Primata endemik makin terdesak jika perusahaan kayu masuk Mentawai

Ancaman Ganda Primata Endemik Mentawai: Deforestasi dan Perburuan Modern
Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, rumah bagi enam spesies primata endemik yang unik, menghadapi krisis konservasi yang semakin mendalam. Ancaman ganda dari rencana eksploitasi hutan oleh perusahaan kayu dan maraknya perburuan modern menempatkan satwa langka ini pada risiko kepunahan yang lebih tinggi.
Survei Mengkhawatirkan di Sipora
Pengamatan lapangan yang dilakukan oleh Dr. Rizaldi, seorang ahli primata dari Universitas Andalas (Unand), bersama tim mahasiswanya pada Agustus 2025 di Pulau Sipora, menunjukkan indikasi yang mengkhawatirkan mengenai kondisi populasi primata.
- Lokasi Survei: Tim melakukan observasi di Goiso Oinan (Sipora Utara) dan Berkat (Desa Tuapeijat). Sebagian area Berkat masuk dalam konsesi PT Sumber Permata Sipora (SPS).
- Minimnya Jejak Satwa: Meskipun menyisir kanopi hutan dan pohon-pohon besar, tim Rizaldi hampir tidak menemukan jejak primata. Ketiadaan suara primata di hutan dengan vegetasi yang masih baik dianggap janggal oleh peneliti, mengindikasikan tekanan intervensi manusia yang tinggi.
- Aktivitas Manusia: Di kawasan konsesi SPS (Berkat), terdengar jelas suara chainsaw dan hilir mudik kendaraan pengangkut kayu, menunjukkan aktivitas penebangan yang sedang berlangsung atau akan segera dimulai.
Target Primata Endemik
Mentawai adalah rumah bagi primata yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Spesies yang menjadi fokus observasi dan kini terancam adalah:
| Spesies Primata | Nama Lokal | Status Konservasi (Menurut IUCN) |
| Simias concolor | Simakobu / Monyet Ekor Babi | Salah satu dari 25 Primata Paling Terancam Punah (2023-2025) |
| Presbytis potenziani | Joja Pagai | – |
| Presbytis siberu | Joja Siberut | – |
| Macaca pagensis | Bokkoi Pagai (Macaca Mentawai Selatan) | – |
| Macaca siberu | Bokkoi Siberut | – |
| Hylobates klossii | Bilou / Owa Mentawai | – |
Simakobu (Simias concolor) secara spesifik diakui oleh IUCN SSC Primate Specialist Group sebagai salah satu dari 25 primata yang paling terancam punah di dunia, terutama akibat deforestasi dan fragmentasi habitat.
Maraknya Perburuan Modern
Salah satu faktor utama yang diduga menyebabkan sepinya populasi primata adalah peningkatan intensitas perburuan.
- Pergeseran Metode: Perburuan tidak lagi terbatas pada metode tradisional (panah beracun) dan acara adat. Saat ini, pemburu mudah mendapatkan senapan angin melalui e-commerce, menjadikan aktivitas perburuan berlangsung sepanjang musim tanpa batas waktu.
- Target Buruan: Spesies seperti joja (peipei) dan masepsep menjadi sasaran utama perburuan untuk sumber protein. Bahkan Bilou, yang secara adat dilarang diburu oleh Sikerei (tokoh adat Mentawai), dilaporkan masih diburu di Sipora.
- Kurangnya Perlindungan Lokal: Seorang pemburu menyebutkan tidak adanya aturan ketat yang melarang perburuan Bilou di Sipora, berbeda dengan di Siberut.
Ancaman Konsesi Kayu: Akses dan Fragmentasi
Rencana operasional perusahaan kayu, khususnya PT Sumber Permata Sipora (SPS) yang memegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) seluas lebih dari 20.000 hektar di Sipora, dinilai Rizaldi akan memperburuk situasi secara signifikan.
- Dampak Habitat: Penebangan hutan akan menghilangkan rumah primata dan memicu fragmentasi habitat.
- Akses Perburuan: Pembukaan jalan dan aktivitas perusahaan akan mempermudah akses bagi pemburu untuk masuk lebih dalam ke jantung hutan.
- Penolakan Masyarakat: Rencana konsesi ini menuai penolakan dari masyarakat setempat, seperti yang diungkapkan oleh Robert Choi, pemilik lahan di Goiso Oinan, yang menolak menjual pohon besar sisa penebangan karena khawatir akan dampak jangka panjang penebangan.
Upaya Mitigasi dan Respons Pemerintah
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar, Fuad, menyatakan bahwa perusahaan diwajibkan untuk memenuhi sejumlah syarat dalam dokumen Amdal dan Rencana Kerja Umum (RKU):
- Koridor Satwa: SPS harus menyiapkan koridor satwa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Saureinu yang berdekatan dengan hutan lindung.
- Kantung Satwa: Perusahaan wajib menyediakan kantong-kantong satwa di dalam blok konsesi dan mengalokasikan minimal 100 hektar areal yang tidak boleh ditebang, di luar hutan lindung, untuk perlindungan satwa.
- Fungsi Ekologis: Rizaldi menekankan bahwa primata memiliki peran vital sebagai penjaga ekosistem dan penyebar benih alami, sehingga kehilangan mereka akan berdampak luas pada regenerasi hutan.
Kerusakan habitat akibat eksploitasi hutan, ditambah dengan peningkatan perburuan yang efektif, menciptakan tekanan eksponensial pada primata endemik Mentawai. Tindakan konservasi yang mendesak, termasuk peninjauan ulang izin konsesi dan pengawasan ketat terhadap perburuan, sangat diperlukan untuk mencegah kepunahan satwa yang telah terdesak oleh deforestasi dan fragmentasi.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




