Berita

Nelayan Pantura Kian Terhimpit: Pendapatan Turun, Tekanan Lingkungan Meningkat

Kesejahteraan nelayan kecil di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) dilaporkan terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjadi sorotan Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia yang menemukan berbagai persoalan mendasar, mulai dari berkurangnya hasil tangkapan hingga meningkatnya biaya melaut.

Ketua Umum KPPMPI, Hendra Wiguna, menyampaikan bahwa temuan tersebut diperoleh dari rangkaian Safari Ramadhan bersama komunitas nelayan di sejumlah wilayah pesisir, seperti Kabupaten Tegal, Cirebon, Subang, Karawang, hingga Kabupaten Bekasi.

“Keluhan nelayan relatif seragam, yaitu pendapatan yang terus menurun,” ujar Hendra, Rabu (18/3/2026).

Ia mencontohkan kondisi nelayan di Muara Gembong. Sekitar 15 tahun lalu, nelayan dengan perahu kecil berkapasitas 2 GT mampu meraup penghasilan antara Rp1 juta hingga Rp3 juta. Kini, untuk mendapatkan Rp50.000 per hari saja semakin sulit.

Menurunnya hasil tangkapan memaksa nelayan melaut lebih jauh untuk mencari wilayah yang masih produktif. Dampaknya, biaya operasional—terutama bahan bakar minyak (BBM)—meningkat hingga sekitar 20 persen. Di sisi lain, akses terhadap BBM bersubsidi masih terbatas bagi nelayan kecil.

Selain itu, nelayan juga menghadapi lemahnya posisi tawar dalam menentukan harga ikan. Ketergantungan pada rantai distribusi membuat mereka tidak memiliki kendali terhadap harga jual hasil tangkapan.

Padatnya aktivitas ekonomi di kawasan Pantura, termasuk di wilayah seperti Jakarta Utara, Tangerang, Semarang, hingga Surabaya, turut memberi tekanan terhadap ekosistem pesisir. Namun, dampak paling nyata dirasakan di daerah pesisir seperti Karawang, Demak, dan Gresik.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi ekosistem laut di Pantura semakin tertekan akibat pencemaran dan praktik penangkapan ikan berlebihan. Selain itu, pembangunan kawasan industri seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Proyek Strategis Nasional (PSN) juga dinilai berkontribusi terhadap degradasi lingkungan pesisir.

KPPMPI juga menyoroti persoalan penurunan muka tanah yang memperparah kerentanan wilayah pesisir terhadap banjir rob. Masalah lain yang tak kalah serius adalah pencemaran mikroplastik di perairan.

Penelitian oleh Universitas Airlangga menemukan tingginya kandungan mikroplastik di laut Pantura. Sementara studi dari Universitas Katolik Soegijapranata mengungkap bahwa mikroplastik juga telah ditemukan pada kerang dan ikan yang dikonsumsi masyarakat.

Kondisi ini mencerminkan menurunnya kualitas ekosistem laut yang berdampak langsung pada keberlanjutan sumber daya perikanan dan kehidupan nelayan.

Sebagai solusi, KPPMPI mendorong agar program Kampung Nelayan Merah Putih tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga mencakup pengelolaan sampah dan penyediaan akses air bersih.

“Akses air bersih menjadi persoalan serius, terutama bagi perempuan pesisir untuk kebutuhan domestik maupun usaha olahan hasil perikanan,” jelas Hendra.

Selain itu, rehabilitasi mangrove dinilai penting untuk melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan banjir rob, sekaligus menjaga habitat biota laut agar tetap lestari.

Sumber: https://lestari.kompas.com/read/2026/03/19/120300686/pendapatan-nelayan-pantura-menurun-tekanan-lingkungan-dan-biaya-melaut.

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO