Prof. Dr (HC) Ir. H. Soetami Menteri Dengan Proyek Mercusuar Hidupnya Tetap Miskin

Ir. Soetami lulusan Teknik Sipil ITB tahun 1956 lahir di Surakarta tanggal 19 Oktober tahun 1928. Semasa kuliah dikenal mahasiswa yang cerdas, ulet dan pekerja keras. Setelah lulus kemudian kerja di Hutama Karya dan pada tahun 1961 menjadi Direktur Hutama Karya. Ia memimpin proyek pembangunan Jembatan Ampera Sungai Musi Palembang. Ir Soetami adalah sang pelolor penggunaan konstruksi beton pratekan saat membangun Jembatan Semanggi. Atas raihan dan prestasinya Presiden Soekarno mengangkat Ir. Soetami pada tahun 1964 menjadi Menteri Negara diperbantukan pada Menteri Koordinator Pekerjaan Umum dan Tenaga pada urusan penilaian kontruksu Kabinet Dwikora I dan berlanjut sampai Presiden Soeharto tahun 1978. Ir. Soetami menjadi Menteri PU terlama selama 13 tahun.
Dibawah kepemimpinanya proyek mercusuar masih berdiri hingga kini seperti Gedung DPR, Jembatan Semanggi, Waduk Jatiluhur, Jembatan Sungai Musi, Bandara Ngurah Rai, dan banyak proyek lainnya yang dibuat dan di bawah pengawasan Ir Soetami.
Pemerintah memberikan penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana (10 Maret 1973) dan
Satyalancana Pembangunan (1962), kemudian namanya diabadikan pada jalan bypass di Propinsi Lampung, Bendungan di Kabupaten Malang dan Bendungan di Kabupaten Nagekeo Nusa Tenggara Timur.
Banyak proyek mercusuar yang ia kerjakan, milyaran rupiah bahkan trilyun, tapi Soetami hidupnya sederhana, rumahnya bocor manakala hujan turun. Saat lebaran tiba para tamu terkaget-kaget dengan kondisi rumah Soetami di jalan Imam Bonjol Jakarta Pusat yang dibeli dengan cara mencicil dan lunas ketika memasuki masa pensiun rumah bisa terlunasi. Tidak ada barang mewah, perabot yang sudah reot dan cat mengelupas.
Soetami tidak aji mumpung saat menjadi menteri yang paling basah yaitu Menteri PU, tanpa tergoda korupsi, rasa cinta pada negeri ini menjadi pengingatnya yaitu dengan membangun sebaik-baiknya tanpa mengurangi kulitas material tanpa pat gulipat uang disunat dan komisi menjadikan hasil karyanya bisa dinikmati hingga saat ini.
Soetami pekerja keras hidupnya sangat sederhana dan menafaatkan fasilitas negara secara wajar. Ketika ia sakit dan sudah tidak menjabat lagi sebagai menteri ia tidak sindrome pejabat, ia ingin diperlakukan sebagai rakyat biasa, ketika sakitnya makin parah ia gak mau ke rumah sakit karena gak ada uang, kemudian pemerintah turun tangan dan membawanya ke rumah sakit untuk opname, hanya saja karena sudah sangat kritis akhirnya Soetami meninggal dunia dalam usia 52 tahun.
Soetami berpesan bahwa apabila ia meninggal untuk tidak dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata Jakarta, akhirnya Soetami dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta. Kisah hidupnya memberikan inspirasi, menangani proyek besar tidak tergoda untuk korupsi dan menerima upeti.
Sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




