsep “Garden City” dan mengalokasikan lebih dari 50% wilayahnya untuk RTH. Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah alasan, melainkan masalah political will (kemauan politik) pemerintah.

Solusi Menuju Kota Masa Depan yang Ideal

Membuat kota hijau yang ideal bukan hanya tugas pemerintah, melainkan hasil kolaborasi tiga elemen penting:

  • Sinergi Pemerintah & Swasta (CSR): Mengarahkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan swasta untuk membangun taman tematik atau hutan kota mini.
  • Partisipasi Warga (Placemaking): Melibatkan masyarakat dari tahap perencanaan hingga pemeliharaan. Contoh suksesnya adalah Taman Literasi Blok M, di mana keterlibatan komunitas mampu menghidupkan ruang publik tersebut.
  • Konektivitas dan Inklusivitas: RTH masa depan tidak boleh sekadar luas, tetapi harus fungsional, aman, inklusif, mempertahankan ekologi lokal, serta terintegrasi dengan transportasi publik agar mudah diakses semua orang.

Sinyal dari generasi muda sudah jelas: mereka butuh ruang hijau demi kualitas hidup yang lebih baik. Mengembalikan vegetasi ke tengah kepungan beton bukan lagi sebuah pilihan estetika, melainkan langkah wajib demi keberlanjutan hidup di masa depan.

sumber:

https://theconversation.com/mungkinkah-kota-di-masa-depan-punya-ruang-hijau-yang-ideal-254667

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO