Perayaan Galungan Picu Lonjakan Sampah di Bangli, Capai 5 Ton per Hari

Perayaan Hari Raya Galungan di Kabupaten Bangli, Bali, membawa dampak pada meningkatnya volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selama rangkaian perayaan berlangsung, jumlah sampah yang diangkut mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai 5 ton per hari.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangli, I Putu Ganda Wijaya, mengatakan bahwa pelayanan pengangkutan sampah tetap berjalan normal selama perayaan Galungan. Berbagai jalur layanan, termasuk jalur terintegrasi di wilayah Kota Bangli dan armada kendaraan viar, tetap beroperasi untuk memastikan sampah dapat tertangani dengan baik.
“Untuk jalur terintegrasi maupun pengangkutan menggunakan viar tetap berjalan seperti biasa. Armada viar beroperasi dengan sistem keliling selama kurang lebih tiga jam,” ujarnya.
Selain itu, DLH Bangli juga mengoperasikan sebanyak 14 armada truk setiap hari sejak pukul 05.00 Wita, baik menjelang maupun selama Hari Raya Galungan.
Volume Sampah Meningkat Selama Rangkaian Galungan
Peningkatan volume sampah mulai terlihat sejak beberapa hari sebelum Hari Raya Galungan. Pada Hari Penyajaan Galungan, sampah yang masuk ke TPA mencapai sekitar 4 ton per hari. Jumlah tersebut meningkat pada Penampahan Galungan hingga menyentuh angka 5 ton per hari.
Setelah Hari Raya Galungan, volume sampah kembali mengalami kenaikan saat Umanis Galungan dengan jumlah sekitar 4,5 ton per hari. Sementara pada puncak Hari Raya Galungan, volume sampah tercatat lebih rendah, yakni sekitar 2,5 hingga 3 ton per hari.
Meski terjadi lonjakan volume sampah, DLH Bangli tidak melakukan penambahan personel maupun armada. Penanganan dilakukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang telah tersedia.
Optimalisasi Armada untuk Antisipasi Lonjakan
Menurut Ganda Wijaya, peningkatan volume sampah menyebabkan frekuensi pengangkutan menjadi lebih tinggi dibandingkan hari biasa. Jika umumnya satu armada melakukan dua kali perjalanan, selama rangkaian Galungan frekuensi tersebut dapat meningkat menjadi tiga kali perjalanan.
Untuk mencegah sampah tercecer selama proses pengangkutan, seluruh muatan ditutup menggunakan jaring pengaman. Sementara sampah yang belum terangkut karena kapasitas truk penuh akan diangkut menggunakan kendaraan viar.
“Ketika kapasitas truk sudah penuh, sampah yang masih tersisa akan kami angkut menggunakan viar agar tidak menumpuk terlalu lama,” jelasnya.
Pemilahan Sampah Masih Menjadi Tantangan
Di tengah upaya optimalisasi pengangkutan, DLH Bangli masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah, khususnya terkait pemilahan dari sumbernya. Sampah yang masuk ke TPA harus melalui proses pemilahan karena hanya sampah residu yang dapat ditangani di lokasi tersebut.
Menurut Ganda Wijaya, kesadaran masyarakat dalam memilah sampah memang mulai meningkat, namun belum berjalan secara maksimal.
“Kendala utama kami masih pada pemilahan sampah dari sumber. Memang sudah ada perubahan ke arah yang lebih baik, tetapi belum optimal. Kami berharap masyarakat semakin sadar untuk memilah sampah sejak dari rumah,” ujarnya.
Kesadaran Masyarakat Menjadi Kunci
Lonjakan volume sampah saat perayaan keagamaan menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat. Dengan melakukan pemilahan sampah sejak dari sumber, volume sampah yang berakhir di TPA dapat dikurangi, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Perayaan Hari Raya Galungan yang sarat nilai spiritual diharapkan juga menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, sehingga tradisi dan kelestarian alam dapat berjalan beriringan.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




