Pakar Bencana ITB Dorong ASEAN Kembangkan Peringatan Tsunami Difabel

Pakar kebencanaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Harkunti Pertiwi Rahayu, mengajak negara-negara anggota ASEAN untuk mengembangkan sistem peringatan dini tsunami yang ramah bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, sistem peringatan dini gempa dan tsunami yang ada saat ini belum sepenuhnya menjangkau kelompok difabel, yang merupakan bagian dari masyarakat rentan.
Harkunti menyampaikan hal ini saat menjadi pembicara di Asia Disaster Management and Civil Protection Expo, Conference (ADEXCO) dan Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) di Jakarta pada Kamis, 12 September 2024. Ia menyoroti pentingnya sistem peringatan yang dapat diakses oleh semua kelompok masyarakat, termasuk difabel, tanpa memandang status sosial atau hirarki.
Ia mencontohkan, di Indonesia terdapat sekitar 22,5 juta penyandang disabilitas, yang sering kali tidak mendapat akses memadai terhadap informasi peringatan bencana. Hal ini sangat penting, mengingat banyak wilayah di Indonesia yang rentan terhadap gempa dan tsunami, seperti Sumatera Barat, di mana 2/3 murid sekolah berada di area berisiko.
Harkunti juga menekankan perlunya tindakan konkret oleh negara-negara ASEAN untuk memastikan bahwa kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, mendapatkan akses yang sama terhadap sistem peringatan dini bencana. Sebagai anggota Komite Saintifik Program Tsunami Dekade Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa (ODTP), ia menekankan target UN IOC ODTP bahwa pada tahun 2030, 100 persen masyarakat rentan harus memiliki akses terhadap ketahanan bencana tsunami.
Salah satu solusi yang diusulkan adalah pengembangan fitur peringatan bencana yang menggunakan sandi getar pada ponsel, sehingga informasi dapat dijangkau oleh penyandang tunanetra, tunarungu, dan tuli. Harkunti berharap bahwa ASEAN dan negara-negara anggotanya dapat segera menindaklanjuti hal ini demi meningkatkan inklusivitas dalam sistem peringatan dini.
ADEXCO 2024, yang berlangsung di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, dari tanggal 11 hingga 14 September 2024, merupakan ajang internasional yang mempertemukan perusahaan, instansi pemerintah, dan para ahli di bidang manajemen bencana. Pameran ini diikuti oleh 126 perusahaan dari 14 negara, termasuk Jerman, Singapura, Brunei, dan China.
Sementara itu, GFSR adalah forum diskusi tingkat tinggi yang melibatkan delegasi ASEAN serta Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR), dengan fokus pada resiliensi berkelanjutan dan adaptasi perubahan iklim, serta refleksi 20 tahun bencana tsunami Samudra Hindia.
sumber :
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




