Murah untuk produsen, praktis buat konsumen

Kemasan Sachet dan Tanggung Jawab Lingkungan: Lebih dari Sekadar Praktis
Kemasan sachet mungkin terlihat praktis dan ekonomis dalam kehidupan sehari-hari, namun di baliknya tersimpan tantangan lingkungan yang signifikan. Karakteristik kemasan sachet yang terdiri dari lapisan bahan berbeda, seperti plastik, aluminium foil, dan kertas, membuatnya sulit untuk didaur ulang secara efektif.
Alih-alih didaur ulang, banyak kemasan sachet berakhir di tempat pembuangan sampah, dibakar, atau mencemari lingkungan. Dampak terbesarnya adalah mikroplastik, partikel kecil yang dihasilkan dari degradasi plastik, yang dapat mencemari tanah, air, dan bahkan masuk ke rantai makanan, berpotensi membahayakan kesehatan.
Tanggung Jawab Bersama untuk Solusi yang Berkelanjutan
Menghadapi masalah ini, ada peran yang bisa dimainkan oleh semua pihak:
- Konsumen: Pilihan sederhana seperti beralih ke produk isi ulang (refill) atau membeli produk dalam kemasan ukuran besar yang lebih efisien dapat mengurangi jumlah sachet yang terbuang.
- Produsen: Sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PermenLHK) No. 75 Tahun 2019, produsen memiliki Tanggung Jawab Diperluas Produsen (Extended Producer Responsibility/EPR). Ini berarti produsen bertanggung jawab penuh atas seluruh siklus hidup kemasan yang mereka hasilkan, mulai dari pengumpulan hingga proses daur ulangnya.
Penerapan EPR ini memerlukan sistem yang terstruktur, mulai dari logistik pengumpulan, edukasi konsumen, hingga mekanisme pelaporan yang transparan. Keterlibatan produsen dalam pengelolaan sampah kemasan tidak hanya sebatas tanggung jawab hukum, tetapi juga investasi untuk keberlanjutan bisnis dan lingkungan.
Dengan kolaborasi yang kuat antara konsumen dan produsen, kita bisa beralih dari model ekonomi linier menuju ekonomi sirkular yang lebih bersih dan berkelanjutan.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




