Relawan dan BPBD Semprot Eco-Enzyme di Balikpapan, Ikhtiar Kurangi Dampak Kabut Asap Karhutla

Di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang memengaruhi kualitas udara di Kalimantan Timur, sejumlah relawan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan penyemprotan larutan eco-enzyme di beberapa titik di Balikpapan. Cairan hasil fermentasi bahan organik tersebut disiapkan dan disaring oleh para relawan sebelum dibawa menggunakan mobil pemadam kebakaran. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari menggunakan metode spray atau mist sebagai ikhtiar untuk membantu mengurangi partikel dan pekatnya asap di udara, meskipun efektivitas metode tersebut terhadap polusi udara luar ruang masih memerlukan pembuktian ilmiah yang lebih kuat.
Aksi tersebut bermula dari persiapan yang dilakukan para relawan sejak sore sebelumnya. Eco-enzyme yang telah siap digunakan dipindahkan ke beberapa titik untuk mendukung operasi penyemprotan, sementara relawan lainnya membantu melakukan proses penyaringan agar cairan dapat digunakan melalui sistem penyemprotan mobil pemadam tanpa mengganggu peralatan.
Keesokan paginya, sekitar pukul 05.00 waktu setempat, kegiatan dilanjutkan dengan dukungan petugas BPBD. Larutan yang telah disiapkan kemudian disemprotkan menggunakan metode kabut halus dengan harapan droplet air yang dilepaskan ke udara dapat berinteraksi dengan sebagian partikel yang berada di atmosfer sekitar lokasi penyemprotan.
Aksi tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk respons masyarakat terhadap kondisi udara yang memburuk akibat kabut asap. Para relawan sendiri menyadari bahwa penyemprotan bukan solusi sempurna untuk persoalan polusi akibat karhutla, tetapi menjadi salah satu tindakan yang dapat mereka lakukan sambil penanganan kebakaran terus berlangsung.
Relawan Bergerak Menyiapkan Eco-Enzyme
Sebelum penyemprotan dilakukan, persiapan membutuhkan keterlibatan sejumlah orang. Eco-enzyme yang telah melalui proses fermentasi dan siap digunakan terlebih dahulu dipindahkan menuju lokasi yang telah ditentukan. Cairan tersebut kemudian menjalani proses penyaringan dengan bantuan para relawan sebelum digunakan dalam operasi penyemprotan.
Tahap penyaringan penting dalam penggunaan peralatan semprot karena larutan hasil fermentasi dapat mengandung material atau residu yang berpotensi menyumbat nozzle. Semakin kecil ukuran droplet yang ingin dihasilkan, semakin penting memastikan cairan yang masuk ke sistem penyemprotan relatif bebas dari partikel berukuran besar.
Setelah proses tersebut selesai, eco-enzyme dicampurkan dengan air untuk kemudian disemprotkan menggunakan armada pemadam kebakaran. Penggunaan mobil pemadam memungkinkan larutan dibawa dalam volume lebih besar sekaligus memberikan kemampuan penyemprotan yang tidak dapat dicapai apabila hanya menggunakan alat semprot manual.
Keterlibatan relawan dan BPBD menunjukkan adanya upaya kolaboratif dalam menghadapi dampak kabut asap. Ketika petugas tetap berkonsentrasi menangani sumber kebakaran, kelompok masyarakat mencoba berkontribusi melalui kegiatan pendukung yang dianggap dapat membantu kondisi lingkungan di kawasan perkotaan.
Penyemprotan Dilakukan Menggunakan Metode Mist
Berbeda dengan penyemprotan air dalam bentuk aliran besar, metode yang digunakan dalam kegiatan ini diarahkan untuk menghasilkan butiran air berukuran lebih kecil atau mist. Prinsip penyemprotan kabut air telah digunakan dalam berbagai konteks pengendalian debu karena droplet air dapat bertemu dengan sebagian partikel di udara dan membantu membawanya turun.
Dalam kegiatan di Balikpapan, air yang digunakan dicampurkan dengan eco-enzyme. Para penggagas kegiatan berharap campuran tersebut dapat membantu menangkap atau mengurangi partikel yang berada di udara sekaligus mengurangi pekatnya kabut asap yang dirasakan masyarakat.
Namun perlu dibedakan antara penggunaan water mist untuk pengendalian debu dalam kondisi tertentu dan klaim bahwa eco-enzyme secara khusus mampu menurunkan konsentrasi polutan akibat karhutla dalam skala kota. Efektivitasnya sangat dipengaruhi kondisi atmosfer, ukuran droplet, konsentrasi larutan, jenis polutan, kecepatan angin, kelembapan, luas area penyemprotan, dan banyaknya sumber emisi yang masih aktif.
Karena itu, penyemprotan seperti yang dilakukan di Balikpapan lebih tepat ditempatkan sebagai langkah mitigasi tambahan. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap kualitas udara diperlukan pengukuran konsentrasi polutan sebelum dan sesudah penyemprotan dengan metode serta instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan.
Apa Sebenarnya Eco-Enzyme?
Eco-enzyme merupakan cairan yang dihasilkan melalui proses fermentasi bahan organik, umumnya sisa buah dan sayuran, bersama gula atau molase dan air. Proses fermentasi berlangsung dalam jangka waktu tertentu sebelum cairan dipisahkan dari residunya dan digunakan untuk berbagai kebutuhan.
Popularitas eco-enzyme berkembang karena pembuatannya sekaligus memberikan alternatif pemanfaatan terhadap sebagian sampah organik rumah tangga. Kulit buah dan sisa sayuran yang seharusnya menjadi sampah dapat digunakan sebagai bahan fermentasi, meskipun pendekatan ini tentu bukan satu-satunya cara mengelola sampah organik.
Dalam praktik masyarakat, eco-enzyme digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembersihan hingga kegiatan pertanian. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaannya juga mulai diperkenalkan dalam kegiatan penyemprotan udara, termasuk ketika terjadi persoalan polusi.
Akan tetapi, setiap klaim manfaat tetap perlu dilihat berdasarkan bukti yang tersedia. Manfaat suatu larutan untuk satu aplikasi tidak otomatis membuktikan efektivitasnya untuk aplikasi lain, terlebih ketika skalanya berubah dari ruangan tertutup menjadi atmosfer perkotaan yang sangat luas dan dinamis.
Efektivitas terhadap Polusi Udara Masih Perlu Dibuktikan
Aspek ini penting agar semangat relawan tidak berubah menjadi kesimpulan ilmiah yang terlalu jauh. Terdapat penelitian terbatas mengenai penggunaan eco-enzyme terhadap kualitas mikrobiologis udara dalam ruangan, tetapi hal tersebut berbeda dengan persoalan partikel PM2.5 dan berbagai komponen asap akibat kebakaran hutan dan lahan di ruang terbuka.
Udara perkotaan merupakan sistem yang sangat dinamis. Angin terus membawa massa udara baru, sementara sumber kebakaran dapat terus menghasilkan asap dalam jumlah besar. Penyemprotan pada satu ruas jalan hanya memengaruhi volume udara yang relatif kecil dibandingkan keseluruhan atmosfer kota.
Karena itu, apabila ingin mengetahui efektivitas metode ini secara objektif, penyemprotan dapat disertai pemantauan kualitas udara yang lebih sistematis. Konsentrasi PM2.5 dan PM10 dapat diukur sebelum penyemprotan, selama kegiatan berlangsung, beberapa saat setelah penyemprotan, serta dibandingkan dengan lokasi kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan.
Data meteorologi juga perlu dicatat karena perubahan kecepatan angin, arah angin, kelembapan, dan hujan dapat menurunkan atau meningkatkan konsentrasi polutan tanpa hubungan dengan penyemprotan. Tanpa kontrol terhadap faktor-faktor tersebut, penurunan angka polusi setelah penyemprotan belum cukup untuk membuktikan bahwa eco-enzyme menjadi penyebabnya.
Kabut Asap Karhutla Mengandung Partikel Sangat Halus
Kebutuhan untuk mengurangi paparan menjadi penting karena asap kebakaran hutan dan lahan mengandung campuran berbagai polutan. Salah satu komponen yang paling diperhatikan dari perspektif kesehatan adalah particulate matter berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dikenal sebagai PM2.5.
Partikel berukuran sangat kecil dapat terhirup hingga jauh ke dalam sistem pernapasan. Ketika konsentrasinya meningkat, masyarakat dapat mengalami iritasi mata dan saluran pernapasan, batuk, rasa tidak nyaman, serta berbagai keluhan lainnya. Orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular dapat menghadapi risiko yang lebih besar ketika kualitas udara memburuk.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu juga membutuhkan perlindungan lebih besar selama episode kabut asap. Karena itu, pemantauan kualitas udara menjadi penting agar keputusan mengenai aktivitas luar ruangan tidak hanya berdasarkan seberapa pekat asap terlihat oleh mata.
Kabut yang terlihat tipis juga tidak selalu berarti konsentrasi partikel telah aman. Sebaliknya, perubahan kondisi atmosfer dapat membuat asap terlihat berbeda meskipun masih terdapat polutan dalam jumlah yang perlu diperhatikan.
Penyemprotan Tidak Menggantikan Pemadaman di Sumber
Hal terpenting dalam memahami kegiatan eco-enzyme di Balikpapan adalah membedakan penanganan sumber polusi dengan mitigasi dampak setelah polusi terbentuk. Ketika kebakaran hutan dan lahan masih menghasilkan asap, penyemprotan di kawasan perkotaan tidak dapat menggantikan kebutuhan untuk memadamkan api.
Sumber polusi tetap harus dihentikan. Petugas perlu menemukan titik kebakaran, melakukan pemadaman, mencegah api meluas, melakukan pendinginan, dan memastikan bara tidak kembali berkembang. Pada lahan tertentu, terutama area yang mempunyai lapisan organik tebal atau gambut, proses tersebut dapat membutuhkan waktu dan sumber daya besar.
Pencegahan bahkan lebih penting daripada pemadaman. Patroli, deteksi dini, pemantauan hotspot, kesiapan personel dan peralatan, ketersediaan sumber air, serta pencegahan pembukaan lahan dengan cara membakar merupakan bagian utama dari pengendalian karhutla.
Penyemprotan mist di perkotaan karena itu berada pada lapisan berbeda. Tujuannya adalah mencoba mengurangi dampak yang sudah mencapai masyarakat, sementara strategi utama tetap harus menghentikan emisi dari sumbernya.
Karhutla di Kalimantan Timur Masih Menjadi Perhatian
Aksi di Balikpapan berlangsung ketika Kalimantan Timur masih menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan. Kabut asap yang terbentuk dari berbagai kejadian kebakaran telah memengaruhi kualitas udara dan mendorong pemerintah, petugas kebencanaan, relawan, serta masyarakat melakukan berbagai bentuk respons.
Kondisi tersebut juga memperlihatkan karakter khusus polusi akibat karhutla. Asap tidak berhenti pada batas lokasi kebakaran. Partikel dapat terbawa angin dan bergerak menuju kawasan lain, sehingga masyarakat yang berada jauh dari titik api tetap dapat mengalami penurunan kualitas udara.
Hal inilah yang membuat pengendalian karhutla membutuhkan koordinasi lintas wilayah. Memadamkan kebakaran di satu lokasi bukan hanya melindungi masyarakat yang tinggal di sekitarnya, tetapi juga dapat mengurangi produksi asap yang berpotensi bergerak menuju kota dan kabupaten lain.
Balikpapan sebagai salah satu pusat aktivitas perkotaan di Kalimantan Timur juga menghadapi konsekuensi ketika massa udara yang membawa asap mencapai kawasan kota. Respons terhadap kondisi tersebut akhirnya tidak hanya melibatkan petugas yang berada di titik kebakaran, tetapi juga kelompok masyarakat yang mencoba membantu mengurangi dampaknya.
Gotong Royong Menjadi Bagian Penting dari Respons
Salah satu hal yang menonjol dari kegiatan penyemprotan eco-enzyme adalah keterlibatan masyarakat. Relawan membantu memindahkan cairan, melakukan penyaringan, mempersiapkan bahan, dan mendukung petugas dalam pelaksanaan kegiatan.
Partisipasi seperti ini mempunyai nilai penting dalam penanggulangan bencana. Pemerintah mempunyai personel, kewenangan, dan peralatan, sementara masyarakat dapat menyediakan jaringan relawan, pengetahuan lokal, logistik, serta berbagai bentuk dukungan lain.
Namun partisipasi masyarakat juga perlu berjalan dengan prinsip keselamatan. Relawan yang bekerja dalam kondisi udara buruk tetap menghadapi paparan asap sehingga penggunaan perlindungan pernapasan yang sesuai, pembatasan durasi paparan, hidrasi, dan koordinasi dengan petugas menjadi penting.
Semangat membantu tidak seharusnya membuat relawan mengabaikan kesehatan mereka sendiri. Dalam penanganan bencana, keselamatan orang yang membantu tetap menjadi bagian dari keberhasilan operasi.
Eco-Enzyme Juga Membawa Pesan Pengelolaan Sampah Organik
Terlepas dari perdebatan mengenai efektivitasnya terhadap polusi udara, eco-enzyme mempunyai dimensi lain yang menarik dari perspektif lingkungan, yaitu pemanfaatan sisa organik. Sebagian bahan yang digunakan untuk membuatnya berasal dari sisa buah dan sayuran yang biasanya dibuang sebagai sampah.
Sampah organik merupakan salah satu komponen penting dalam persoalan persampahan perkotaan. Ketika dibuang bersama sampah lainnya, material organik meningkatkan volume yang harus diangkut dan dikelola di tempat pemrosesan akhir.
Pemanfaatan sisa organik dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan sesuai kebutuhan, mulai dari komposting, biodigester, pemanfaatan sebagai pakan pada kondisi yang sesuai, hingga fermentasi untuk menghasilkan produk tertentu. Eco-enzyme menjadi salah satu praktik yang berkembang di tingkat komunitas.
Karena itu, kegiatan relawan di Balikpapan sekaligus menunjukkan bagaimana aktivitas lingkungan dapat mempertemukan dua isu berbeda: pengelolaan bahan organik dan kepedulian terhadap kualitas udara.
Pengujian Ilmiah Justru Dapat Memperkuat Gerakan Masyarakat
Apabila penyemprotan eco-enzyme akan terus digunakan sebagai bagian dari respons polusi udara, langkah berikutnya yang penting adalah memperkuat kegiatan tersebut dengan pengukuran ilmiah. Relawan, pemerintah daerah, universitas, dan lembaga penelitian dapat bekerja sama untuk merancang pengujian lapangan.
Sensor kualitas udara dapat ditempatkan pada beberapa titik dengan desain eksperimen yang jelas. Satu kawasan mendapatkan penyemprotan air biasa, kawasan lain menggunakan air dengan eco-enzyme, sementara titik kontrol tidak mendapatkan penyemprotan. Kondisi meteorologi dan konsentrasi polutan kemudian dibandingkan selama periode yang sama.
Pendekatan seperti itu dapat menjawab pertanyaan yang selama ini masih terbuka. Apakah penurunan PM2.5 terutama berasal dari droplet air? Apakah penambahan eco-enzyme memberikan efek tambahan? Berapa lama pengaruhnya bertahan? Berapa volume yang diperlukan untuk area tertentu? Bagaimana pengaruh kecepatan angin dan kelembapan?
Jika manfaat dapat dibuktikan secara konsisten, metode tersebut mempunyai dasar lebih kuat untuk dikembangkan. Jika hasilnya tidak signifikan, sumber daya dapat diarahkan kepada intervensi lain yang memberikan manfaat lebih besar.
Ilmu pengetahuan dalam konteks ini tidak perlu diposisikan sebagai lawan dari gerakan masyarakat. Justru pengukuran yang baik dapat membantu memastikan energi, waktu, bahan, dan sumber daya relawan digunakan pada tindakan yang paling efektif.
Perlindungan Masyarakat Tetap Menjadi Prioritas
Selama kualitas udara masih buruk, masyarakat tetap perlu mengutamakan langkah perlindungan yang telah mempunyai dasar lebih jelas. Mengurangi aktivitas luar ruangan ketika konsentrasi polutan tinggi menjadi salah satu langkah utama, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit jantung atau pernapasan.
Ketika harus berada di luar pada kondisi asap pekat, perlindungan pernapasan yang mampu menyaring partikel dan terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan. Di dalam rumah, masuknya asap dari luar dapat dikurangi sebisa mungkin dan sumber polusi tambahan seperti asap rokok serta pembakaran sampah perlu dihindari.
Masyarakat juga perlu memantau kondisi kesehatan. Batuk, iritasi, atau rasa tidak nyaman dapat muncul ketika kualitas udara memburuk, sementara sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau gejala berat lainnya membutuhkan perhatian medis.
Langkah-langkah tersebut tetap diperlukan meskipun kegiatan penyemprotan dilakukan. Eco-enzyme tidak seharusnya dianggap sebagai pengganti masker, udara dalam ruang yang lebih bersih, pemantauan kualitas udara, maupun pelayanan kesehatan.
Dari Aksi Relawan Menuju Kolaborasi yang Lebih Besar
Kegiatan di Balikpapan memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan dapat mendorong masyarakat bergerak bersama. Ada relawan yang membuat dan menyediakan eco-enzyme, ada orang yang membantu mengangkut dan menyaringnya, sementara BPBD menyediakan dukungan untuk melakukan penyemprotan dalam skala lebih besar.
Tindakan tersebut mungkin tidak mampu menyelesaikan keseluruhan persoalan kabut asap. Para relawan yang terlibat pun mengakui bahwa apa yang dilakukan bukan solusi sempurna. Namun semangat untuk tidak hanya menunggu keadaan membaik mempunyai nilai sosial yang penting.
Tahap berikutnya adalah memastikan semangat tersebut bertemu dengan pendekatan berbasis bukti. Setiap metode mitigasi dapat dievaluasi, diukur, diperbaiki, atau dihentikan apabila ternyata tidak efektif.
Dengan cara tersebut, gerakan masyarakat dapat berkembang dari sekadar aksi spontan menjadi bagian dari pembelajaran kolektif menghadapi krisis lingkungan.
Udara Bersih Tetap Membutuhkan Api yang Berhasil Dipadamkan
Penyemprotan eco-enzyme menggunakan mobil pemadam di Balikpapan menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat dan petugas mencoba mencari berbagai cara untuk menghadapi kabut asap. Sejak sore sebelumnya, para relawan menyiapkan cairan, memindahkannya ke beberapa titik, dan membantu proses penyaringan. Pada pagi berikutnya, dukungan BPBD memungkinkan cairan tersebut disemprotkan menggunakan metode spray atau mist.
Harapannya adalah membantu mengurangi partikel dan pekatnya polusi di udara. Namun efektivitas metode tersebut, khususnya terhadap PM2.5 dan komponen asap karhutla dalam lingkungan terbuka, masih perlu diuji secara lebih sistematis sebelum dapat disimpulkan sebagai metode pengendalian polusi yang terbukti efektif.
Hal tersebut tidak mengurangi nilai gotong royong para relawan. Justru keterlibatan masyarakat dapat menjadi lebih kuat apabila dikombinasikan dengan pengukuran kualitas udara dan pendampingan lembaga ilmiah sehingga manfaat setiap intervensi dapat diketahui secara objektif.
Pada akhirnya, penyemprotan udara merupakan tindakan di bagian hilir. Selama api masih menghasilkan asap, polutan baru akan terus masuk ke atmosfer. Karena itu, pemadaman sumber kebakaran, pencegahan karhutla, perlindungan lahan, pengawasan, kesiapsiagaan petugas, dan penegakan aturan tetap menjadi strategi utama.
Aksi relawan dan BPBD di Balikpapan memperlihatkan satu hal yang penting: ketika kualitas udara memburuk, masyarakat tidak hanya menjadi korban pasif. Mereka dapat bergerak, bergotong royong, membantu petugas, dan mencari cara untuk mengurangi dampak. Namun dalam menghadapi polusi udara, kepedulian akan menjadi jauh lebih kuat ketika berjalan bersama ilmu pengetahuan. Setiap ikhtiar perlu dihargai, setiap klaim perlu diuji, dan tujuan akhirnya tetap sama—menghentikan sumber asap agar masyarakat kembali memperoleh udara yang aman untuk bernapas.




