Makalah

Nikel Indonesia, ambisi kendaraan listrik yang masih tertahan oleh sektor baja tahan karat

Nikel sedang mengalami pergeseran struktural dalam profil permintaan global. Meskipun baja tahan karat mendominasi, sektor prekursor baterai diperkirakan akan muncul sebagai pendorong pertumbuhan baru. Pertumbuhan ini terkonsentrasi pada baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle, EV) dan penyimpanan energi, meskipun pangsa pasar baterai tinggi nikel menurun di kedua sektor tersebut.
Meskipun baja tahan karat tetap menjadi konsumen utama dengan sekitar 65%, rantai pasokannya telah mencapai tingkat sirkularitas tinggi, sehingga lebih dari 40% produksi global saat ini berasal dari daur ulang scrap (USGS, t.d.; Wood Mackenzie, 2022).

Sisa konsumsi nikel kini mengalami rekonfigurasi yang cepat; dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan terutama didorong oleh sektor paduan (alloys) dan pelapisan (plating), sementara pangsa sektor baterai berbasis nikel stagnan. Hal ini terjadi meskipun produksi baterai global melonjak signifikan, karena pangsa pasar baterai nikel tinggi turun tajam akibat pergeseran cepat menuju alternatif tanpa nikel (IEA, 2025; Wood Mackenzie, 2025).

Setelah mengalami stagnasi selama empat tahun, permintaan nikel untuk baterai ke depan menjadi sangat tidak pasti. Proyeksi pertumbuhan permintaan nikel masih bertumpu pada ekspansi sektor baja tahan karat dan baterai EV. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan bahwa permintaan nikel untuk baterai akan menjadi hampir dua kali lipat dari 2025 hingga 2030, dengan sektor baterai mencapai sekitar 20% dari total konsumsi nikel global pada akhir dekade ini.
Namun, proyeksi pertumbuhan tahunan sebesar 12,5% tersebut sangat bergantung pada kemampuan baterai berbasis nikel untuk mempertahankan pangsa pasarnya yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini menyebabkan kecilnya pertumbuhan penggunaan nikel untuk baterai pada periode 2021–2025, meskipun volume produksi baterai meningkat (IEA, 2025).
Fenomena ini didorong oleh segmentasi yang semakin jelas di pasar EV. Kendaraan listrik dengan harga rendah hingga menengah cenderung beralih ke teknologi tanpa nikel, sementara pasar nikel berkualitas tinggi menjadi pendorong eksklusif untuk segmen premium. EV berperforma tinggi dengan jarak tempuh panjang masih mengandalkan baterai berbasis nikel seperti Nickel-Manganese-Cobalt (NMC) dan
Nickel-Cobalt-Aluminum (NCA), karena memiliki energi spesifik yang lebih tinggi dalam satuan watt-hour per kilogram (Wh/kg). Kandungan nikel yang lebih tinggi secara langsung meningkatkan densitas energi yang dibutuhkan untuk perjalanan jarak jauh (Akhter et al., 2025; Koech et al., 2024).
Setelah 2030, nikel diperkirakan tidak lagi sekadar menjadi komoditas industri dasar, melainkan bertransformasi menjadi logam energi strategis. Laju pertumbuhan tahunan untuk prekursor baterai mungkin akan melambat ke kisaran 3.5–5%, namun ukuran pasar akan jauh lebih besar, lebih sirkular, dan semakin berfokus pada materi dengan kemurnian tinggi yang dibutuhkan untuk teknologi transportasi canggih seperti baterai solid-state (IEA, 2025).

source:
https://energyandcleanair.org/wp/wp-content/uploads/2026/04/ID-CREA_Nikel-Indonesia_-Ambisi-kendaraan-listrik-yang-masih-tertahan-oleh-sektor-baja-tahan-karat.pdf

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO