Artikel

Praktik agroforestri belum efektif memulihkan hutan lindung: Studi di Lampung

Praktik agroforestri dalam program perhutanan sosial di Hutan Lindung Batutegi dinilai belum optimal dalam memulihkan fungsi perlindungan lingkungan kawasan hutan lindung. Padahal, kawasan hutan memiliki peran penting sebagai penyangga kehidupan melalui pengaturan tata air, pencegahan banjir, pengendalian erosi, hingga menjaga kesuburan tanah.

Temuan tersebut terungkap dalam hasil sementara riset di kawasan Hutan Lindung Batutegi yang memiliki luas sekitar 58.174 hektare. Dari total luas tersebut, lebih dari 29 ribu hektare telah dimanfaatkan untuk praktik agroforestri oleh masyarakat melalui program perhutanan sosial.

Ratusan Titik Longsor Jadi Indikasi Lemahnya Fungsi Lindung

Peneliti menemukan indikasi menurunnya fungsi perlindungan hutan melalui munculnya sekitar 100 titik longsor di kawasan Batutegi sepanjang 2024.

Sebagian besar longsor ditemukan di area perkebunan kopi milik petani yang berada di kawasan perhutanan sosial. Data tersebut diperoleh dari laporan petani yang sehari-hari beraktivitas di dalam kawasan hutan lindung tersebut.

Selain longsor, lemahnya fungsi ekologis kawasan juga terlihat dari menurunnya kapasitas Bendungan Batutegi dalam menampung air irigasi.

Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Lampung tahun 2018, bendungan tersebut hanya mampu mengairi sekitar 45 ribu hektare sawah dari total kapasitas potensial mencapai 63 ribu hektare.

Jumlah Pohon di Lahan Agroforestri Masih Minim

Hasil penelitian menunjukkan praktik perhutanan sosial di Batutegi belum mampu mendorong petani menanam pohon dalam jumlah ideal.

Rata-rata jumlah pohon di lahan garapan petani masih kurang dari 100 pohon per hektare. Jumlah tersebut dinilai belum memenuhi standar rehabilitasi lahan yang ideal, yakni minimal 200 pohon per hektare agar fungsi ekologis kawasan dapat pulih secara optimal.

Para petani mengaku khawatir penambahan jumlah pohon akan mengurangi hasil panen kopi sebagai komoditas utama mereka.

Akibatnya, pohon-pohon di lahan agroforestri lebih banyak berfungsi sebagai pembatas lahan dan belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber pendapatan tambahan.

Kondisi tersebut menyebabkan tutupan lahan di kawasan perhutanan sosial Batutegi masih terbuka sehingga belum efektif mengembalikan fungsi hutan lindung.

Agroforestri Kompleks Dinilai Potensial Pulihkan Ekosistem

Meski jumlah pohon masih minim, penelitian mencatat keragaman jenis tanaman di lahan petani sebenarnya cukup baik, yakni sekitar lima hingga enam jenis pohon per hektare.

Jenis tanaman yang banyak ditemukan antara lain petai, alpukat, jengkol, durian, dan cengkeh. Keragaman tersebut sudah masuk kategori agroforestri kompleks yang dinilai memiliki potensi besar dalam memulihkan fungsi ekologis hutan.

Namun, kurangnya jumlah pohon menyebabkan tutupan tajuk belum terbentuk secara optimal. Padahal, hutan dengan lapisan tajuk yang beragam sangat penting dalam meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air dan mengurangi risiko erosi.

Tanaman Kopi Justru Membutuhkan Pohon Penaung

Penelitian di Lampung juga menunjukkan bahwa tanaman kopi sebenarnya membutuhkan naungan pohon untuk tumbuh secara optimal.

Tanaman kopi robusta idealnya hanya menerima sekitar 75 persen cahaya matahari atau membutuhkan 25 persen naungan guna menjaga suhu dan kelembapan yang sesuai.

Lahan yang terlalu terbuka justru membuat tanaman kopi kurang produktif karena terpapar panas berlebih dan kehilangan kelembapan alami.

Akibat produktivitas yang rendah, sebagian petani di Batutegi kemudian menggunakan pupuk kimia, pestisida, dan herbisida secara berlebihan demi meningkatkan hasil panen kopi. Praktik tersebut dinilai dapat memperburuk kondisi lingkungan dalam jangka panjang.

Pemerintah Diminta Perkuat Pendampingan Perhutanan Sosial

Peneliti menilai sistem agroforestri di kawasan Batutegi masih perlu diperbaiki melalui peningkatan jumlah pohon tanpa mengurangi keragaman jenis tanaman.

Petani didorong menanam lebih banyak pohon penaung seperti alpukat, durian, kemiri, pala, petai, dan jengkol yang dapat tumbuh berdampingan dengan kopi.

Selain itu, tanaman bawah seperti jahe, kapulaga, sereh, dan cabai juga dinilai penting untuk menjaga permukaan tanah dari erosi sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.

Keberhasilan agroforestri dan perhutanan sosial di Batutegi dinilai tidak bisa hanya mengandalkan petani. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga pendamping perhutanan sosial perlu memberikan dukungan berupa akses bibit, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan agar fungsi lindung kawasan hutan dapat kembali optimal.

https://theconversation.com/praktik-agroforestri-belum-efektif-memulihkan-hutan-lindung-studi-di-lampung-246418

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO